Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
VI. Persamaan Antara Kehidupan Malaikat dan Puasa
Para Malaikat sepenuhnya mengabdikan diri kepada Allah subḥānahu wa ta’āla (Maha Suci dan Maha Tinggi Dia), terlepas dari gangguan duniawi, dan terlibat dalam ibadah tanpa henti. Mereka tidak menyimpang dari perintah ilahi, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang di atasnya terdapat malaikat-malaikat yang keras dan kejam; mereka tidak melanggar perintah Allah, melainkan melaksanakan perintah-Nya. (Qur’an Surah Al-Tahrim/66: 6)
Demikian pula, puasa dimulai dengan penolakan terhadap makanan, minuman, dan keinginan, tetapi hal itu jauh melampaui pantangan fisik ini. Selama sebulan, orang beriman mengalami transformasi internal, menjauhkan diri dari kecenderungan berdosa dan melatih jiwa dalam ketaatan yang cepat terhadap perintah ilahi.
Disiplin puasa menumbuhkan kesadaran spiritual yang tinggi, di mana jiwa melepaskan diri dari semua gangguan kecuali mengingat Allah subḥānahu wa ta’āla (Maha Suci dan Maha Tinggi Dia). Proses ini mencerminkan keadaan malaikat, karena mereka tidak hanya bebas dari fisik Puasa adalah jalan menuju alam gaib (ʿĀlam al-Shahāda), menjembatani kesenjangan antara apa yang diketahui dan apa yang berada di luar persepsi.
Puasa memungkinkan orang beriman untuk menyaksikan manifestasi eksternalnya sekaligus memulai perjalanan metafisik ke alam gaib, mencapai transformasi radikal dalam kesadaran spiritual mereka. Dengan demikian, puasa muncul sebagai teknologi asketis diri yang tidak hanya menyucikan tetapi juga berfungsi sebagai saluran metafisik menuju transendensi. Melalui penyesuaian Ontologis dengan atribut ilahi, diri mengalami proses de-subjektifikasi, memutuskan keterkaitannya dengan krisis epistemik skeptisisme moderen.
Dalam konfigurasi ulang ini, puasa mengarahkan kembali *interioritas* manusia menuju *luminositas* abadi Ilahi, memulihkan landasan metafisik yang menumbangkan diri yang teratomisasi dari modernitas akhir dan merekonstitusi subjektivitas dalam cakrawala yang sakral.
VII. Puasa sebagai Tanggapan terhadap Krisis Subjektivitas Moderen
Di zaman di mana subjektivitas moderen terpecah oleh individualisme yang berlebihan dan kelebihan materi, puasa muncul sebagai tindakan perlawanan radikal, kembali ke tatanan yang lebih tinggi yang melampaui krisis immediacy yang berlebihan. Diri manusia, yang tersesat dalam jurang konsumerisme dan nihilisme, menemukan pembaharuan dalam disiplin puasa, merebut kembali rasa tujuan di luar keinginan yang fana.
Bagi Ibn Arabi, diri orang yang berpuasa berada dalam penyingkapan abadi, cermin yang mencerminkan sifat-sifat ilahi, namun diselubungi oleh gangguan dunia bawah. Puasa, kemudian, bukan sekadar pantang (menahan) tetapi pemurnian Ontologis, penyingkiran ilusi untuk mengungkapkan hubungan primordial diri dengan Yang Ilahi.
Pemurnian ontologis adalah proses filosofis untuk menelaah, menyaring, dan menetapkan hakikat realitas atau wujud yang sesungguhnya (“apa itu ada?”) dengan melepaskannya dari asumsi palsu, khayalan, atau hal-hal non-fisik yang tidak mendasar.
Dengan mencerminkan tatanan Malaikat, puasa mengingatkan kita bahwa kebebasan sejati bukanlah dalam kesenangan tetapi dalam penyerahan diri, karena seperti yang dinyatakan Ibn Arabi, “Ketika jiwa dimurnikan, ia melihat dengan cahaya Tuhan.” Dalam transendensi sadar inilah orang beriman mengorientasikan kembali eksistensi, menjembatani yang terlihat dan yang tak terlihat, dan membangkitkan kembali iman.
Mengakhiri makalah ini dengan beberapa baris indah dari Rumi yang telah saya renungkan berkali-kali dalam perjalanan saya yang sering goyah:
“Datanglah, datanglah, siapa pun dirimu.
Pengembara, penyembah, pencinta kepergian itu tidak penting.
Kafilah kita bukanlah kafilah keputusasaan.
Datanglah, meskipun kau telah melanggar sumpahmu seribu kali.
Datanglah, sekali lagi, datanglah, datanglah.”
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta
Editor: Jufri Alkatiri
