Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
Pengetahuan tentang Ruang adalah Cahaya Allah: Putuskan Hubungan dengan Ruang Keenam yakni Berpikir
Fungsi Lima Indra Terhubung dengan Fatah yakni — pada saat pikiran dan mata terbangun, maka terbuka ruang pendengaran menjadi aktif, mengarah pada persepsi. Ruang untuk mencium, mengecap, dan menyentuh juga menyatu, bergabung dengan ruang berpikir. Kesatuan ini memunculkan persepsi dan pikiran yang jauh, berpuncak pada keadaan Fatah (tersingkap) di mana tubuh melampaui waktu dan jarak.
Pengecualian ruang untuk tidur patut diperhatikan, karena penyertaan ruang tersebut akan mengurangi Fatah, membebani tubuh. Pikiran yang muncul dari konvergensi kelima ruang tersebut melampaui kognisi individu, membentuk suatu bentuk pengetahuan yang melekat pada ruang itu sendiri.
Dalam keadaan Fatah — tersingkap, kekhawatiran, pikiran, dan ingatan pribadi menghilang, memungkinkan persepsi melalui cahaya ilahi dari pengetahuan tentang ruang. Semua orang suci telah berkata, ”Kami telah melihat Allah dari Allah, memahami Allah dari Allah, dan mencapai Allah melalui Allah,” ini artinya kami telah dianugerahkan pengetahuan tentang transendensi.
Pengetahuan tentang ruang dipahami sebagai pencerahan (tajali) pengetahuan. Ketika pengetahuan tentang ruang dilihat dengan mata dan didengar dengan telinga, maka pencerahan disaksikan. Manusia, hewan, dan tumbuhan, semuanya ada dan bergerak di dalam ruang, dan mereka bernapas karena mereka yang terbenam dalam ruang tidak dapat memisahkan tubuh mereka dari ruang, tetapi dengan cara tertentu, mereka bergerak dari dimensi eksternal ruang menuju dimensi internal. Dalam hal ini, Nabi (saw) bersabda, “Mati sebelum mati,” — artinya, Kenali dirimu sebelum kamu mati. (Jerrahi Order of America – the Meaning of Dying Before Dying, n.d.).
Kematian adalah Transformasi dari Penampilan Luar ke Esensi Batin: Setelah kematian, orientasi terhadap akhirat menjadi jelas, artinya seseorang bertransisi dari bentuk fisik ke alam spiritual, yang dikenal sebagai kematian. Jika seseorang menguasai transisi ini selama hidup, rahasia yang terungkap setelah kematian menjadi dapat dipahami. Dengan mengembalikan amanah tubuh dan jiwa kepada Allah sebelum maut menjemput secara fisik, yang sering disebut sebagai latihan mati oleh para sufistik. proses spiritual untuk mematikan ego, hawa nafsu, dan keterikatan duniawi manusia selama masih hidup. Ini merupakan latihan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) untuk mencapai kebebasan sejati, mengenal Tuhan, dan mempersiapkan diri menghadapi kematian hakiki dengan ikhlas.
Kematian:
Aspek batin dari ruang mencakup alam Barzakh (Batasan atau interval antara dua hal, khususnya antara hidup dan mati dalam teologi Islam), Hasyr (Pengumpulan atau kebangkitan jiwa pada Hari Penghakiman dalam kepercayaan Islam), Neraka, Surga, dan Alam Perantara “Dunia Persepsi”, semuanya ada di dalam alam semesta fisik. Kita berbicara tentang banyak tindakan selama hidup, tetapi setelah kematian, ucapan menjadi tidak mungkin karena tubuh yang tidak bernyawa.
Ketidaktaatan dan Rahim sebuah Hubungan Historis dengan Ruang:
Ketidaktaatan dianggap sebagai ruang yang signifikan karena menarik bagi kita dengan manfaat dan kesenangan yang dirasakan, mengarah pada ruang kecemburuan dan ketidakjujuran yang dapat meningkat menjadi konflik yang lebih besar. Ruang melekat dalam keberadaan manusia, terbukti sejak dari rahim (ruang) hingga alam duniawi. Pada awalnya manusia berada di rahim ibu (ruang perempuan) dengan kasih sayang dan relasi yang kuat dengan perempuan yang direpresentasikan oleh sosok ibu.
Waktu terkait erat dengan ruang, di mana setiap ruang memiliki dimensi temporalnya sendiri. Manifestasi waktu dapat diamati melalui kontinum ruang, yang dicontohkan oleh pengalaman melakukan perjalanan kembali berabad-abad. Dalam perjalanan seperti itu, individu menyelami zaman lampau, menjalani dekade demi dekade, namun kembali ke momen saat ini secara instan.
Kedalaman Ruang (Landasan Spiritual): setelah setiap 23 detik Ruang berubah atau bernapas dan perubahan itu disebut Waktu yang menggarisbawahi gagasan bahwa waktu melampaui ruang, dengan setiap domain spasial memiliki identitas temporalnya yang khas. Seperti Ilustrasi “ruang” dalam sejarah Yunani Kuno sebagai peradaban yang pertama kali menerapkan konsep ruang keadilan, dapat dilihat bahwa sudah ada distribusi “ruang” pada laki-laki dan “ruang” perempuan yang tidak bisa dicampur-adukkan. “Ada ruang yang disebut ruang laki-laki, yaitu ruang depan yang harus terbuka aksesnya ke jalan raya; dan ada ruang yang disebut sebagai ruang perempuan, yang sifatnya Rahim adalah kasih sayang menampung bahan makanan.
Jadi, ruang rahim perempuan dari awal adalah ruang untuk memelihara kesejahteraan dan kebahagiaan,” Berdasarkan sejarah tersebut, bisa dikatakan bahwa perempuan diposisikan pada peran untuk mendistribusikan kemakmuran dan keadilan. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
