Tauhid dan Perebutan Arah Peradaban

Oleh: Benz Jono Hartono*

Tauhid bukan sekadar konsep teologis — dia adalah fondasi peradaban. Dalam sejarah, ketika umat Islam kuat secara Tauhid, mereka membangun sistem pendidikan, ekonomi, politik, dan budaya yang berpijak pada kesadaran bahwa kekuasaan hanyalah amanah Tuhan. Namun dalam konteks Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, pertempuran tidak lagi berbentuk invasi fisik — dia hadir dalam bentuk infiltrasi ideologis, kultural, dan sistemik. Perang nilai, perang arah, dan perang cara pandang — yang dipersoalkan di sini bukan perbedaan agama, bukan pula pluralitas sosial — yang dibahas adalah fenomena masuknya paradigma hidup yang menjauhkan umat dari tauhid sebagai pusat orientasi kehidupan.

Infiltrasi di Sektor Pendidikan

Netralitas semu, sekularisasi halus, dan pendidikan adalah pintu utama pembentukan worldview. Ketika pendidikan menjauh dari tauhid, lahirlah generasi yang cerdas secara teknis tetapi rapuh secara spiritual. Di banyak kampus dan lembaga pendidikan, agama diposisikan sebagai urusan privat. Nilai moral dianggap relatif. Sains dipisahkan total dari etika ilahiah. Pemikiran materialistik dipromosikan sebagai modernitas. Akibatnya? lahir generasi yang memandang keberhasilan hanya dari indikator ekonomi dan kekuasaan.  Tauhid tidak lagi menjadi poros berpikir, melainkan sekadar ritual mingguan. Ini bukan kebetulan, ini adalah konstruksi paradigma.

Infiltrasi di Sektor Media

Normalisasi nilai anti-sakral, media hari ini tidak lagi sekadar penyampai informasi. Dia adalah pembentuk persepsi – realitas. Ketika: Hedonisme dinormalisasi, pornografi dibungkus hiburan, relativisme moral disebut toleransi, dan kritik terhadap penyimpangan dianggap radikal, maka pelan tetapi pasti nilai sakral dihancurkan. Budaya malu memudar, budaya takwa dianggap kolot. Aktivisme tauhid sering dipelintir menjadi ancaman, padahal Indonesia dibangun di atas sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Infiltrasi di Sektor Ekonomi

Kapitalisme tanpa nurani, sistem ekonomi global yang masuk ke Indonesia bukanlah sistem netral. Dia berbasis pada akumulasi keuntungan tanpa batas. Ketika riba dilegalkan, ketika kesenjangan dibiarkan, ketika korporasi lebih berdaulat daripada rakyat, maka Tauhid sebagai konsep keadilan ekonomi menjadi terpinggirkan. Umat menjadi konsumen, bukan produsen. Menjadi objek pasar, bukan subjek peradaban. Ketergantungan ekonomi adalah bentuk penjajahan moderen.

Ideologi tanpa spiritualitas, politik tanpa Tauhid melahirkan pragmatisme ekstrem. Koalisi bukan berbasis visi nilai, tetapi kepentingan jabatan bukan amanah, tetapi alat transaksi. Keadilan bukan prinsip, tetapi komoditas. Dalam kondisi seperti ini, umat Islam bisa terpecah bukan karena aqidah, tetapi karena perebutan posisi. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kekuatan umat terletak pada kesatuan nilai, bukan keseragaman partai.

Strategi Infiltrasi Halus, Sistemik, dan Jangka Panjang

Gerakan anti Tauhid tidak selalu berbentuk organisasi formal — dia bekerja melalui, Narasi budaya popular, kebijakan regulasi, kurikulum pendidikan, arus investasi global, dan platform digital. Tujuannya bukan menghapus Islam secara frontal, tetapi,mengosongkan maknanya, mengubah orientasinya, dan menjadikannya simbol tanpa daya transformasi. Islam dibuat tetap ada secara statistik. Tetapi lemah secara sistemik.

Tantangan  umat bangkit atau larut? Pertanyaan pentingnya: apakah umat sadar sedang mengalami pergeseran arah? Indonesia memiliki organisasi Islam besar yang memiliki jaringan pendidikan, sosial, dan ekonomi luas. Potensi ini sebenarnya cukup untuk membangun sistem alternatif berbasis nilai Tauhid yang moderat, inklusif, dan berkeadaban — namun tanpa kesadaran kolektif, infiltrasi nilai akan terus berjalan melalui jalur struktural maupun kultural.

Jalan keluar rekonstruksi Tauhid sebagai sistem kehidupan. Solusi bukan pada kemarahan emosional. Bukan pada retorika konspiratif tanpa basis data, bukan pula pada sikap anti-moderen — yang dibutuhkan adalah: Integrasi ilmu dan tauhid dalam Pendidikan, ekonomi berbasis keadilan dan produksi umat. Media alternatif yang bermoral dan proporsional, politik yang menempatkan amanah sebagai inti, dan literasi digital untuk melawan manipulasi narasi. Tauhid harus kembali menjadi landasan etika, kerangka berpikir, dan spirit peradaban.

Perang nilai tidak pernah berhenti — sejarah selalu menunjukkan bahwa peradaban runtuh bukan hanya karena serangan luar, tetapi karena erosi nilai dari dalam. Indonesia tidak sedang diserang secara militer. Tetapi dia sedang diuji secara ideologis. Pertanyaannya bukan siapa yang paling keras berteriak membela agama, melainkan pertanyaannya adalah,  siapa yang paling konsisten membangun sistem kehidupan yang berakar pada Tauhid, adil, cerdas, dan bermartabat?  Karena infiltrasi hanya berhasil jika umat kehilangan kesadaran, dan kesadaran adalah awal kebangkitan.

*Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, dan Executive Director Hiawatha Institute

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, dan Executive Director Hiawatha Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *