Renungan Malem Jemuwah (Riyoyo): Lailatul Qadar Perjalanan Metafisik dan Asketik, Spiritualisme dan Mistisme — Melampaui Ruang dan Waktu (bag-6)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

Mekanisme Gerakan Ganda

Dalam ranah persepsi sensorik, diri kita menegaskan kehadirannya melalui pernyataan seperti “Saya mengatakan ini”, atau “Lihatlah bulan dan bintang ini” berfungsi sebagai agen kedekatan dan jarak yang terlibat dalam dialog berkelanjutan.  

Awalnya tanpa konflik, pernyataan-pernyataan ini secara bertahap berubah menjadi argumen, yang mewakili evolusi waktu. Dengan demikian, dalam satuan waktu ini, sensasi membentuk narasi diri dan interaksinya dengan dunia luar di bawah dua agen: satu adalah indra, yang lain adalah argumen indra, sementara kedua agen ini adalah satuan yang sama, dan satuan ini adalah waktu sebagaimana menurut Al-Quran: “Telah berlalu masa yang sangat panjang bagi alam semesta tanpa ada wujud manusia di dalamnya; yaitu ketika manusia belum diciptakan, sehingga mereka belum ada dan belum dikenal. (QS. Insan/76: 1). “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)” (QS. Al-Imran/3: 27).

Dalam ranah indrawi, malam dan siang menawarkan pengalaman yang kontras mengenai jarak spasial dan temporal. Selama aspek indrawi malam, jarak tersebut menghilang, terbukti dalam mimpi di mana pemisahan geografis berhenti ada. Demikian pula, jarak temporal runtuh, seperti yang terlihat dalam mimpi di mana perjalanan panjang terjadi dalam periode singkat.  Sebaliknya, dalam aspek indrawi siang hari, jarak-jarak ini muncul kembali. Mimpi melambangkan fenomena ini, menghapus batas spasial dan temporal, hanya untuk mengembalikannya di saat terjaga.

Hukum Cahaya: Persepsi vs. Arah

Al-Quran mencerminkan petunjuk ini, menggambarkan interaksi antara malam dan siang, di mana keduanya menyatu dan hidup berdampingan, mewakili berbagai jarak dan keadaan kesadaran.  Ranah indrawi malam selaras dengan konsep Lawh mahfudz Tablet yang Terpelihara (Kitabun Mubin). Sementara dalam ranah indrawi siang hari sesuai dengan  Kitab Tertulis (kitabun marqun)_ terlepas dari perbedaan  kedua ranah tersebut memiliki kesamaan yang diamati di alam ketika dua individu yang duduk di bawah cahaya lampu merasakan cahaya melalui medium bersama ini.

Cahaya, yang beroperasi dua arah, memungkinkan persepsi timbal balik di antara mereka karena, meskipun arahnya berbeda, sumber cahaya tetap konstan, menunjukkan sifat tunggalnya. Dengan demikian, sementara persepsi dikaitkan secara individual kepada masing-masing, cahaya yang mendasarinya tetap tidak berubah. Ini menggarisbawahi hukum fundamental bahwa pergeseran perspektif tidak terletak pada cahaya itu sendiri tetapi pada sudut pandang pengamat.

Titik pusat pengamatan adalah entitas pengamat. Ini adalah entitas yang sama yang terhubung dengan esensi Yang Mahakuasa. ayat; “Kami lebih dekat kepada mereka daripada urat leher mereka”(QS. Al-Qaf/50: 16), merupakan pengingat akan hubungan ini.  Allah menggunakan kata  — Kami yang berarti bahwa Allah, secara berlimpah, mengaitkan Diri-Nya dengan esensi setiap individu; identitas unik setiap individu ditetapkan karena alasan ini.

Mekanisme atau Martabat: Landasan Inti Bilokasi Pusat cahaya adalah lampu yang sama, satu-satunya variasi adalah dalam ekspresi A dan B karena cahaya yang sama di A adalah bayangan dari Kehidupannya, dan di B, itu adalah citra B.  Dalam Sufisme, konsep ini mirip dengan “Martabat” yang diterjemahkan menjadi “Mekanisme”, yang mewujudkan berbagai manifestasi yang diamati pada individu maupun entitas alam.

Mekanisme ini berputar di sekitar unit fundamental yang disebut manifestasi, yang berputar berpasangan dan menggerakkan semua dimensi. Al-Quran merujuk pada gerakan ganda ini sebagai tabrakan, yang menyiratkan keberadaannya di setiap dimensi. Gerakan manifestasi ini membentuk ruang, merangkum berbagai bentuk di dalam alam semesta. Pengamat merasakan urutan yang terstruktur, yang mengarah pada kesadaran akan pengulangan, yang penting untuk membentuk kedalaman kesadaran yang disebut jarak spasial.

Setiap partikel, dari atom hingga hamparan kosmik, mewakili ruang, dengan setiap pembagian dan subdivisi yang ada di dalam ranah titik hitam. Perspektif kedua dari titik hitam telah dijelaskan dari perspektif yang kontras dengan pengamatan yang telah disebutkan sebelumnya. Dalam perspektif ini, kedalaman titik hitam begitu dalam sehingga perspektif pertama tidak dapat sepenuhnya memahami luasnya, namun, mempertahankan pemahaman uniknya.

Martabat sebenarnya pengembangan dan penafsiran ulang konsep tajalli (penampakan diri) Tuhan melalui martabat (tahapan atau mekanisme), Semua bentuk-bentuk alam menerima cahaya Allah sesuai dengan kapasitas persiapannya, mirip dengan penerimaan cahaya bagi suatu pojok rumah yang datang dari sumber cahaya (siraj), semakin dekat ke siraj semakin banyak dia menerima cahaya

Lailatul Qadr (Malam Ketetapan)

Pemahaman ini adalah apa yang Allah SWT sebut sebagai Lailatul Qadr; “pemahaman waktu”; satuan waktu minimum, mungkin bahkan lebih kecil dari satu detik yang dapat kita bayangkan. Di sisi lain, ini adalah jeda yang panjang yang dapat dianggap sebagai tonggak dalam pemikiran manusia baik dari segi pemahaman maupun atribut titik hitam.

Pengamatan mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar termasuk insiden bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Gunung-gunung itu adalah perwujudan jutaan tahun tersebut, dan satu detik saja menyebabkan kehancurannya.  Demikian pula, pecahan detik yang sangat kecil, dari keabadian hingga keabadian, ada dalam lingkup titik hitam. Namun, persepsi yang kita gunakan tidak dapat mengamati pecahan detik tersebut.

Kesadaran yang mampu merasakan sepersekian detik disebutkan dalam Surah Al-Qadr: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Para malaikat dan Ruh turun pada malam itu dengan izin Tuhan mereka untuk segala urusan. Malam itu penuh kedamaian hingga terbitnya fajar.” (Quran, Al-Qadr, 97: ](5-18]

Malam Lailatul Qadr adalah malam di mana persepsi turunnya titik hitam terjadi. Persepsi ini, dibandingkan dengan kesadaran biasa, 70 kali lebih intens atau bahkan lebih besar, karena satu malam melampaui seribu bulan dalam signifikansinya. Melalui persepsi ini, seseorang dapat mengamati rahasia penciptaan, para malaikat, dan urusan mereka.

Dalam Sufisme, persepsi ini disebut sebagai Fatah di mana seseorang mengalami dan memahami hal-hal dari pra-kekal hingga kekal dalam keadaan kesadaran yang tinggi. Orang-orang dari Administrasi Ilahi merasakan dan menyaksikan tanda-tanda surgawi di jarak terjauh alam semesta dan menyaksikan pembubaran fenomena alam.

Nabi Isa Alaihi Salam bersabda: “Allah berfirman, “Cahaya,” maka terjadilah cahaya”, Allah berfirman, “Jadilah cahaya,” maka terjadilah cahaya.  Dalam redaksi Al-Quran, kun fayakun_ “Jadilah, dan terjadilah” (Quran, Surah Ya-Sin, 36: 82). Membaca kata-kata dalam sebuah buku sama seperti membaca cahaya; pemahaman dan interpretasi kita menerangi ranah kejadian, yang mengarah pada pemahaman tentang waktu dan ruang.

Menurut pengamatan astronomi, cahaya bergerak dari bintang-bintang yang jauh, membutuhkan jutaan tahun untuk mencapai kita, menggarisbawahi sifat kuno dari momen kita saat ini, sementara pembagian waktu yang didorong oleh persepsi, yang disebut “ruang”, merangkum peristiwa kosmik dalam satu momen tunggal, membentuk pemahaman kita tentang keabadian.

Rahasia Metafisika Bilokasi

Menurut interpretasi Al-Quran ini, Allah telah mengungkapkan malam ketetapan (lailatul Qadar) dengan rahasia spasialitas dan temporalitas. Ada tiga mode dalam keberadaan sesuatu: satu adalah Keadaan Yang lainnya adalah Dampak (ahkaam), dan yang ketiga adalah kombinasi dari kedua mode ini, yang disebut Ketetapan (atsar). Ketika sesuatu ada dalam dua jenis, artinya ia memiliki dua aspek yang saling bergantung satu sama lain.

Meskipun alasan saling ketergantungan mereka adalah perbedaan kualitas (seperti aktif dan pasif atau, diketahui dan tidak diketahui), yang membuat kedua aspek ini sepenuhnya berbeda satu sama lain, kombinasi dari kedua aspek ini disebut keberadaan sesuatu dan ketika kedua aspek ini bersama-sama, kesatuan mereka menjadi nyata.

Satu aspek dari suatu hal adalah yang merasakan, artinya ia peka (merasa), dan aspek lain dari hal tersebut adalah apa yang dirasakan. Dalam Sufisme, aspek dari sesuatu yang dirasakan disebut “Ahwal” (keadaan), dan aspek dari sesuatu yang dirasakan disebut akibat; nama gabungannya adalah “Ahkam”_ (Ketetapan).

Dalam bahasa agama, ini disebut (perintah Tuhan). Dengan demikian, perintah Tuhan (amri rabbi) memiliki dua aspek atau dua komponen. Satu aspek adalah “Ahwal” yang merupakan pengenal atau pengguna kualitas dan kemampuan, dan aspek lainnya, yang dikenal sebagai “perasaan” adalah kualitas dan kemampuan itu sendiri. Meskipun saling terkait, kedua komponen ini berbeda satu sama lain.

Pada dasarnya, perbedaan ini adalah tindakan yang disebut Zaman (Waktu) dari satu perspektif dan Makan (Ruang) dari perspektif lain, mengikuti terjadinya dalam batas dan pemahaman pikiran. Ketika tindakan ini terjadi dalam batas persepsi dan pemahaman, itu disebut “Zaman” (waktu/time), dan ketika terjadi dalam batas bentuk dan penampilan, itu disebut “Makan” (ruang/space).

Allah mengatur dimensi spasial dan temporal penciptaan, sebagaimana ditunjukkan oleh interaksi antara kebutuhan spiritual dan unsur-unsur fisik seperti air. Keberadaan fenomena di alam perantara, yang menghasilkan waktu dan ruang, bergantung pada manifestasinya di Dunia nyata bukan di Dunia

Jiwa (ruh) di mana entitas hanya ada sebagai perintah yang kompleks dan tidak bergerak lebih lanjut menunjukkan bahwa alam waktu dan ruang, meskipun saling terkait, berbeda, analog dengan dua sisi selembar kertas. Dualitas ini diilustrasikan melalui perjalanan hidup seseorang, di mana jarak temporal yang ditempuh dari lahir hingga kematian, yang ditandai oleh pengalaman, pada dasarnya mendefinisikan eksistensi spasial mereka dan dalam ranah itu, eksistensi suatu objek hanya sebagai perintah kompleks (Amr al-Mushkil), bukan sebagai perintah bergerak (Amr al-Mutharik).

Oleh karena itu, ranah eksistensi dimulai di mana “Waktu” dimulai. Menurut Sufisme, waktu juga merupakan sejenis cahaya (kuantum), yaitu merupakan hasil dari keterikatan kuantum (entanglement) antar sistem. Dalam pandangan ini, ruang-waktu adalah fenomena darurat (emergent) yang muncul dari interaksi, sementara sistem yang tidak terentangle menganggap alam semesta beku.

Sedangkan Ruang merujuk pada dimensi eksistensi yang  paada dasarnya, adalah gerakan yang bergerak dari keabadian (azali)  ke keabadian (abadan). Malaikat, Jin, dan dunia mereka adalah jejak yang merupakan bagian dari struktur waktu, tetapi dunia materi dan manifestasinya adalah hasil dari struktur ruang. Gerakan akhir dari “Ruang” disebut Zaman (Waktu) atau Singular.   Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Bathin. (habis)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *