Peran Umat   Islam dalam Geopolitik Abad 21 — Antara Potensi Besar dan Tantangan  Struktural

Oleh: Benz Jono Hartono*

Dunia Berubah Umat Islam harus menentukan posisi

Abad ke-21 ditandai oleh perubahan besar, pergeseran kekuatan global, revolusi teknologi, dan kompetisi ekonomi. Dalam konteks  ini, umat Islam yang tersebar di lebih dari 50 negara memiliki posisi strategis. Negara-negara seperti Indonesia, Turki, Arab Saudi, dan Pakistan memegang posisi penting dalam peta global — namun pertanyaannya adalah, apakah umat Islam hanya menjadi objek geopolitik, atau mampu menjadi subjek yang menentukan arah dunia?

Memiliki Demografi  kekuatan besar yang belum terorganisir,  umat Islam diperkirakan mencapai hampir seperempat  populasi dunia.  Keunggulan ini, memiliki bonus demografi diantaranya:  tenaga kerja besar, pasar ekonomi luas, namun tantangannya, tidak terintegrasi secara politik, fragmentasi negara sering terjadi konflik internal. Jika terorganisir, demografi ini umat Islam, bisa menjadi kekuatan global seperti, Cina dengan populasi besar dan  India dengan tenaga kerjanya.

Sumber daya alam, energi, dan jalur perdagangan sebagian besar cadangan energi dunia berada di negara Muslim: Timur Tengah, Asia Tengah, dan Afrika Utara. Negara seperti Arab Saudi, Iran, dan Qatar memainkan peran kunci dalam energi global. Selain itu, wilayah Muslim menguasai jalur strategis: Selat Malaka dan Terusan Suez — kontrol atas jalur ini memberi leverage geopolitik besar.

Ekonomi Islam — potensi sistem alternatif ekonomi syariah berkembang pesat diantaranya: keuangan Islam, industri  halal, dan    investasi etis  potensinya akan menjadi alternatif sistem kapitalisme  ekstrem. Menarik  investor global, negara seperti Malaysia dan Uni Emirat Arab telah memanfaatkan  peluang ini. Teknologi dan pendidikan  faktor penentu masa  depan. Sejarah menunjukkan peradaban Islam pernah  memimpin ilmu pengetahuan, namun saat ini, ketergantungan teknologi tinggi, investasi riset  rendah. Negara seperti: Turki dalam drone, Uni Emirat Arab dalam AI menunjukkan arah baru.

Kunci masa depan umat Islam: STEM (Science Technology Engineering  Mathematics); Artificial Intelligence, cyber security, . Soft Power budaya, media, dan  narasi global . Pengaruh global tidak hanya militer dan ekonomi, tetapi: film, media sosial. Budaya. Indonesia memiliki potensi besar diantaranya: Islam moderat, demokrasi, dan budaya plural menjadi kekuatan soft power global.

Tantangan utama fragmentasi dan konflik internal

Hambatan terbesar umat Islam adalah: konflik geopolitik antar negara, perbedaan ideologi, ketimpangan ekonomi, dan lemahnya institusi. Tanpa  persatuan minimal, potensi global sulit tercapai. Indonesia sebagai model Masa Depan Indonesia berpotensi menjadi: mediator konflik global, pusat ekonomi halal, ekuatan diplomasi, dan Muslim moderat. Posisi Indonesia itu unik karena: Demokrasi stabil, populasi besar, relatif damai. Jika berhasil, Indonesia bisa menjadi model peradaban Islam abad ke-21.

Dari Objek Menjadi Subjek Geopolitik  Abad ke-21 memberi peluang besar bagi umat Islam karena memiliki: Demografi, sumber daya, dan teknologi — namun kemenangan tidak ditentukan oleh retorika, melainkan oleh: Ilmu pengetahuan, ekonomi, dan diplomasi. Masa depan umat Islam bergantung pada kemampuan membangun kekuatan internal, bukan hanya menghadapi musuh eksternal.

*Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, dan  Executive Director Hiawatha  Institute

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *