Oleh: Helmi Hidayat, MSi*
Saya sama sekali tidak menduga Presiden Prabowo Subianto akan berlindung di balik nama besar tongkat Nabi Musa AS untuk secara implisit mengatakan permohonan maklum sekaligus maaf jika penanganan bencana (nasional) di Sumatera terkesan sangat lambat. Presiden seolah ingin berkata: ”Saya bukan nabi yang punya mukjizat. Saya manusia biasa yang butuh proses panjang!”
Tetapi mengapa tongkat Musa dibawa-bawa? Bukankah itu cuma tongkat biasa, seonggok kayu yang juga dibawa jutaan manusia? Karena Presiden sudah mulai membawa-bawa nama Musa, mari kita kupas ketokohan nabi yang paling banyak disebut namanya di buku suci Al-Quran ini. Al-Quran menyebut nama Musa secara denotatif 136 kali, padahal nama Nabi Muhammad secara denotatif hanya disebut empat kali dan satu kali disebut dengan nama Ahmad dalam surat Ash-Shaff ayat 6.
Pertama-tama harus dicatat bahwa Allah bukan tidak tahu bahwa ratusan tahun, bahkan ribuan tahun, setelah Musa berhasil membelah laut dengan tongkatnya, kejadian spektakuler itu akan terus disebut-sebut dalam banyak kisah. Manusia moderen bahkan mengabadikannya dalam bentuk gambar bergerak.
Karena dikhawatirkan manusia bakal terjebak dalam kultus tongkat Musa, Allah segera melakukan desakralisasi terhadap tongkat itu lewat ucapan Musa sendiri dalam Al-Quran surat Thaa-Haa (20) ayat 18. ‘’ “Dia (Musa) berkata, ‘Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk kambingku, dan masih ada lagi manfaat lain.’’’
Pendek kata, Allah lewat ayat itu hendak menegaskan tongkat Musa sebenarnya hanya kayu belaka, yang dengannya Musa menopang badan, merontokkan daun-daun, dan memanfaatkannya untuk keperluan lain. Jadi, kata ayat itu, tidak ada kelebihan apa pun dalam tongkat Musa, sama seperti tongkat-tongkat semua orang di rumah. Bahwa kemudian tongkat Musa bisa jadi ular dan dengannya laut terbelah, itu sangat bisa dijelaskan secara sosiologis dan ilmiah.
Laut terbelah di era Musa kini ternyata biasa saja. Ilmuwan menduga kuat, saat laut terbelah oleh tongkat Musa, beberapa jam sebelumnya ternyata sebuah gunung di pulau Thera yang sekarang bernama Santorini di Yunani meletus sekitar tahun 1600 SM. Letusan gunung inilah yang diduga kuat menimbulkan Tsunami di pantai tempat Musa dan Bani Israel terjepit oleh kepungan tentara berkuda Firaun. Ilmuwan boleh berdebat soal nama gunung yang meletus, tetapi prosen Tsunami tidak lagi diperdebatkan.
Jika merangkum semua kisah Musa dalam surat Al-Baqarah, Al-A’raf, Yunus, Taha, Al-Qashash, An-Naml, Asy-Syu’ara, Al-Kahfi, dan Al-Maidah, dalam perspektif sosiologi orang akan tahu bahwa Musa lebih memilih lorong-lorong gelap dan sempit tempat Bani Israel tinggal di Mesir ketimbang Istana Firaun yang megah. Di sana diam-diam dia rajin menyebar virus nasionalisme Israel, meniupkan antiperbudakan, juga mengajarkan rasa percaya diri dan integritas pribadi.
Jika Musa muda meninggalkan istana dulu, lalu berpihak pada kaum marjinal, barulah setelah itu tongkat di tangannya bisa membelah laut di masa depan, bagaimana mungkin tongkat Presiden bisa jadi sakti jika media massa mengungkapkan Prabowo pernah mengonfirmasi dirinya memiliki lahan Hak Guna Usaha (HGU) dengan luas hampir 500.000 hektar, dan 97.000 hektar di antaranya berada di Aceh?
Dalam konteks kisah Musa, orang yang punya kekayaan luar biasa di zamannya bukanlah lelaki yang di masa bayi pernah dihanyutkan di Sungai Nil itu, tetapi saudara sepupunya bernama Qarun [QS Al-Qashash (28): 76]. Saking kaya-raya, Qarun punya kunci-kunci gudang yang hanya bisa diangkat oleh sejumlah algojo. Tetapi Al-Quran tidak pernah bercerita Qarun pernah punya tongkat sakti. Dia dan semua hartanya justru ditenggelamkan dalam bumi – makanya jika seseorang tak sengaja menemukan benda berharga di tanah disebut harta karun.
Al-Quran menyebut Musa sangat punya integritas diri. Contohnya, saat pemuda Mesir berkelahi dengan pemuda keturunan Israel di jalanan, Musa kontan membela pemuda Israel. Dia tonjok pemuda Mesir itu hingga tewas di tempat. Tetapi, begitu esok hari didapatinya pemuda Israel itu berkelahi lagi dengan orang lain dan lagi-lagi minta tolong pada Musa, dengan tegas Musa menuding pemuda Israel itu sebagai biang kerok yang harus dimaki-maki [QS Al-Qashash (28): 76].
Jadi, agar tongkat Musa di kemudian hari bisa jadi ular lalu membelah laut, sejak awal Musa punya ketegasan sikap dulu, punya integritas pribadi yang luhur dulu. Jika ada orang bersalah, ya harus dibilang salah, meski dia seorang Bani Israel sekalipun. Prabowo harus meniru Musa dulu jika tongkatnya ingin jadi ular.
Ketika diangkat jadi nabi, Musa awalnya tidak percaya diri sebab lidahnya cadel. Bagaimana mungkin dengan lidah cadel dia akan berpidato di depan Firaun? Untuk itu dia minta Allah mengangkat saudaranya, Harun, jadi nabi juga. Tetapi, begitu mendapati kaumnya menyembah anak sapi setelah Musa meninggalkan mereka selama 40 hari, padahal di tengah mereka ada Harun yang seharunya bertanggungjawab menjaga Tauhid, tanpa basa-basi lagi Musa langsung menarik jenggot Harun dan menyalahkannya.
Bukankah Harun sudah berjasa pada Musa menemaninya berdebat dengan Firaun di istana dan menjaga persatuan Bani Israel saat Musa dipanggil Allah di Gunung Thursina selama 40 hari? Musa tidak peduli. Orang bersalah tetap harus dihukum. Karena integritas pribadi seperti inilah tongkatnya jadi sakti. Prabowo mau tongkat komando di tangannya jadi sakti juga? Jika iya, dia harus berani menggebuk ‘’Harun-Harun bersalah di sekitarnya’’ — betapa pun mereka dulu pernah berjasa. Berani?
Kisah Musa adalah kisah abadi sebab dia merepresentasikan sebuah pemerintahan di negara mana pun. Selain Musa, Qarun dan Firaun, ada dua tokoh penting lain yang juga disebut oleh Al-Quran: Haman dan Samiri. Jika Musa merepresentasikan seorang cendekiawan di sebuah negara, Qarun mewakili Oligarki, dan Firaun adalah wajah raja, Presiden, atau Kaisar di negara itu, posisi Haman sebagai panglima tentara yang bengis mudah ditebak: dia merepresentasikan jenderal galak di negara itu.
Apa posisi dan peran Samiri – dalang di balik terciptanya anak sapi emas yang dapat berbicara sebab dia mengetahui Lorong Jibril turun ke bumi? Posisi lelaki ini juga mudah diterka: dia mewakili ‘’kaum akademisi’’ yang mudah melacurkan diri demi popularitas diri, tanpa memikirkan akibat dari pikiran atau perbuatannya.
Orang seperti Samiri berbahaya makanya diasingkan oleh Allah, entah ke mana [QS Thaha (20): 97]. Jika tongkat komandonya ingin jadi Ular seperti tongkat Musa, Prabowo berani membuang ”Samiri-Samiri yang terlihat pintar’’ di sekitarnya padahal menjilati dirinya?
Saya berdoa, semoga Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, segera mengikuti jalan Musa agar dia cepat menggenggam tongkat sakti, yang dengan kayu sakti itu dia mengatasi bencana (nasional) Sumatera lalu menyapu bersih malapateka yang lebih dahsyat di negeri ini berupa korupsi yang bikin sakit hati.
*Dosen FDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengamat Keagamaan, dan Filsuf
Editor: Jufri Alkatiri
