NU,Tradisi Tabayun, dan Kembali ke Khitah

Oleh: Kurniawan Zulkarnain*

Hampir satu bulan,umat dan publik disuguhi debat panjang tentang tata-kelola yang dibumbui isu konsesi tambang sebagaimana diungkap media. Idealnya debat panjang NU adalah tentang implementasi Aswaja  sebagai agenda Bahtsul Masail. Agenda rutin para Kiyai Sepuh NU  sambil mengumbar untaian baris perbaris Kitab Kuning.Dengan melibatkan NU struktural non-struktural.

Sejatinya akar tunjang NU berada pada umat yang berlatar masyarakat agraris–petani dan nelayan–yang terikat pada tradisi slametan dan ngelarung –sedekah laut– untuk ngalap berkah alam sebagai wujud terima kasih pada kebaikan Alam Semesta. Tradisi ini merupakan modal sosial bagi umat di pedesaan yang diwariskan dari generasi ke generasi dikalangan petani dan nelayan pada basis NU terutama di Jawa Tengah Jawa-Timur dan sebagian di Jawa Barat.

NU yang mewujud pada sosok para Kiyai di Pondok Pesantren merupakan tempat bernafas para petani dan nelayan ini. Dimana tiap awal tahun ajaran orang tua membawa hasil tani dan nelayan: beras, pisang, dan petai, Ikan sebagai ucapan terima kasih atas asuhan pada anak-anaknya sebagai santri asuhannya. Menyerahkan seluruh nasibnya pada Kiyai selama di Pondok.

NU Rumah Umat

Fondasi rumah NU adalah keihlasan dan kearifan yang ditanam sangat dalam pada jantung Umat oleh KH. Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah — 99 tahun yang lalu. Sepertinya, tiada kerisauan sedikitpun oleh keduanya, bila rumah tidak ada yang merawatnya selanjutnya .Selama 99 tahun,  rumah itu tertata rapi dan terjaga dari tangan jahil. Teduh berdiri kokoh dialam pertiwi jauh dari kebisingan kota seolah menyatu dengan alam.

Rumah itu bagai kumpulan surau dan langgar yang dimalam hari riuh suara sorogan kitab kuning, alunan berjanzi para santri memuji kemuliaan Sang Junjunan Nabi Besar Muhammad — panutan kita. Sementara, dipagi hari tanah lapang tempat lari-lari diselingi canda ria para remaja menuju altar ruang persemaian ilmu agama dan Ilmu Umum.  Dalam prakteknya, Rumah NU bukan hanya tempat para santri menimba Ilmu Agama dan Ilmu Umum, tetapi juga kehidupan bagi orang santri dan masyarakat luas disekitar Pondok.

Rumah NU yang dihuni para Kiyai juga tempat konsultasi umat tentang hidup dan peri-kehidupan mulai cara beragama dan bermasyarakat bahkan cara bertani dan berdagang yang baik. Hubungan NU dengan masyarakat begitu harmonis tanpa sekat.

Kembali ke Pesantren

Mungkin tidak terlintas dalam benak KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah tentang Konstitusi NU dengan pasal-pasal yang pengatur tata-kelola organisasi secara rinci dan rumit — yang tertanam dalam sanubari beliau adalah bagaimana membimbing dan  mencerdaskan umat agar tidak tersesat baik di dunia maupun di akherat kelak dengan  mengamalkan Ajaran Ahli Sunah Wal-Jama’ah (Aswaja), beriringan dengan menebar Cinta Tanah Air.

Kini setelah hampir satu abad Rumah NU yang dibangun dengan tetesan keringat dan air mata secara bertahap telah menjadi rumah yang kokoh. Rumah tempat berteduh puluhan ribu Pondok Pesantren dan Sekolah Islam. Puluhan Universitas, Rumah Sakit, Poliklinik, dan Koperasi. Sebuah kekuatan yang luar biasa untuk menyumbang pada peradaban dan keberlangsungan Nusantara.

Rumah NU sebagaimana pada umumnya rumah tentu terdapat kurang harmonis karena beda pendapat. Berbeda dengan konflik Era KH Idham Khalid, KH Abdurachman Wahid, dan KH.Said Agil Siradj, konflik karena intervensi kekuasaan dan bersifat kultural. Kini pada era KH Yahya Cholil Staquf dan Pj Ketum KH Zulfa Mustafa, karena perbedaan  teknis, namun  berat secara psikologis. Solusinya, masing-masing mundur selangkah, hidupkan tradisi Tabayun mendengar suara lirih Kiyai Sepuh dan kembali ke khitah NU 1926. Wallahu ‘Alam Bi Sowab.

*Konsultan Pemberdayaan Masyarakat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *