Oleh: Toto Izul Fatah*
Idul Fitri — bukan sekedar bermakna kembali ke fitrah seperti dipahami selama ini. Idul Fitri juga bukan hanya hari kemenangan setelah sebulan menahan lapar dan dahaga. Tetapi Idul Fitri adalah panggilan pulang – yaitu panggilan yang datang dari tempat paling sunyi di dalam diri manusia. Tepatnya, diri sejati yang lama tertutup debu dunia, riuh keinginan, dan bisingnya ambisi. Kenapa? — karena Ramadhan sesungguhnya bukan sekadar madrasah menahan perut, melainkan perjalanan menyusuri lorong batin. Dari yang ramai menuju yang sepi. Dari yang lahir menuju yang hakiki. Dari tubuh menuju ruh.
Dalam jalan Tasawuf, lapar bukan tujuan, melainkan pintu. Haus bukan derita, melainkan jembatan. Sebab, justru ketika tubuh dikurangi, ruh diberi ruang untuk berbicara. Dan ketika nafsu dilemahkan, cahaya hati mulai berani menampakkan wajahnya. Karena itu, Idul Fitri adalah saat ketika seorang hamba tidak hanya berkata, “Aku telah selesai berpuasa,” tetapi lebih dalam lagi berbisik, “Aku sedang belajar kembali mengenal siapa diriku.” Sebab yang paling jauh dari manusia sering kali bukan kampung halamannya, melainkan dirinya sendiri. Dia hafal jalan ke rumah orang lain, tetapi lupa jalan pulang ke rumah batinnya. Dia kenal dunia luar dengan sangat baik, tetapi asing dengan suara nuraninya sendiri.
Dalam tasawuf, manusia adalah musafir ruhani — datang dari Yang Maha Suci, Allah SWT dan akan kembali kepada Yang Maha Suci. Maka hidup bukan sekadar perjalanan usia, melainkan perjalanan penyucian. Setiap ibadah adalah penempaan. Setiap luka adalah pengajaran. Setiap kehilangan adalah penanggalan. Dan puasa adalah salah satu cara Tuhan mengajari manusia agar dia tidak terus menerus menyangka dirinya adalah tubuh, jabatan, pujian, nama besar, dan segala yang fana. Puasa mengingatkan: engkau lebih dalam dari sekadar apa yang tampak.
Dalam tradisi leluhur Sunda, sejak lama mengenal kebijaksanaan serupa. Ada ajaran halus yang mengalir dalam jiwa Sunda: bahwa hidup harus dijalani dengan rasa, dengan kejernihan batin, dengan kesadaran akan asal-usul. Bukan semata menjadi manusia yang ramai dalam ucapan, tetapi teduh dalam hati.
Bukan hanya cerdas dalam pikiran, tetapi bening dalam laku. Dalam ajaran leluhur nusantara, ada istilah yang disebut mulih ka jati, mulang ka asal, pulang kepada sumber, pulang kepada inti, pulang kepada rasa yang tak berdusta. Maka Idul Fitri, dalam pandangan ini, bukan sekadar pesta pulang kampung, melainkan mulih ke diri sorangan. Pulang kepada diri yang tidak palsu. Diri yang belum dicemari kerakusan. Diri yang belum dikaburkan oleh kesombongan. Diri yang masih bisa menangis ketika melihat penderitaan sesama. Diri yang masih gemetar ketika menyebut nama Allah. Diri yang masih lembut kepada anak yatim, hormat kepada orang tua, welas asih kepada yang lemah, dan merasa malu bila hidupnya tak memberi manfaat.
Betapa banyak manusia yang terlihat gagah di luar, tetapi runtuh di dalam. Betapa banyak yang tampak suci di hadapan manusia, tetapi sepi dari kejujuran di hadapan Allah — karena itu, Idul Fitri bukan pertama-tama soal baju baru, melainkan hati yang diperbarui. Bukan soal rumah yang ramai dikunjungi, tetapi jiwa yang kembali dihuni cahaya ilahi. Bukan soal meja yang penuh hidangan, tetapi batin yang kembali mengenal makna syukur.
Dalam jiwa tasawuf, kemenangan terbesar bukanlah menaklukkan orang lain, tetapi menundukkan diri sendiri. Menang bukan ketika kita dipuji soleh, tetapi ketika kita tidak lagi haus pujian. Menang bukan ketika kita tampak bersih, tetapi ketika kita sungguh-sungguh berani membersihkan yang kotor di dalam hati seperti iri, dengki, sombong, tamak, dendam, dan cinta dunia yang berlebihan.
Itulah perang yang sesungguhnya dan Idul Fitri adalah fajar setelah peperangan batin itu. Bahkan, para leluhur kita jauh sebelum datang kitab suci, pernah mengajarkan kelembutan yang tidak rapuh, keteguhan yang tidak kasar, dan kebijaksanaan yang tidak berisik. Ada semangat silih asah, silih asih, silih asuh dan silih selamatkan seperti yang menjadi inti pesan dari Islam — yaitu, saling selamat menyelamatkan.
Jika Idul Fitri hanya membuat kita sibuk bersalaman tetapi masih ringan menyakiti, maka kita baru menyentuh kulitnya, belum masuk ke jantung maknanya. Sebab lebaran sejati terjadi ketika hati menjadi tanah yang subur bagi kasih sayang. Sesungguhnya, manusia yang kembali kepada jati dirinya akan kembali pula kepada adabnya. Dia tidak akan mudah merendahkan dan tidak akan gemar memamerkan ibadahnya. Dia tidak akan merasa lebih mulia dari orang lain — justru makin sadar betapa rapuh dirinya, betapa kecil dirinya di hadapan Yang Maha Agung. Dalam kerendahan itulah tumbuh kemuliaan. Dalam kepasrahan itulah lahir kekuatan. Dalam pengosongan diri itulah Tuhan menurunkan limpahan makna.
Idul Fitri, dengan demikian, adalah momentum ketika tabir-tabir itu semestinya tersingkap. Kita diingatkan kembali bahwa manusia bukan diciptakan untuk sekadar hidup, makan, bekerja, lalu selesai. Manusia diciptakan untuk pulang dengan jiwa yang selamat. Pulang dengan hati yang hidup. Pulang dengan ruh yang mengenali Tuhannya.
Pada akhirnya, makna Idul Fitri yang paling indah adalah setelah sekian lama kita jauh tercerai dari diri sejati, Tuhan masih membuka jalan pulang. Setelah sekian lama hati dipenuhi debu dunia, Tuhan masih berkenan menurunkan hujan rahmat agar batin kita kembali bening.
Setelah sekian lama kita lupa siapa diri kita — Ramadhan dan Idul Fitri datang sebagai bisikan langit yang memberi pesan, pulanglah ke jati dirimu. Pulanglah kepada nurani. Pulanglah kepada kasih cahaya sejati yang telah mengenalkanmu kepada Tuhan.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
Editor: Jufri Alkatiri
