Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*
Tidak terasa, hampir setengah bulan puasa kita lalui, tepatnya, hari ini, Senin 02 Maret 2026, memasuki hari ke-12, dan sebentar lagi memasuki hari ke-15 Ramadhan 1447 H. Do’a, dzikir, tahlil, baca Al-qur’an, melaksanakan zakat, infaq, dan shadaqah lainnya — menjadi anjuran bagi semua muslim bahkan menunaikan zakat merupakan kewajiban yang mesti dikerjakan muslim, baik zakat fitrah maupun zakat mal dan penghasilan yang telah cukup nisabnya.
Disamping itu, semua muslim disunnahkan melaksanakan Shalat Sunnah di malam hari, Shalat Tarawih, yang selalu dilaksanakan muslim di seluruh dunia, termasuk muslim Indonesia. Hampir semua muslim, orang tua, dewasa, dan anak-anak berduyun-duyun datang ke masjid, mushalla atau surau untuk mengikuti shalat tarawih berjama’ah.
Di beberapa daerah di Indonesia, ada satu kegiiatan yang kemudian menjadi tradisi yang dilakukan hingga kini, yaitu tradisi qunut dan kupatan di pertengahan Ramdhan. Tradisi ini juga ada pada komunitas masyarakat muslim di Betawi.
Tradisi Qunut dan Kupatan
Belum dikatahui sejak kapan aktifitas itu menjadi sebuah tradisi yang terus dilakukan dan dioertahankan hingga kini. Dari hasil kulikan diperoleh informasi bahwa tradisi ini dilakukan pada masa Walisongo di Jawa, sebagai ungkapan rasa syukur atas segala anugerah yang Allah telah berikan pada kita. Seperti diketahui bahwa pertengahan Ramadhan merupakan waktu yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Pada saat ini, umat Muslim melakukan berbagai tradisi untuk meningkatkan keimanan dan kebersamaan. Dua tradisi yang umum dilakukan adalah Qunut dan Kupatan.
Menurut sejarahnya, Qunut adalah doa yang dibaca saat shalat, khususnya pada shalat Subuh. Sejarah Qunut dapat ditelusuri kembali ke zaman Nabi Muhammad SAW. Menurut riwayat, Nabi Muhammad SAW melakukan Qunut pada shalat Subuh untuk mendoakan kebaikan bagi umatnya. Qunut kemudian menjadi tradisi yang umum dilakukan oleh umat Muslim, khususnya pada pertengahan Ramadhan.
Sementara, Kupatan adalah tradisi memasak makanan khas yang dibagikan kepada tetangga dan keluarga. Sejarah Kupatan dapat ditelusuri kembali ke zaman Wali Songo, yaitu para wali yang menyebarkan Islam di Jawa pada abad ke-15. Menurut riwayat, Wali Songo menggunakan makanan khas yang terbuat dari ketan (ketupat) sebagai simbol kebersamaan dan keimanan. Kupatan kemudian menjadi tradisi yang umum dilakukan oleh umat Muslim di Indonesia, khususnya pada pertengahan Ramadhan.
Makna Qunut dan Kupatan
Qunut dan Kupatan memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Muslim. Qunut adalah doa yang dibaca untuk mendoakan kebaikan bagi umat, sedangkan Kupatan adalah simbol kebersamaan dan keimanan. Kedua tradisi ini juga memiliki makna sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tradisi Qunut dan Kupatan adalah dua tradisi yang umum dilakukan oleh umat Muslim di Indonesia, khususnya pada pertengahan Ramadhan. Qunut adalah doa yang dibaca saat shalat, sedangkan Kupatan adalah tradisi memasak makanan khas yang dibagikan kepada tetangga dan keluarga. Kedua tradisi ini memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Muslim, yaitu sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT dan kebersamaan dengan sesama.
Tradisi ini ada pada hampir banyak daerah, di Banten dan Betawi terus dipertahankan. Meski tradisi kupatan dan qunut merupakan warisan dari zaman para wali, tetap dipraktikkan dan dipertahankan kesultanan Islam di Cirebon dan sektarnya, dan juga kesultanan Banten dan daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Banten, termasuk daerah Betawi. Karenanya, hampir semua madyarakat muslim di daerah berkultur Betawi, selalu menanti kedatangan tanggal 15-17 Ramadhan untuk melaksanakan tradisi Qunut dan makan ketupat usai shalat tarawih dan witir. Mereka makan dan berbagi bersama dengan jama’ah shalat tarawih. Panganan tersebut mereka bawa dari rumah masing-masing untuk dikumpulkan dan dimakan bersama saat eaktunya tiba. Itulah salah satu tradisi positif yang dapat dipergunakan sebagai media dakwah, baik yang dilakukan para wali, terutama Sunan Kalijogo, maupun yang dilakukan muslim Indonesia kini. (*)
*Profesor Sejarah dan Peradaban. Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
