Renungan Malem Jemuwah: Mengaktifkan Protokol Anti-penuaan; Keremajaan di Surga (bag-1)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

A. Proses Penuaan

Al-Qur’an membahas proses penuaan sebagai siklus alami yang kembali seperti fitrah-nya (semula ketika masih bayi), ditandai dengan tulang melemah, rambut memutih (uban), dan fisik menurun, menghadapi aging, al-qur’an memberi anjuran sekaligus sebagai pengingat untuk bersyukur, berbuat baik pada semesta, dalam persiapan menuju akhirat, menekankan pengakuan kelemahan fisik dan memuji kebesaran Allah SWT.

Protokol anti-penuaan bukan suatu upaya melatih meningkatkan diri untuk merubah aspek biologi (bio-hacking),  akan tetapi satu upaya pelepasan waktu. Kebanyakan orang percaya penuaan disebabkan oleh berlalunya waktu. Padahal tidaklah demikian; Penuaan adalah respons tubuh terhadap lingkaran waktu identitas yang belum terselesaikan yang tersimpan didalam hati (qalbu) dan pikiran (lubb) yang merupakan tubuh halus dan tercetak ke dalam sistem saraf dari medan elektromagnetik.

Bagian otak yang terlibat dalam respons perilaku dan emosional kita, terutama dalam hal perilaku yang kita butuhkan untuk bertahan hidup: makan, reproduksi dan merawat keremajaan, serta respons fisiologis alami tubuh melawan atau melarikan diri. Tubuh fisik manusia hanyalah tempat terakhir penuaan muncul. Jauh sebelum munculnya kerutan, kelelahan, atau degenerasi, proses penuaan dimulai sebagai materi padat yang tersimpan di-dalam tubuh emosional, tubuh mental, tubuh identitas, tubuh waktu, dan tubuh kausal.

Setiap trauma yang belum diproses; Setiap identitas yang telah ditinggalkan tetapi tidak pernah dilepaskan; Setiap reaksi emosional yang terus kita ulangi; Setiap lingkaran pikiran yang masih berjalan di latar belakang, akan menciptakan kepadatan dalam medan tersebut. Kepadatan itu meruntuhkan koherensi elektromagnetik dari hati dan pikiran di sekujur dan lingkaran tubuh, Dan proses biologi penuaan mengikuti medan tersebut. Inilah mengapa penuaan dipercepat di bawah tekanan, kesedihan, kebencian, dan identitas yang belum terselesaikan; Sel-sel dalam tubuh sejatinya tidak merespons waktu; akan tetapi  mereka merespons sinyal kesadaran. Oleh karena itu; Tubuh kita tidak menua karena waktu; naun menua karena mengulangi  versi diri seperti semula yang sebenarnya sudah berlalu (tidak ada lagi). Versi diri, yang me-rekord dalam  hati dan pikiran yang merupakan server utama yang mengoordinasikan identitas, ingatan, persepsi waktu, dan referensi diri.

Sebuah Sistem server yang memproses rangsangan sensorik, membentuk ingatan berdasarkan pengalaman, dan memicu respons perilaku yang sesuai, berupa kumpulan struktur otak yang terletak di bawah korteks serebral dan di atas batang otak, yang berfungsi mengatur emosi, memori, motivasi, dan perilaku bertahan hidup seperti rasa takut, agresi, serta dorongan seksual.  Komponen utamanya meliputi  amigdala (pemrosesan emosi) dan hipokampus (memori jangka panjang).

Disaat kita berfikir dan merasakan emosi tertentu otak menghasilkan senyawa kimiawi yang disebut neuropeptida. Neuropeptoda ini berfungsi sebagai pembawa pesan dan menyebar ke sel-sel di seluruh tubuh dan mencari reseptor atau  docking station yang sesuai untuk dapat menyampaikan pesan kepada DNA dalam sel. Melalui gen-gen inilah akhirnya dimengerti bagaimana kita dapat memengaruhi kesehatan (penuaan) tubuh melalui kondisi pikiran dan berdampak pada kesehatan fisik, ketahanan fisik dan kesembuhan.

Dalam studi; Kolerasi pikiran negatif beserta dampak yag mengganggu kehidupan manusia: 1. Marah – selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuh mengalami depresi enam jam. 2. Dendam atau menyimpan kepahitan akan menyebabkan imun tubuh kita mati dari situlah bermula segala penyakit, seperti stres, kolestrol, hipertensi, serangan jantung, rematik stroke. 3. Jika kita biarkan diri stres, maka sering mengalami gangguan pencernaan  4.Sering merasa khawatir, mudah terkena penyakit nyeri punggung. 5. Mudah tersinggung cendrung terkena penyakit insominia (susah tidur). 6. Sering kebingungan maka akan terkena gangguan tulang belakang 7. Sering membiarkan diri merasa takut yang berlebihan  maka akan mudah terkena penyakit ginjal.  8. Jika suka bernegatif thinking, maka mudah terkena penyakit dyspepsia (penyakit sulit mencerna).

Setiap kali aktivitas mengulangi postur, emosi, sikap, atau citra diri yang sama, informasi itu ditransmisikan melalui darah, air, oksigen, dan medan elektromagnetik, sehingga menjadi perintah epigenetic yakni  Mengubah cara kerja gen (ekspresi) tanpa mengubah kode DNA, dan seringkali dapat dibalik (reversibel); Penuaan bukanlah entropi (ketidakpastian dan kekacauan dalam keadaan mental individu), namun penuaan  adalah kelebihan ingatan (ingatan negative). (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *