Oleh: Toto Izul Fatah*
Ada harga mahal yang harus dibayar — oleh salah satu bangsa yang keamanan negaranya bergantung kepada negara lain. Apalagi, pada saat tempat gantungannya itu kini sudah menjadi dahan yang kering. Semakin kokoh bergantung ke dahan itu, semakin besar potensi runtuhnya. Itulah Arab Saudi dengan konco-konconya seperti Uni Emirat, Bahrain, Kuwait, Oman dan Qatar. Negara-negara yang sudah cukup lama menggantungkan nasib keamanan negaranya kepada Amerika Serikat (AS).
Kini — sang penjaga keamanan mereka itu sedang tidak aman karena ulahnya sendiri menyerang Iran. Sementara, yang dijaganya, Arab Saudi dan kawan-kawan tidak bisa berbuat banyak. Meminta AS berhenti perang tidak berdaya. Memohon Iran untuk tidak menyerang fasilitas AS di negara-negaranya lebih tidak berdaya.
Inilah simalakama yang sedang dialami Arab Saudi dan kawan-kawan — maju kena, mundur juga tersandera. Ironi yang pahit dalam posisi Arab Saudi dan sekutunya di Timur Tengah hari ini — mereka tampak sebagai tuan rumah yang kaya, memiliki istana, minyak, senjata mahal, dan pengaruh besar di Kawasan tetapi di balik semua kemewahan itu, mereka justru seperti tuan rumah yang disandera oleh penjaga rumahnya sendiri. Penjaga itu datang dengan janji perlindungan, tetapi kemudian tumbuh menjadi kekuatan yang menekan, memeras, mengatur, dan bahkan gagal memberi jaminan keamanan yang sesungguhnya.
Di sinilah letak tragedinya. Dalam logika normal, penjaga rumah dihadirkan untuk membuat pemilik rumah merasa tenang — dibayar agar ancaman menjauh, agar pintu tetap aman, agar penghuni rumah dapat hidup dengan martabat –tetapi yang terjadi pada Arab Saudi dan kelompoknya justru sebaliknya. Penjaga rumah itu bukan hanya mahal, tetapi juga rakus — terus meminta bayaran, terus menagih loyalitas, terus memperluas pengaruh, namun ketika ancaman datang, rasa aman yang dijanjikan tidak pernah benar-benar utuh.
Arab Saudi dan negara-negara Arab kaya di Teluk selama ini seperti percaya bahwa uang dapat membeli segalanya. Mereka mengira kekayaan minyak dapat membeli keamanan, membeli wibawa, membeli perlindungan, bahkan membeli masa depan. Mereka mengira kedekatan dengan Amerika Serikat adalah jaminan bahwa rumah mereka akan selalu terlindungi dari api konflik tetapi sejarah kembali membuktikan satu hal yang sederhana: keamanan yang dibeli dengan ketergantungan pada pihak luar tidak pernah menjadi keamanan yang merdeka.
Maka yang lahir bukanlah kedaulatan, melainkan ketergantungan yang makin dalam — yang terjadi bukan perlindungan murni, melainkan hubungan yang timpang. Arab Saudi tetap menjadi pemilik rumah secara formal, tetapi penjaga rumahnya terlalu kuat untuk sekadar disebut penjaga — ikut menentukan arah kebijakan, ikut membentuk rasa takut, ikut mengatur irama konflik, dan tentu saja ikut menagih ongkos dari semua itu.
Akhirnya, tuan rumah yang semestinya berkuasa penuh atas rumahnya sendiri malah harus hidup dengan cemas di bawah bayang-bayang penjaganya. Inilah bentuk penyanderaan moderen yang paling halus. Tidak perlu rantai, tidak perlu penjara, dan tidak perlu penjajahan dengan bendera asing yang berkibar terang-terangan. Cukup dengan ketergantungan strategis, kontrak pertahanan, transaksi senjata, dan rasa takut yang dipelihara terus menerus.
Arab Saudi dan sekutunya di Timur Tengah mungkin tampak seperti merdeka di permukaan, tetapi sesungguhnya ruang geraknya dibatasi, pilihan-pilihannya dikendalikan, dan keberaniannya dikikis sedikit demi sedikit. Arab Saudi menjadi contoh paling gamblang dari paradoks ini. Sebagai negeri yang memiliki dua tanah suci, seharusnya tampil bukan hanya sebagai pusat kekayaan, tetapi juga pusat martabat dan keberanian dunia Islam. Namun, dalam banyak perkara besar, terutama ketika menyangkut ketidakadilan global dan penderitaan dunia Muslim, yang lebih sering tampak justru kehati-hatian yang berlebihan, kalkulasi yang dingin, dan ketergantungan yang terlalu besar kepada Amerika. Seolah-olah, seluruh kemegahan itu tidak cukup untuk membuatnya berdiri tegak dengan kaki sendiri.
Lebih ironis lagi, penjaga rumah yang selama ini dipercaya itu justru terlihat seperti pihak yang paling diuntungkan. Ketakutan negara-negara Arab dibuat menjadi pasar. Konflik menjadi proyek. Ancaman menjadi alasan untuk kontrak baru. Rasa cemas menjadi ladang bisnis — dan rumah besar itu terus membayar, terus membeli, terus membuka diri, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mendapatkan ketenangan. Yang terjadi, justru sang Tuan rumah dipaksa hidup dalam kecemasan yang permanen, sebab kecemasan itulah yang membuat penjaga rumahnya tetap dibutuhkan.
Dalam keadaan seperti ini, metafora “disandera” menjadi sangat tepat. Sebab yang disandera bukan hanya kebijakan keamanan, melainkan juga harga diri politik. Arab Saudi dan sekutunya seperti sulit benar-benar berkata tidak kepada penjaga rumahnya. Mereka tahu beban hubungan itu besar. Mereka bisa merasakan tekanannya. Mereka mungkin sadar sedang diperas oleh sistem ketergantungan. Tetapi mereka tidak mudah melepaskan diri, karena mereka sudah terlalu lama menyerahkan pagar rumah, kunci gerbang, dan alat perlindungan kepada pihak luar.
Akibatnya, ketika ancaman nyata datang, yang terlihat bukan ketegasan tuan rumah, melainkan kegelisahan penghuni rumah yang sadar bahwa penjaganya tidak sekuat yang dibayangkan. Ini adalah pukulan moral yang sangat telak. Sebab negara kaya boleh membeli teknologi, membeli rudal, membeli radar, membeli aliansi, tetapi tidak bisa membeli keberanian yang lahir dari kemandirian. Tanpa kemandirian itu, kekuatan hanya menjadi kemewahan yang rapuh.
Masalah Arab Saudi dan negara-negara Arab tertentu hari ini bukan semata-mata soal Iran — bukan semata-mata soal perang, dan bukan semata-mata soal Amerika. Masalah yang lebih dalam adalah bahwa mereka terlalu lama membiarkan dirinya dibentuk oleh rasa takut. Mereka memilih aman dalam pelukan kekuatan asing, tetapi pelukan itu ternyata juga mencekik. Mereka ingin dilindungi, tetapi perlindungan itu sekaligus mengurangi kebebasan mereka. Mereka ingin menjaga stabilitas, tetapi harga stabilitas itu adalah ketergantungan yang memalukan.
Pada titik inilah — dunia Arab harus bercermin — bangsa tidak kehilangan martabatnya hanya ketika kalah perang — kadang kehilangan martabatnya ketika terlalu takut untuk hidup tanpa penjaga asing. Sebuah negara tidak selalu hancur saat istananya runtuh — kadang mulai hancur saat para pemimpinnya lebih percaya pada kekuatan luar daripada pada kekuatan bangsanya sendiri.
Apakah ini awal kehancuran Arab Saudi dan kelompoknya? Jawabannya mungkin Tunggal — karena kehancuran itu tidak selalu bersifat fisik — bisa jadi fisiknya masih kokoh, tetapi moralnya, wibawanya, semangat juangnya mulai runtuh. Belajar dari kasus ini, sebenarnya cukup membuka mata kita tentang sebuah kenyataan, bahwa kemewahan tidak sama dengan kedaulatan. Negara-negara itu mungkin masih kaya, masih berdiri, masih berpengaruh — tetapi jika mereka terus hidup sebagai tuan rumah yang disandera penjaga rumahnya sendiri, maka semua kemegahan itu pada akhirnya hanya akan menjadi topeng bagi kelemahan yang makin telanjang.
Kasus Arab Saudi bersama sekutunya, cukup memberi pelajaran buat kita, bahwa penjaga rumah yang terlalu kuat akan berhenti menjadi pelindung. Kemudian cepat atau lambat berubah menjadi pengatur dan pengendali. Bila keadaan ini terus dibiarkan, maka sejarah akan mencatat mereka bukan sebagai pemilik rumah yang agung, melainkan sebagai tuan rumah yang kalah oleh penjaga rumahnya sendiri. Semoga Arab Saudi dan kawan-kawan mulai sadar, meskipun telat.
*Toto Izul Fatah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
Editor: Jufri Alkatiri
