Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
B. Fenomena Kuantum dan Tindakan Ilahi
Fisika kuantum moderen menghadirkan beberapa fenomena terkenal yang menantang intuisi normal kita: keruntuhan fungsi gelombang partikel secara tiba-tiba setelah pengukuran (perlakuan), keterikatan partikel yang luar biasa melintasi jarak yang sangat jauh, efek pengamat di mana tindakan pengamatan mengganggu suatu sistem, dan ketidakpastian atau ketidakpastian yang meluas dalam hasil.
Masing-masing fenomena ini tidak hanya memicu penelitian ilmiah tetapi juga refleksi filosofis. Banyak yang bertanya-tanya — mungkinkah fitur-fitur aneh dunia kuantum ini merupakan saluran yang melaluinya kehendak atau kehadiran ilahi beroperasi dalam ciptaan? Di bagian ini, kita akan mengeksplorasi setiap konsep kuantum secara bergantian dan mempertimbangkan ide-ide analog dari pemikiran teologis:
Keruntuhan Fungsi Gelombang dan Kehendak Ilahi
Dalam mekanika kuantum — sebelum pengukuran dilakukan, suatu sistem dideskripsikan oleh fungsi gelombang yang mewakili campuran (superposisi) dari semua kemungkinan keadaan. Ketika pengukuran atau pengamatan terjadi, fungsi gelombang tersebut runtuh dan sistem berada dalam satu keadaan tertentu (kucing tersebut pasti hidup atau pasti mati, dalam contoh terkenal Schrödinger).
Keruntuhan dari beberapa hasil potensial menjadi satu hasil aktual ini telah mengundang perbandingan dengan gagasan tentang sebuah pilihan atau keputusan yang dibuat pada tingkat fundamental alam. Secara Teologis — orang mungkin bertanya: Siapa atau apa yang “memilih” hasil ketika sistem kuantum runtuh?
Beberapa pemikir telah mengusulkan bahwa kehendak ilahi mungkin berada di balik pilihan-pilihan kuantum ini. Dalam pandangan ini, Tuhan dapat menentukan kemungkinan mana yang menjadi kenyataan pada saat keruntuhan fungsi gelombang, secara efektif memilih di antara pilihan-pilihan kuantum sesuai dengan suatu tujuan. Misalnya, jika spin elektron dapat berakhir sebagai “naik” atau “turun” dengan probabilitas yang sama, kehendak Tuhan mungkin yang memutuskan “naik” dalam contoh tertentu — yang penting, ini tidak akan mengesampingkan hukum statistik fisika. Probabilitas yang diprediksi oleh teori kuantum akan tetap berlaku pada banyak peristiwa, tetapi hasil setiap peristiwa individu dapat dipandu oleh Tuhan tanpa pelanggaran hukum fisika yang dapat diamati.
Gagasan ini telah digambarkan sebagai tindakan ilahi non-intervensionis — yakni Tuhan bertindak dalam Probabilitas alami mekanika kuantum, alih-alih menangguhkan hukum alam. Sebagaimana dijelaskan oleh sebuah analisis, Tuhan tidak perlu “mengabaikan” atau memutus distribusi Probabilitas yang lazim; Dia dapat memilih secara bebas di antara kemungkinan hasil dengan cara yang tampak acak bagi kita, tetapi bermakna dari perspektif ilahi. Dengan cara ini, bimbingan Tuhan dapat dijalankan “di balik layar” pada tingkat kuantum, dengan efek kumulatif pada dunia yang lebih luas (karena banyak peristiwa mikroskopis dapat memengaruhi hasil makroskopis).
Konsep ini selaras dengan gagasan religius tentang, “Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu”, (Qur’an Surat Hud ayat 57;) — Yakni bahwa Tuhan mengawasi dan mengatur perkembangan peristiwa.
Keruntuhan fungsi gelombang menghadirkan analogi alami: sebagaimana segudang jalur potensial runtuh menjadi satu peristiwa nyata, dapat dikatakan bahwa kehendak Tuhan memastikan bahwa, dari sekian banyak kemungkinan yang dapat dibayangkan, jalur yang telah ditentukan itu terwujud.
Hal ini adalah cara untuk membayangkan kedaulatan Tuhan bekerja bersama-sama dengan keacakan kuantum. Harus diakui, interpretasi ini merambah melampaui sains ke ranah metafisika, karena fisika kuantum sendiri tidak mengatakan bahwa pikiranlah yang memilih hasilnya — namun, ini adalah gambaran yang mencolok: dunia kuantum sebagai kanvas terbuka tempat kehendak ilahi “melukis” realitas dari waktu ke waktu.
Keterikatan Kuantum dan Kemahahadiran
Salah satu aspek mekanika kuantum yang paling menakjubkan adalah keterikatan. Ketika partikel terjerat, mereka berperilaku seperti sistem terpadu sehingga keadaan salah satu partikel langsung memengaruhi keadaan partikel lain, meskipun mereka dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh. Dalam istilah teknis, sifat-sifat mereka berkorelasi sedemikian rupa sehingga menentang intuisi klasik tentang lokalitas.
Einstein menyebutnya yang masyhur “aksi seram dari kejauhan,” karena mengukur satu partikel tampaknya langsung memengaruhi pasangannya yang terjerat, seolah-olah ada benang tidak kasat mata yang menghubungkan mereka melintasi ruang. Eksperimen telah mengonfirmasi bahwa keterjeratan itu nyata: partikel-partikel yang terjerat mengoordinasikan perilaku mereka lebih cepat daripada sinyal apa pun yang dapat bergerak di antara mereka, menunjukkan adanya interkoneksi mendalam yang tertanam dalam jalinan realitas.
Bagi orang-orang beriman, sulit untuk tidak melihat paralel antara keterjeratan dan konsep teologis tentang Tuhan yang Maha – Hadir. Dalam tradisi semit, Tuhan dipahami hadir sepenuhnya di mana-mana sekaligus, tetapi tidak tersebar luas, melainkan sepenuhnya dapat diakses di setiap tempat dan saat.
Kemahahadiran Ilahi ini berarti bahwa jarak tidak menjadi penghalang bagi pengetahuan atau tindakan Tuhan. Keterikatan kuantum menawarkan sebuah model (atau setidaknya sebuah metafora) tentang bagaimana suatu pengaruh dapat diberikan secara instan melalui setiap pemisahan. Sebagaimana dua partikel yang terjerat tidak pernah benar-benar terisolasi satu sama lain, dapat dikatakan bahwa seluruh ciptaan senantiasa terhubung dengan Sang Pencipta dalam semacam hubungan “terjerat” yang melampaui ruang dan waktu fisik.
Beberapa penulis telah secara eksplisit menggambarkan analogi ini, menunjukkan bahwa interaksi Tuhan dengan dunia dapat dipikirkan dalam konteks koneksi non-lokal, mirip dengan keterikatan, yang menghubungkan setiap partikel dan setiap orang dengan yang ilahi. Dalam pandangan ini, Tuhan tidak perlu “melakukan perjalanan” untuk campur tangan di galaksi yang jauh atau untuk mendengar doa dari seberang bumi; seperti partikel yang terjerat, koneksinya langsung dan selalu aktif.
Keterikatan juga mengisyaratkan realitas holistik yang mendasarinya: alam semesta mungkin sangat relasional, dengan bagian-bagiannya berada dalam kesatuan yang bermakna dengan bagian-bagian lainnya. Hal ini sejalan dengan perspektif teologis yang menekankan kesatuan ciptaan di bawah satu Tuhan. Dalam mistisisme Yahudi dan pemikiran Islam Sufi — misalnya, keterkaitan segala sesuatu merupakan tema yang berulang; merupakan sebuah gagasan bahwa keragaman dunia pada akhirnya berakar pada Yang Esa(tawhid). Keterikatan kuantum memberikan ilustrasi fisik yang mencolok tentang bagaimana entitas yang terpisah dalam beberapa hal dapat menjadi satu.
Meskipun diskusi ilmiah tentang keterikatan tidak merujuk pada Tuhan, diskusi tersebut menunjukkan bahwa gagasan klasik kita tentang objek yang sepenuhnya independen tidaklah lengkap. Realitas lebih terhubung dan relasional daripada yang pernah kita asumsikan. Bagi orang beriman, hanya lompatan kecil untuk mengatakan bahwa realitas yang saling terhubung ini ditopang oleh Dia yang merupakan sumber segala keberadaan. Singkatnya, keterikatan dapat berfungsi sebagai analogi ilmiah untuk hubungan erat Tuhan dengan alam semesta: sebagaimana partikel-partikel yang terjerat merespons satu sama lain melintasi batas apa pun, Tuhan dapat terus hadir dengan setiap bagian ciptaan, memegang semuanya dalam satu kerangka acuan ilahi di luar batas normal ruang dan waktu.
Ini adalah cara puitis untuk memvisualisasikan kemahahadiran Tuhan — dalam terang fisika moderen; bukan sebagai gagasan spiritual yang samar tetapi sebagai sesuatu yang hampir secara teknis tercermin dalam struktur terdalam dunia fisik. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
