Perang Timur Tengah, Perspektif  Clausewitz, Sun Tzu, dan Ahli Geopolitik

Oleh: Kurniawan Zulkarnain*

Dalam perkaderan HMI dikenal seorang Mentor Senior yakni Dahlan Ranuwihardjo,SH panggilan akrabnya Mas Dahlan spesialis Materi Taktik dan Strategi. Dalam ulasannya, beliau kerap mengutip dua ahli perang yaitu Clausewitz dan Sun Tzu. Clausewitz nama lengkapnya Carl Philipp Von Clausewitz lahir 16 November 1831 — adalah seorang Jenderal dan teoritikus perang Prusia.Karya Utamanya “On War”, dalam buku tersebut dia mengatakan bahwa perang adalah kelanjutan dari politik dengan cara kekerasan dan perang itu sendiri merupakan fenomena sosial yang penuh ketidak pastian. Tujuan perang ditentukan oleh politik,bukan oleh militer murni: kebijakan negara yang menentukan seberapa besar konflik dilanjutkan atau dihentikan.

Clausewitz — menggambarkan perang sebagai tiga elemen yang saling berhubunggan: negara-pemerintah (politik/kebijakan),komando dan militer (kemampuan militer), dan rakyat (semangat nasional,kebencian dan keinginan berperang). Ketiganya bergerak dinamis dan saling memengaruhi, sehingga tidak hanya dilihat dari sisi teknis militer semata. Selanjutnya, Clausewitz menekankan bahwa perang selalu penuh ketidakpastian, desas-desus, dan informasi yang tidak lengkap (fog of war), ditambah gesekan antara rencana diatas kertas dengan realitas dilapangan. Elemen-elemen pokok dalam perang: perencanaan strategis, kepemimpinan, instuisi, serta keberanian membuat keputusan dibawah tekanan merupakan masalah kritis.

Tokoh lain yang sering diulas  Mas Dahlan adalah Sun Tzu — seorang Jenderal ahli militer, filsuf, dan penulis kuno Tiongkok dari periode Zhou Timur (sekitar abad ke 6-SM). Dia terkenal sebagai pengarang The Art of War (Seni Perang) — sebuah kitab strategi militer klasik yang masih relevan hingga kini. Yang menjadi rujukan bukan hanya militer tetapi juga bisnis,politik dan kepempinan. Gagasan pentingnya antara lain:1.Strategi terbaik adalah mengalahkan lawan tanpa perang terbuka. 2. Jika kamu mengenal dirimu dan musuhmu, kamu tidak perlu takut pada hasil dari seratus pertempuran. 3.Strategi harus menyesuaikan dengan situasi tidak kaku (fleksibilitas dan adaptasi). 4. Spionase, informasi, dan taktik psikologis sangat menentukan kemenengan.

Perang Timur Tengah,Perspektif Media dan Para Ahli

Catatan   dari media dan para ahli tentang  Perang Timur Tengah dapat diringkas sebagai berikut:  Perang Timur Tengah (antara AS-Israel dengan Iran ada kaitannya dengan bahkan kelanjutan dari  Perang 12 hari antrara Iran dan Israel yang dipicu serangan udara Israel pada 13 Juni 2025 yang menarget fasilitas nuklir Iran sebagai tindakan pencegahan.22 Juni 2025, AS ikut terlibat dengan serangan ke sejumlah situs nuklir Iran, hal ini memperluas konflik menjadi konflik Internasional yang melibatkan Israel, AS dan Iran secara langsung. Selanjutnya tanggal 28 Februari 2026, AS menyerang Iran dengan operasi militer yang terkordinasi dengan Israel, dengan alasan utama untuk menekan program nuklir dan rudal balistik Iran serta mengurangi ancaman militer terhadap AS dan sekutunya di Timur Tengah.

Alasan untuk menekan  program nuklir dikritik  oleh Prof. Jeffrey D. Shachs — seorang ekonom terkemuka dari Columbia University. Menurut pandangannya, konflik ini bukan semata-mata soal program nuklir Iran,melainkan perebutan hegemoni regional oleh Israel dan dominasi global AS di Timur Tengah. Selanjutnya Sachs menyoroti bahwa serangan AS dan Israel bersifat premeditasi (direncanakan) bukan respons terhadap ancaman mensesak. Sachs juga menegaskan negoisasi kesepakatan nuklir sedang berlangsung saat serangan terjadi, sehingga narasi “ancaman nuklir’  hanyalah kedok untuk agenda politik. Masih menurut Sachs ,inti permasalahannya adalah ambisi Israel untuk hegemoni Israel, didukung oleh kebijakan AS yang selaras dengan kepentingan Israel selama puluhan tahun.

Pengamat lainya yaitu Prof. Jiang Xueqin– seorang pengajar Sejarah dari Beijing membuat prediksi kontroversial tentang konflik Timur Tengah. Dia memprediksi tiga hal sejak Mei 2024 — Donald Trump terpilih kembali (terbukti), AS menyerang Iran (terbukti via Operation Epic Fury pada 28 Februari 2026), dan prediksi ketiga yang belum terbukti adalah AS akan kalah total dari Iran — mengubah tatanan dunia. Adapun alasan kekalahan AS, mengingat tofografi pegunungan Iran yang sulit untuk invansi darat, demografi penduduk yang kuat, penutupan Selat Hormuz yang dapat melumpuhkan ekonomi global (terutama Negara-negara Teluk).  Prof. Jiang menyebut militer AS tidak dirancang untuk perang Abad 21 dan Iran melihatnya sebagai perang agama yang berkepanjangan.

Tiga Elemen Perang Timur Tengah, Perspektif Clausewizt,  dan Sun Tzu

Tiga elemen perang yang saling berhubungan: negara, militer, dan rakyat. Dari perfektif Clusewizt ini — perang akan dimenangkan oleh negara yang mampu mengkonsolidasikan tiga elemen tersebut. Pertanyaanya dari dua negara, mana yang lebih solid AS atau  Iran?  Prof. Sachs mengkritik kesiapan AS yang terlibat dalam eskalasi konflik dengan Iran atas desakan Israel. Dia menyatakan bahwa AS tidak punya kepentingan nasional untuk berperang dan strateginya mencerminkan perang hibrida yang gagal. Sementara itu,Prof. Jiang mempridiksi Iran unggul, karena strateginya, sedangkan  taktik lama AS tidak efektif terhadap pola perang Iran di Timur Tengah,  Dia menilai konflik ini bisa mengubah tatanan dunia dengan keunggulan Iran.

Elemen kedua, menurut Clausewizt adalah kesiapan persenjataan militerm Prof Jeffrey dan Prof.Jiang berpandangan sama bahwa AS memiliki keunggulan mutlak dalam anģgaran militer (sekitar $800 milyar/tahun), kapal induk, jet tempur F-35, dan sistem pertahanan seperti patriot yang membuat dominan dalam perang konvensional. Iran dengan anggaran lebih kecil (sekitar $10 miliar), fokus pada drone murah (seperti Shahed harga $20.000 per unit vs $ 1 juta untuk misil penangkal AS), rudal balistik, dan basis bawah tanah di pegunungan yang sulit ditembus invansi darat. Secara khusus,Prof. Jiang menganalisis strategi Iran seperti “benteng gunung” ini membuat perang berkepanjangan dan mahal bagi AS dan biaya pertahanan AS menguras anggarannya. Disamping itu, Iran memiliki kekuatan proxy yaitu Hisbullah, Hamas,  dan Houthi.

Elemen ketiga yang juga penting adalah dukungan rakyat — Prof Jiang berpendapat Iran memiliki dukungan rakyat terhadap rezim dalam menghadapi ancaman dari luar. Embargo selama 4 dekade oleh AS dan sekutunya yang membuat rakyat Iran mandiri, patuh, dan loyal kepada pemimpinnya serta membangun dan mengembangkan beragam inovasi teknologi. Di sisi lain,  rakyat AS terhadap perang di Timur Tengah ini sangat rendah,khususnya terkait eskalasi konflik dengan Iran.

Survey terbaru menunjukkan hanya sekitar 25-27 persen  rakyat AS yang menyetujui serangan militer AS ke Iran. Secara nasional 43 persen responden menolak operasi tersebut,sementara 29 persen  belum yakin. Dukungan lebih tinggi dari kalangan Partai Republik (55 persen).Berbeda dengan Partai Republik, Partai Demokrat sangat menentang, dengan hanya 7 persen dukungan dan 74 persen penolakan. Banyak warga AS menilai Presiden Trump terlalu agresif dalam penggunaan kekuatan militer (56 persen).

Salah satu strategi perang yang ditawarkan Sun Tzu adalah “Jika kamu mengenal diri dan musuhmu  –kamu tidak perlu takut pada hasil seratus pertempuran”. Strategi Sun Tzu ini  rupanya dipakai Iran dengan mengembangkan perang Asimetri melalui rudal dan drone murah serta kekuatan proxinya, ditambah perang berkepanjangan (atrisi) untuk menguras sumberdaya ekonomi AS dan Israel. Perkembangan akhir-akhir ini dapat dicatat berubah-ubahnya Trump tentang target, strategi, dan tenggak waktu penyerangan selat Hormuz. Rencana pendaratan pasukan Marinir ke Iran merupakan pernyataan terbaru Trump, mungkin ini yang oleh Clausewizt  disebut dengan  fog of war  — taktik desas-desus, spionase, dan ketidakpastian. Tanggal 30  Maret 2026 ini — perang telah berlangsung  4 Minggu lebih dan  belum ada tanda-tanda akan usai. Akankah 8 Juta warga AS yang sedang turun ke jalan yang akan mengakhirinya? Wallahu’alam Bi Sowab.

*Konsultan Pemberdayaan Masyarakat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *