Renungan Dino Jemuwah : Lailatul Qadar Perjalanan Metafisik dan Asketik, Spiritualisme dan Mistisme; Melampaui Ruang dan Waktu (bag-5)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

Kasus Adam dan Hawa: Turun dari Ruang yang Lebih Tinggi  ke Ruang yang Lebih Rendah

Referensi tentang ketidaktaatan yang muncul dari Adam dan Hawa — mereka tiba-tiba merasakan keadaan mereka yang telanjang, melihat diri mereka sendiri menandakan bahwa bentuk fisik Adam sangat mewakili sebuah ruang.  Sebelum perbuatan durhaka mereka, ciri-ciri bentuk tubuh mereka yang seharusnya tetap tertutup (satar) tidak tampak bagi mereka, dan baru setelah perbuatan durhaka mereka– ruang bentuk tubuh Adam berubah. Ini menyiratkan bahwa Adam turun dari ruang yang lebih tinggi ke ruang yang lebih rendah.

Lebih jauh lagi, Allah menyatakan bahwa “Aku menurunkan Al-Quran pada Malam Lailatul Qadr”, sedangkan wahyu Al-Quran secara lengkap berlangsung selama 23 tahun, sehingga malam itu sama dengan rentang waktu 23 tahun. “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran ini pada Malam Maha Mulia” (Quran, Surah Al-Qadr, 97:1).

Selanjutnya, Allah memanggil Nabi Musa (a.s) selama 30 malam tetapi menempatkannya di Gunung Sinai selama 40 malam, artinya Nabi Musa (a.s) berada dalam “ruang” malam selama 40 hari dan malam. Dalam ruang malam, waktu meluas, sedangkan dalam ruang siang, waktu menyempit.

Menurut spiritualisme, setiap atribut manusia dan nama individu adalah ruang yang mencakup seluruh entitas. Setiap entitas memiliki otak untuk berpikir, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan sistem tubuh untuk merasakan dalam suatu lingkungan, tunduk pada Bumi, dan Bumi itu sendiri adalah ruang yang ukurannya bervariasi.

Masa hidup hewan juga termasuk dalam ruang; Ngengat menyelesaikan hidupnya dalam enam jam, dan ikan Paus, yang sesuai dengan enam jam ngengat, membentang lebih dari seribu tahun. Ular dapat menelan Tikus besar karena tikus itu tampak kecil baginya. Jika Tikus itu tampak sebesar yang tampak bagi manusia, Ular tidak akan berani menelannya. Ini berarti bahwa Tikus itu tidak tampak sebesar yang tampak bagi manusia dan berbagai kasus yang luar biasa mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati seringkali terletak di luar kemampuan fisik, melainkan berada di ranah persepsi, keberanian, dan pengaruh.

Melampaui Ketinggian: Refleksi Spiritual tentang Alam yang Tinggi dan Rendah dalam Al-Quran —  menurut para ilmuwan Sufi, ketika seseorang bertransisi dari keadaan spiritual yang lebih tinggi ke keadaan yang lebih rendah, mereka mengalami peningkatan “Ketakutan’ (ruang). Ketakutan inilah yang mencegah mereka memasuki keadaan spiritual yang lebih tinggi — namun, jika seseorang menolak keadaan yang lebih rendah, mereka dapat memasuki keadaan yang lebih tinggi, yang pada dasarnya adalah kehidupan yang mirip dengan Surga (Jannat) di mana tidak ada rasa takut atau kesedihan.

Al-Quran menyatakan: “Wahai Adam, engkau dan istrimu tinggallah di Surga dan makanlah dari mana pun kalian kehendaki, tetapi janganlah kalian mendekati pohon ini, karena kalian tidak akan termasuk orang-orang yang berbuat zalim” (Quran, Surah Al-Baqarah, 2:35).

Metode yang dianjurkan oleh para nabi untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi (menggapai malam Qadar) meliputi; ketergantungan, kepercayaan, kepuasan, dan kemandirian yang melibatkan keyakinan akan Keesaan Tuhan (Tauhid) dan iman kepada kenabian (Risalah), dan Al-Quran juga telah menyediakan mekanisme untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi.

Dalam Surah An-Nur, Allah berfirman, “Allah adalah Cahaya langit dan bumi.” Analogi cahaya ini seperti sebuah ceruk tempat terdapat lampu, dan lampu itu berada di dalam kaca.Kaca itu seolah-olah adalah bintang yang bersinar, diterangi dari (minyak) pohon Zaitun yang diberkati, bukan dari timur maupun barat, yang minyaknya hampir akan bersinar meskipun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memberikan contoh-contoh bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Quran, Surah An-Nur, 24:35). [3]

Wacana Temporal

Wacana Temporal dalam Tasawuf menyoroti dimensi waktu (kekinian, masa lalu, masa depan) sebagai sarana transformasi spiritual, di mana Sufi fokus pada “saat ini” (waqt) untuk mendekatkan diri kepada Allah. Konsep ini menekankan pentingnya manajemen batin saat ini daripada menyesali masa lalu atau mencemaskan masa depan.

Makna Diri sejati — ketika indra manusia berhenti pada suatu titik, penghentian ini menjadi “suatu hal, objek, atau aktivitas” yang mengambil bentuk. Pada dasarnya, ini adalah momen di mana indra memperoleh tubuh untuk diri mereka sendiri dan mempersepsikan tubuh ini secara eksternal dan internal karena cara melihat tidak mungkin selain ini, bahwa indra melihat diri mereka sendiri secara langsung dan menetapkan diri mereka sebagai entitas terpisah dari diri mereka sendiri. Waktu bukan sekadar kronologis, melainkan sebagai kesempatan (peluang) untuk bersatu secara spiritual dengan Tuhan, yang diterapkan melalui perilaku sehari-hari (tasawuf akhlaki) atau perenungan mendalam (tasawuf falsafi).

Semua gerakan dan aktivitas kehidupan adalah contoh dari cara melihat ini. Ketika indra menyatakan keberadaan mereka dan mengatakan “Aku”, diri sejati ini benar-benar kosong dan jernih. Seolah-olah indra tidak menunjukkan citra mereka tetapi lebih mengingatkan pada entitas tanpa warna, hanya sebuah garis luar.

Sejalan dengan teori kuantum yang merombak konsep waktu linier klasik menjadi lebih dinamis, di mana waktu dapat bersifat probabilistik, bercabang (paralel), atau bahkan tidak fundamental. Konsep ini melibatkan probabilitas kejadian di mana semua kemungkinan masa depan bisa terjadi secara bersamaan hingga pengukuran dilakukan — yang menandai pergeseran dari kepastian ke kebebasan kuantum. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *