Oleh: Toto Izul Fatah*
Arogansi, kepongahan, kata-kata kasar dan syahwat mengadu domba itu akhirnya harus berujung dengan rapot yang jeblok. Donald Trump — sang pembuat onar dunia itu kini harus menerima kenyataan pahit dihukum warganya dengan nilai yang buruk. Dalam survei terbaru Reuters/Ipsos, approval Trump turun ke 36 persen terendah sejak dia kembali ke Gedung Putih. Lebih buruk lagi, approval atas penanganan ekonomi yang tinggal 29 persen sedangkan untuk biaya hidup hanya 25 persen.
Angka-angka itu penting bukan semata karena rendah, melainkan karena letak kerusakannya. Trump sedang tidak jatuh pada isu pinggiran. Dia sedang merosot justru pada fondasi utama yang selama ini menjadi sumber tenaga politiknya: ekonomi, biaya hidup, dan citra kepemimpinan yang katanya tegas. Jika seorang pemimpin populis mulai kehilangan kepercayaan publik di titik yang dulu menjadi senjata utamanya, maka itu bukan sekadar fluktuasi elektoral. Itu pertanda erosi legitimasi.
Belajar dari pengalaman — saya melakukan ratusan kali survei di LSI Denny JA, figur calon kepala daerah atau bahkan calon presiden yang punya trend turun, apalagi turunnya drastis, biasanya tidak mudah untuk bisa rebound. Kecuali, ada program yang selama ini dikenal sebagai program abnormal seperti money politic dan bentuk kecurangan lainnya. Namun, dalam kontek AS sebagai negara dengan tingkat pendidikan warganya yang sudah lebih maju dan moderen, pendekatan program abnormal seperti itu mungkin sulit untuk menjadi obat mujarab.
Donald Trump, sebenarnya Presiden AS yang cukup fenomenal dan kontroversial — tampil sebagai presiden yang bermodal keyakinan bahwa dirinya “pemecah kebuntuan”. Dia membangun aura bahwa ketika elite lama ragu, dia berani bertindak; ketika birokrasi bertele-tele, dia mengambil keputusan. Masalahnya, publik tidak hidup dari aura. Publik hidup dari harga bensin, cicilan rumah, ongkos kesehatan, harga pangan, dan rasa aman tentang hari esok.
Ketika perang dengan Iran memukul harga energi dan menambah kecemasan ekonomi, maka yang tergerus bukan hanya dukungan politik Trump, melainkan juga mitos tentang efektivitasnya. Reuters melaporkan bahwa 55 persen warga Amerika mengatakan keuangan rumah tangga mereka sudah terdampak oleh kenaikan harga bensin, dan 87 persen memperkirakan harga bensin akan terus naik. OECD bahkan memperingatkan inflasi AS bisa mencapai 4,2 persen pada 2026 jika konflik Iran berlarut, sementara pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan melambat ke 2,0 persen pada 2026 dan 1,7 persen pada 2027.
Hari ini, Trump bukan hanya sedang menghadapi penurunan popularitas. Dia sedang menghadapi krisis narasi. Selama bertahun-tahun menjual diri sebagai pemimpin yang tahu cara membuat Amerika menang, kaya, aman, dan ditakuti lawan. Namun dari survei Reuters/Ipsos, 61 persen warga Amerika menolak serangan AS terhadap Iran, dan 46 persen justru menilai konflik itu akan membuat Amerika kurang aman. Dengan kata lain, perang yang mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan ketegasan malah dibaca publik sebagai beban, bukan prestasi.
Trump masih harus belajar banyak tentang teori politik kekuasaan, bahwa ketegasan tanpa arah strategis mudah berubah menjadi terkesan nekat. Pemimpin boleh keras. Pemimpin boleh agresif tetapi publik tetap ingin tahu satu hal: untuk apa semua ini? Kalau jawabannya kabur, maka setiap ledakan di luar negeri akan diterjemahkan sebagai kecemasan baru di dalam negeri. Kekuatan yang tidak menghasilkan rasa aman akan berhenti dipandang sebagai kekuatan — berubah menjadi risiko.
Trump kini terjebak dalam paradoks yang diciptakan sendiri — terlalu lama membangun politik sebagai pertunjukan dominasi, sampai-sampai dia seperti lupa bahwa seorang presiden tidak dipilih untuk sekadar terlihat kuat, tetapi untuk membuat rakyat merasa hidupnya lebih tertata. Dalam fase oposisi, gaya konflik bisa menjadi aset. Dalam fase memerintah, gaya yang sama bisa menjadi liabilitas. Sebab negara tidak dikelola dengan sorak-sorai rapat umum, melainkan dengan stabilitas harga, kejelasan kebijakan, dan kemampuan meredam kecemasan publik.
Turunnya survei Trump harus dibaca sebagai peringatan keras bahwa basis loyal tidak cukup untuk menopang seorang presiden dalam jangka panjang. Basis fanatik memang bisa bertahan tetapi pemilih independen dan pemilih pragmatislah yang menentukan apakah seorang pemimpin masih dianggap layak atau tidak.
Tidak kalah penting untuk dibaca dari hasil survei terbaru Trump itu adalah bahwa publik Amerika mulai memindahkan penilaian mereka dari pertunjukan ke akibat. Dari slogan ke biaya. — dari emosi ke tagihan. Itu sebabnya penurunan ini harus dianggap serius. Trump mungkin masih bisa memobilisasi kemarahan, tetapi belum tentu lagi bisa mengonversinya menjadi kepercayaan — dan politik tanpa kepercayaan hanya akan menghasilkan kegaduhan, bukan kepemimpinan.
Dalam kontek Indonesia, kasus kemerosotan Trump ini layak untuk menjadi rujukan pembuka mata penguasa. Bahwa dalam demokrasi, pemimpin yang terlalu percaya pada pesona personal biasanya lambat menyadari kapan pesona itu mulai hangus. Mereka mengira publik akan terus memaafkan segala ketidakpastian dan kekacauan selama bahasa tubuhnya tetap mampu meyakinkan. Padahal rakyat punya batas. Mereka mungkin menikmati retorika keras di televisi, tetapi tidak akan menikmati harga bensin yang naik, ongkos hidup yang membengkak, dan ketidakpastian ekonomi yang makin menghimpit.
Reuters mencatat bahwa penilaian publik atas biaya hidup merupakan titik paling lemah Trump saat ini, dan justru itu isu yang paling dekat dengan pemilih. Bila Trump tidak segera mengubah arah, maka survei-survei buruk ini bisa menjadi bencana elektabilitas dirinya yang tidak mungkin dikasih ruang lagi oleh warganya untuk dipilih.
Masih adakah peluang Trump untuk membalikkan keadaan. Dalam kontek gonjang ganjing dunia yang tidak mudah diraba, rasanya tidak mudah buat dia untuk berjaya. Mungkin ini akhir dari karir Trump yang berujung Suul Khotimah, bukan Husnul Khotimah. Ini karena bukan saja tangan Trump yang berlumurah darah, tetapi karena kebijakannya yang makin membuat rakyatnya susah. Dalam karir politik Trump, mungkin ini bukan hanya benih kejatuhan paling sunyi, tetapi juga paling mematikan. Semoga Trump bertaubat.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
Editor: Jufri Alkatiri
