Keteguhan Iran Melawan AS-Israel Membangkitkan Martabat Dunia Islam

Oleh Satrio Arismunandar*

Memasuki bulan kedua konflik besar yang mengguncang kawasan Timur Tengah pada 2026 ini, peta sejarah sedang ditulis ulang dengan tinta keberanian yang tidak terduga.  Selama puluhan tahun, dunia Islam seolah hidup dalam bayang-bayang trauma dan rasa rendah diri mendalam — namun hari ini, narasi itu patah. Perlawanan gigih Iran terhadap gabungan kekuatan Amerika Serikat dan Israel bukan sekadar berita di media – melainkan adalah fajar baru bagi harga diri umat Muslim di seluruh dunia yang telah lama merindukan tegaknya keadilan.

Sejak awal abad ke-21, dunia Islam sering kali merasa berada di bawah bayang-bayang kekuatan besar yang tidak tertandingi. Amerika Serikat, dengan ekonomi raksasa dan militer paling kuat di dunia, serta Israel, negara dengan teknologi militer paling canggih di Timur Tengah, telah lama dipandang sebagai dua kekuatan yang dapat bertindak sewenang-wenang.

Israel berulang kali melakukan operasi militer ke negara-negara tetangga dan Palestina dengan impunitas — sementara AS selalu hadir sebagai pelindung politik, finansial, dan militer bagi Israel. Bagi banyak umat Islam, kondisi ini menimbulkan rasa tertindas, terhina, dan tidak berdaya.

Di tengah lanskap Geopolitik yang bergolak, konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel saat ini ternyata tidak hanya berlangsung di medan militer  — juga bergema di ruang yang lebih halus namun tidak kalah kuat: ruang psikologis, simbolik, dan imajinasi kolektif umat Islam di berbagai belahan dunia.

Dalam konteks inilah, setiap bentuk perlawanan terhadap dominasi tersebut memperoleh makna yang melampaui dimensi militer — menjadi symbol tentang harga diri, tentang keberanian, tentang kemungkinan untuk tidak tunduk.

Iran, Konsistensi, dan Narasi Keteguhan

Perlawanan Iran telah menjadi titik balik psikologis — membangkitkan kebanggaan kolektif umat Islam, menyatukan rasa harga diri yang selama ini terkikis oleh dominasi asing. Dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara, umat Islam kini memiliki simbol perlawanan yang nyata. Iran menunjukkan bahwa meski menghadapi kekuatan nuklir, ekonomi, dan militer terbesar dunia, semangat juang dan keberanian dapat menjadi senjata yang tak kalah dahsyat.

Dunia menyaksikan bahwa Iran tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menantang narasi bahwa umat Islam lemah dan tidak berdaya. Bagi banyak Muslim, terutama di negara-negara yang selama ini merasa terpinggirkan, keberanian Iran menjadi inspirasi — membuktikan bahwa umat Islam mampu melawan ketidakadilan, meski lawan yang dihadapi jauh lebih besar dan lebih kuat.

Ketika Iran menunjukkan sikap konfrontatif dan kemampuan untuk membalas tekanan militer maupun politik, banyak pengamat melihatnya bukan sekadar sebagai respons negara terhadap ancaman, tetapi sebagai bagian dari narasi yang lebih besar: konsistensi perlawanan dan narasi keteguhan. Bagi sebagian kalangan di dunia Muslim, sikap ini dipersepsikan sebagai penolakan terhadap tatanan global yang dianggap tidak adil. Dalam persepsi tersebut, Iran tampil sebagai negara yang—terlepas dari segala kontroversinya—berani berdiri menghadapi tekanan dari kekuatan besar dan negara adidaya AS.

Narasi ini menjadi semakin kuat ketika perlawanan Iran itu tidak hanya retorik, tetapi disertai kemampuan nyata untuk memberikan respons yang mengejutkan. Dalam dunia yang selama ini dianggap timpang, momen-momen seperti itu memiliki daya resonansi yang tinggi  — mengganggu asumsi lama bahwa kekuatan besar seperti AS dan Israel selalu tidak tersentuh  — namun penting dicatat, persepsi ini tidak bersifat universal  — hidup berdampingan dengan pandangan lain yang lebih kritis terhadap kebijakan Iran, baik di tingkat regional maupun domestik.

Dari Geopolitik ke Psikologi Kolektif

Hal yang menarik, dampak dari dinamika ini tidak berhenti di Timur Tengah  — merambat hingga ke komunitas Muslim di berbagai negara, termasuk Indonesia. Selama ini, relasi antara berbagai mazhab dalam Islam—khususnya antara Sunni dan Syiah—sering diwarnai ketegangan, baik karena perbedaan Teologis maupun faktor politik. Di Indonesia, narasi anti-Syiah pernah cukup kuat di ruang publik, didorong oleh ceramah, media sosial, dan jaringan tertentu. Namun dalam situasi konflik yang lebih luas, terjadi pergeseran halus dalam persepsi. Ketika sebagian masyarakat menyaksikan Iran—yang identik dengan Syiah—berhadapan dengan Israel dalam konteks Palestina, fokus perhatian bergeser dari perbedaan internal menuju isu yang dianggap lebih besar: keadilan bagi Palestina dan ketimpangan global.

Dalam konteks ini, identitas sektarian menjadi relatif. Bahkan bisa dibilang semakin redup — yang lebih menonjol adalah identitas bersama Sunni dan Syiah sebagai bagian dari dunia Muslim, yang selama ini merasa berada dalam posisi defensif. Akibatnya, suara-suara yang sebelumnya keras dalam mempertentangkan Sunni dan Syiah di beberapa ruang publik mulai kehilangan resonansi.

Sejumlah Ustad dan pendakwah di media sosial masih bicara tentang “kesesatan Syiah” dan “bahaya Syiah”, tetapi suara mereka makin sayup — bukan karena perbedaan itu hilang, tetapi karena prioritas emosional dan politik masyarakat sedang bergeser.

Iran Bukan Sekadar Negara, tetapi Simbol Perlawanan

Perlu dipahami bahwa dalam banyak kasus, Iran dalam imajinasi sebagian masyarakat tidak selalu dipersepsikan sebagai negara dengan seluruh kompleksitasnya. Iraa sering direduksi menjadi simbol—simbol perlawanan. Simbol ini bekerja karena memenuhi kebutuhan psikologis tertentu: kebutuhan akan representasi kekuatan, kebutuhan akan narasi keberanian, dan kebutuhan akan harapan bahwa dominasi (AS-Israel) bisa dilawan.

Dalam situasi global yang sering terasa tidak seimbang, simbol seperti ini memiliki daya tarik yang kuat, namun, seperti semua symbol — juga menyederhanakan realitas. Kompleksitas politik Iran, dinamika internalnya, serta dampak kebijakannya di kawasan sering kali tidak sepenuhnya masuk dalam narasi tersebut.

Perlawanan Iran yang terlihat di layar-layar media memang dapat membangkitkan rasa bangga dan solidaritas tetapi pertanyaan yang lebih dalam adalah: bagaimana emosi itu diterjemahkan? Apakah Iran akan menjadi: dorongan untuk solidaritas kemanusiaan yang lebih luas, atau justru memperkuat polarisasi dan cara pandang hitam-putih?

Perlawanan dan Makna yang Diperebutkan

Di sinilah pentingnya menjaga jarak analitis. Kekaguman terhadap keteguhan Iran tidak harus berarti menutup mata terhadap kompleksitas. Begitu pula kritik terhadap kebijakan Iran tidak berarti menafikan realitas ketimpangan global.

Pada akhirnya, perlawanan Iran—seperti banyak peristiwa geopolitik lainnya—tidak memiliki satu makna Tunggal  — dia adalah ruang perebutan makna. Bagi sebagian orang, dia adalah simbol martabat dan keberanian. Bagi yang lain, dia adalah bagian dari konflik kekuasaan yang lebih luas. Yang jelas, peristiwa ini menunjukkan satu hal penting, bahwa dalam dunia yang semakin terhubung, dampak sebuah konflik tidak lagi terbatas pada wilayah geografisnya  — dia menjalar ke dalam pikiran, emosi, dan identitas jutaan orang. Dan di sanalah—di ruang tidak kasat mata itu—pertarungan yang sesungguhnya juga sedang berlangsung.

*Dewan Pakar SCSC (South China Sea Council)

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *