Renungan Dino Jemuwah: Puasa sebagai pintu masuk ke alam kosmik transenden ( bag-2)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

IV. Hubungan Antara Manusia dan Malaikat

Seseorang mungkin bertanya-tanya: mungkinkah mencapai tingkat kemurnian spiritual seperti Malaikat? Bagaimana manusia dapat dibandingkan dengan para Malaikat?  Meskipun Malaikat adalah entitas unik dari alam gaib, dan Allah subḥānahu wa ta’āla  (Maha Mulia dan Maha Tinggi) menciptakan apa yang Dia kehendaki di luar pemahaman manusia, terdapat hubungan intrinsik antara umat manusia dan golongan malaikat; hubungan yang dapat ditelusuri kembali ke penciptaan Adam ‘alayhi’l-salām_(semoga kedamaian menyertainya).

Ketika Allah _subḥānahu wa ta’āla (Maha Suci dan Maha Tinggi)  memerintahkan para Malaikat untuk Bersujud di hadapan Adam adalah pengakuan akan hakikat mulia yang tertanam dalam jiwa manusia; Allah mengajarkan nama-nama benda kepada Nabi Adam, yang tidak diketahui para malaikat. Yakni  pengetahuan _(sciences) tentang asma-sifat, propertis-atribut menjadi dan kausalitas hal in menjadi alasan penghormatan terhadap manuisia.  

Jadi Ilmu pengetahuanlah mengangkat derajat manusia, dan pentingnya kerendahan hati. Hal  ini mengisyaratkan sebagai mahkluk seyogyanya saling menghormati kepada sesama makhluk yang lainnya, tanpa memandang siapa dan seperti apa mahkluk tersebut.  Dan ketika enggan menghormati mahkluk yang lain merupakan bentuk pembangkangan yang disebabkan keangkuhan, iri hati, dan kedengkian. Dan prilaku demikian akan merugikan dirinya sendiri. Lebih dari itu Sebelum Adam menguasai ilmu yang dianugerahkan, Iblis belum diperintah untuk sujud atau menghormatinya.

Iblis diperintah Allah sujud terhadap Adam setelah Allah menganugrahi ilmu terhadap Adam. Ayat ini sebagai unsur keharusan menghormati orang yang berilmu.  Bahkan lebih lanjut dalam ayat selanjutnya Adam dan Hawa ditempatkan Allah di Surga menunjukan isyarat orang berilmu berhak mendapat fasilitas yang lebih baik.

Post modern disimpang jalan — di satu mereka menguasai sciences dan teknologi sehingga diangkat derajatnya, di sisi lain mereka tidak rendah hati menerima warisan dari tradisi ilahi (para penemu ilmu pengetahuan yang bersumber dari kitab) dengan menolak dimensi metafisik ilmu pengetahuan.

Terjadi hal yang sebaliknya pada ummat muslim menolak ilmu pengetahuan untuk memahami (tafsir) hal-hal yang bersifat transcendental dari Tuhan (al-Qur’an). Bahkan mereka (satu golongan) menolak tidak mau menghomati kajian ilmiah ayat-ayat ilahiyah, sebagaimana perilaku iblis menolak menghormati Adam.

Hakikat hubungan manusia dan malaikat, yakni yang mampu mencintai dan mengabdikan diri kepada Tuhan dengan ilmu pengetuhuan dan kerendahan hati saling menghormati. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an: “Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat.’. “Maka apabila Aku telah membentuknya dan meniupkan Ruh-Ku ke dalamnya, maka sujudlah kepada-Nya.” ”Maka sujudlah seluruh malaikat itu.” (QS. Surah Sad/38:71-73) ”Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

V. Puasa: Undangan Ilahi Menuju Peningkatan Spiritual

Sadarkah Anda betapa di dalamnya Allah subḥānahu wa ta’āla (Maha Suci dan Maha Tinggi) menyelamatkan Anda? Dia telah memberi ummat beriman kesempatan untuk merasakan keadaan kesucian spiritual puasa, bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai pengalaman nyata. Kesempatan ini berlangsung selama sebulan penuh, di mana kita menahan diri dari makanan, minuman, dan keinginan mulai fajar hingga matahari terbenam, membebaskan diri dari batasan tubuh.

Makna mendalam ini tercermin dalam hadits suci: “Setiap perbuatan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa—puasa itu untuk-Ku, dan hanya Aku yang akan memberi pahala kepadanya. Dia meninggalkan makanan, minuman, dan keinginannya karena-Ku.” (Sahih al-Bukhari & Muslim)

Melalui puasa, jiwa orang beriman naik, bergabung dengan jajaran malaikat yang bersinar. Namun, perbedaan mendasar tetap ada: sementara malaikat diciptakan dalam keadaan ketaatan bawaan, sedangkan manusia secara sadar memilih disiplin spiritual ini melalui perjuangan dan pengabdian.

Peningkatan kesadaran ini merupakan manifestasi penghormatan ilahi, sebagaimana Allah subḥānahu wa ta’āla (Maha Suci dan Maha Tinggi Dia) berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak Adam, dan Kami telah membawa mereka di darat dan di laut, dan Kami telah memberi mereka makanan yang baik, dan Kami telah mengutamakan mereka atas banyak dari apa yang telah Kami ciptakan, dengan jelas.” (Qur’an Surat Al-Isra’/17: 70).

Oleh karena itu, puasa bukan sekedar tindakan menahan diri, tetapi juga pendakian transformatif, yang mengangkat kondisi manusia melampaui batasan duniawinya. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *