Oleh: Renville Almatsier*
Bagaimana saya harus menyambut tahun baru 2026? Mula-mula saya mengecek agenda kegiatan awal di tahun baru yang tinggal hitungan jam ini. Masha Allah — ternyata sudah dipenuhi jadwal BPJS: kapan saya perlu memperpanjang surat rujukan, kapan harus ke rumah sakit untuk cek kesehatan rutin dan mendapatkan obat. Semua urusan diri sendiri. Kok egois amat kedengarannya?
Apakah saya yang selama ini secara berkala mengungkap kepedulian terhadap apa yang ada di sekitar, harus pura-pura cuek pada apa yang terjadi di negeri ini selama tahun yang akan berlalu ? Setelah di penghujung 2024 dikecewakan oleh pemimpin yang dulu saya umbang-umbang, tetapi kemudian berubah tidak terduga, awal tahun 2025 ini saya mulai menaruh harapan besar.
Sesuai janji kampanye, pemerintah baru tampil penuh niat baik. Hendak mengentaskan kemiskinan, koruptor akan dikejar sampai ke ujung dunia, memperbaiki gizi dan pendidikan anak. Ada pula rencana mengangkat koperasi, menghapus utang UMKM dan macam-macam lagi. Pokoknya semua memberi harapan. Apalagi Pak Pemimpin berulangkali menekankan “rela mati terhormat untuk bangsa dan negara”.
Tetapi setelah berjalan beberapa bulan, praktik tidak sejalan dengan janji. Ada pemotongan anggaran. Harapan rakyat pun menipis ditambah lagi ada adegan wakil rakyat berjoged menyambut kenaikan tunjangan mereka.Itu yang memicu amarah rakyat. Demo berdarah pun tidak terelakkan dan .polisi terkena batunya. Gara-gara keteledoran prajurit yang mengakibatkan jatuhnya korban, korps Bhayangkara yang selama ini sudah mencatatkan kinerja buruk, ketiban apes. Dituntut merenovasi diri. Entah kebetulan, dalam waktu hampir bersamaan di berbagai belahan dunia juga terjadi pergolakan. Rakyat turun ke jalan memprotes kesenjangan kesejahteraan akibat korupsi, menuntut hak asasi dan berbagai hal lagi.
Global protest terjadi di Iran, Nepal, Filipina, Bangladesh, Korea Selatan, Perancis, Amerika Latin — dan bahkan juga AS. Menurut Carnegie Endowment for International Peace sampai bulan September tercatat terjadi 159 protes besar di 71 negara diorganisir oleh rakyat melawan pemerintahnya (Kompas, 28 September 2025). Kali ini, aksi rakyat diprakarsai oleh kaum muda bahkan Gen Z. Pemicu aksi masing-masing berbeda. Ada yang karena penutupan platform medsos yang mengkritisi pemerintah, ada yang memprotes perilaku hedon para elite politik dan keluarga, dan entah apa lagi. Tetapi wakil rakyat yang berjoged mungkin cuma ada di sini.
Lalu …terjadilah musibah itu. Mulanya, kita di Indonesia dikagetkan oleh hujan yang turun tiada henti melongsorkan bukit dan mengubur penduduk desa di berbagai daerah di Sumut, Aceh, dan Sumbar. Kemudian disusul oleh banjir bandang yang menggelontor ribuan kubik kayu gelondongan. Kayu-kayu itu adalah hasil penebangan hutan. Mata kita pun melek bahwa begitu luas wilayah hutan dan tambang kita yang sudah tergadai kepada investor. Meskipun ahli mitigasi bencana menyebut penyebab bencana Geohidro meteorologi ini merupakan gabungan dari kondisi geologi Sumatera, anomali cuaca akibat perubahan iklim, siapa yang mau percaya begitu saja? Orang awam pun yakin penyebab utama adalah kerusakan hutan. Ooo..rupanya inilah yang terjadi selama ini.
Sementara tuntutan lama belum terpenuhi dan janji belum terbukti, berbagai kejadian menambah luka di hati. Bertumpuk uang hasil korupsi memang berhasil disita, tetapi pelakunya tak jelas siapa. Hasil Tim Reformasi Polri yang masih ditunggu, kalah cepat dari Perpol No 10/2025 yang menelikung putusan MK. Kesabaran rakyat betul-betul diuji.
Tentu saja kita tidak ingin meniru apa yang terjadi di Nepal atau Iran yang meningkat jadi kerusuhan besar. Setelah mengalami langsung dampak pergolakan tahun 1965-1966 lalu 1998, amit-amit …mudah-mudahan hal itu jangan terjadi lagi deh.
Saya kembali pada kehidupan pribadi….. Persis di hari Natal kemarin, berita duka mengabarkan kepergian seorang teman. Hilangnya seseorang dalam grup pertemanan kami bagaimanapun terasa menyedihkan. Dalam lima tahun terakhir delapan orang rekan telah dipanggil YMK. Artinya, saya diingatkan.
Besok kita sudah masuk tahun baru. Hari-hari berikutnya, saya kembali pada kegiatan rutin. Lho, jadi gimana dong nasib negeri kita? Di mulut, saya bisa bilang EGP, emangnya gue pikirin tetapi hati saya trenyuh. Mungkin kita lebih banyak menilai semua kejadian itu dari sisi kerugian lingkungan, nominal yang dikorupsi dan pat gulipat oknum pengambil keputusan. Kita harus memandangnya dengan kacamata kemanusiaan. Kita perlu kembali menempatkan solidaritas pada dasar kemanusiaan karena mereka yang menderita adalah sesama manusia.
Fisik saya tidak kuat lagi untuk turun ke jalan. Paling-paling saya bisa mengimbau, mengingatkan dan minta perhatian semua yang berkepentingan. Memang cuma itu yang saya bisa…saya tidak berdaya. Selamat datang 2026.
*Pengamat Sosial dan Mantan Jurnalis Majalah Berita Tempo
Editor: Jufri Alkatiri
