Rundingan 21 Jam Gagal Total

Oleh: Cak AT – Ahmadie Thaha*

Pertemuan Amerika Serikat-Iran di Islamabad, Pakistan —  yang sejak awal dipoles seperti etalase harapan, akhirnya pecah seperti gelas tipis jatuh dari meja diplomasi. Gagal total  — yang pertama kali meniup peluit kegagalan adalah Washington. Donald Trump —dengan gaya khasnya yang lebih dekat sebagai hakim ketimbang diplomat— menyimpulkan satu hal yang dia anggap paling esensial: Iran menolak menghentikan ambisi nuklirnya.

Satu kalimat demikian terdengar sederhana, tetapi membawa implikasi yang lebih berat dari kapal induk dengan pasukan yang kini diarahkan ke Teluk, lengkap dengan ancaman menyerbu Iran, blokade Selat Hormuz, dan ketakutan yang diumbar. Padahal, kalau kita mau jujur sedikit saja, dua puluh satu jam pertemuan maraton di Islamabad jelas tidak cukup untuk mengakhiri empat puluh tujuh tahun permusuhan Amerika terhadap Iran.

Ini bukan rapat RT yang bisa selesai sebelum azan Maghrib. Ini akumulasi sejarah panjang yang penuh luka, sanksi, sabotase, dan saling tuduh yang diwariskan lintas generasi  — maka, menyebut perundingan maraton ini sebagai “gagal” sebenarnya terlalu sederhana, bahkan cenderung menipu kenyataan.

Menyebutnya gagal seolah kita lupa bahwa tantangannya memang hampir mustahil sejak awal: mempersempit jurang pada isu kompleks, dari kecurigaan lama soal program nuklir Iran hingga persoalan baru akibat perang, terutama kendali Iran atas Selat Hormuz yang kini mengguncang ekonomi dunia.

Sejak awal, pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Islamabad, di tengah jeda perang yang baru saja menyisakan luka, memang hampir mustahil berakhir dengan kesepakatan manis. Ini bukan soal siapa pintar bicara, tetapi siapa berani menurunkan ego.

Di sinilah diplomasi berubah menjadi teater kecurigaan  — ketika sejak awal masing-masing pihak membawa prasangka sebagai fondasi, maka setiap gestur lawan dibaca sebagai potensi ancaman, bukan peluang kesepahaman. Bahkan, kekurangan bisa dicari-cari, atau lebih buruk, direkayasa untuk memperkuat narasi bahwa “mereka memang tidak bisa dipercaya.” Diplomasi semacam ini bukan lagi seni negosiasi, melainkan strategi pembenaran.

Trump bahkan mereduksi kompleksitas negosiasi menjadi satu titik Tunggal  — uranium. Baginya, semua jalan diplomasi harus bermuara pada satu kesepakatan absolut — Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Titik. Tidak ada koma, apalagi paragraf.

Wakilnya, JD Vance, bahkan merumuskan “tujuan inti” itu secara terang. Amerika membutuhkan komitmen tegas bahwa Iran tidak akan mengejar peluang punya senjata nuklir, bahkan tidak akan mencari alat untuk mencapainya dengan cepat  — namun pihak Tehran membaca pedoman yang berbeda. Bagi Iran, program nuklir yang dimilikinya bukanlah proyek militer, melainkan simbol kedaulatan energi dan martabat nasional.

Mereka bersikeras bahwa hak atas energi nuklir untuk tujuan damai adalah hak yang tidak bisa dinegosiasikan. Dan memang begitulah, setiap negara memegang keyakinannya sendiri tentang apa yang dianggap sebagai hak asasi. Bahkan sebelumnya, Iran sempat menawarkan konsesi. Mereka siap mengencerkan stok uranium 60 persen yang mencapai ratusan kilogram — level yang sudah sangat dekat dengan bahan senjata. Tetapi jelas, pihak Iran tetap menolak menyerah untuk punya hak pengayaan itu sendiri, dan bahkan tidak bersedia sepenuhnya melepaskan stok uranium yang dimilikinya.

Di sinilah jurang itu tampak jelas  — untuk mencapai kesepakatan, mereka bukan hanya harus membahas teknis nuklir, tetapi juga harus melompati jurang ketidakpercayaan yang sudah menganga selama puluhan tahun. Dan jurang itu bukan sekadar retakan. Ia sudah seperti Grand Canyon versi geopolitik.

Ironinya, sehari sebelum pertemuan, bahkan belum pasti kedua pihak akan bertemu, apalagi duduk di ruangan yang sama — dan ketika akhirnya mereka benar-benar duduk di sebuah hotel mewah yang dijaga ketat di Islamabad, dunia berharap sesuatu yang hampir mustahil: dua musuh lama tiba-tiba saling percaya. Kita pun sebenarnya tidak tahu persis apa yang terjadi di balik pintu-pintu tertutup itu.  

Negosiasi kabarnya berlangsung hingga larut malam, melibatkan puluhan panggilan telepon ke para ahli, penasihat, bahkan langsung ke Trump sendiri — namun seperti biasa dalam diplomasi kelas berat, yang keluar ke publik hanyalah serpihan narasi—cukup untuk membentuk opini, tetapi tidak cukup untuk memahami kebenaran. Satu hal yang pasti: kedua delegasi datang dengan keyakinan bahwa merekalah pihak yang menang dalam perang sebelumnya. Dan dari posisi “merasa menang” itu, kompromi menjadi terasa seperti kekalahan.

Maka ketika Iran menolak membuka Selat Hormuz tanpa kesepakatan baru, dan Amerika menuntut jaminan mutlak soal nuklir, meja perundingan itu sebenarnya sudah penuh dengan ranjau sejak awal. Lalu babak berikutnya pun datang lebih dramatis. Trump mendeklarasikan blokade Selat Hormuz, entah bagaimana cara ancaman itu akan dijalankannya. Selat ini bukan sekadar jalur air, tetapi arteri energi dunia.

Ketika sebelumnya Trump menyerukan pembukaan jalur itu “segera dan cepat,” sambil mengancam kehadiran militer — dunia sebenarnya sedang menyaksikan satu hal: diplomasi telah menyerahkan tongkat estafet kepada militer. Biasanya, seperti yang sering terjadi, satu pihak akan menarik pelatuk lebih dulu, seringkali Amerika atau sekutunya, Israel. Kemudian Iran akan merespons dengan cara yang lebih gaduh, lebih keras, dan tanpa banyak ruang untuk rem.

Maka, yang tersisa bukan lagi pertanyaan apakah konflik akan terjadi lagi, atau kapan perang akan menyala kembali — tetapi, pertanyaan yang patut kita ajukan adalah: kapan dan seberapa luas dampaknya. Dampak itu, sejatinya, bukan lagi sekadar prediksi di atas kertas analis  — sudah mulai menetes dalam realitas. Gangguan di Selat Hormuz telah mengguncang ekonomi global.

Harga minyak melonjak seperti balon yang ditiup panik, rantai pasok terganggu, dan lalu lintas energi dunia tersendat. Dunia sedang belajar lagi bahwa satu selat sempit bisa membuat planet ini sesak napas. Pasar keuangan bergetar. Investor menarik dana. Negara berkembang menahan napas. Biaya logistik meningkat  dan seperti biasa, ujungnya akan berhenti di meja makan rakyat kecil—dalam bentuk harga yang pelan-pelan naik tanpa permisi — namun yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak jangka panjangnya. Dunia akan masuk ke fase ketidakstabilan permanen, di mana konflik menjadi normal baru.

Negara-negara akan semakin terbelah dalam blok kekuatan, rantai pasok dipolitisasi, dan setiap keputusan ekonomi akan dibayangi pertimbangan keamanan — dan di tengah semua itu, kita sebagai bangsa di Asia tidak punya kemewahan untuk sekadar menjadi penonton. Kita mesti bertindak, sekarang juga.

Ketahanan energi harus menjadi prioritas nyata, bukan jargon seminar. Ketahanan pangan harus dibangun dengan kesadaran bahwa dunia bisa terputus kapan saja. Stabilitas sosial juga harus dijaga, karena dalam dunia yang panas, percikan kecil bisa menjadi api besar. Yang lebih halus namun tak kalah penting adalah ketahanan mental bangsa. Dalam era perang panjang, bukan hanya rudal yang berbahaya, tetapi juga informasi, propaganda, dan kepanikan yang menyebar lebih cepat dari peluru.

Pada akhirnya, kegagalan Islamabad bukan sekadar kegagalan pertemuan. Itu cermin dari dunia yang masih terjebak dalam logika lama: saling curiga, saling menekan, dan selalu merasa benar sendiri. Dan selama logika itu tidak berubah, maka setiap meja perundingan hanya akan menjadi ruang tunggu menuju konflik berikutnya  — karena dalam dunia seperti ini, perdamaian bukan gagal karena tidak diupayakan—tetapi karena tidak pernah benar-benar dipercaya.

*Jurnalis Senior dan Kolumnis

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *