Oleh: Benz Jono Hartono*
Apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bukan lagi bisa disebut sekadar strategi geopolitik. Ini adalah wajah telanjang dari arogansi global. Ini adalah bentuk moderen dari kebiadaban yang dibungkus dengan istilah keamanan, stabilitas, dan kepentingan strategis. Serangan, tekanan, dan sabotase – dan semuanya dijalankan dengan satu asumsi berbahaya: — bahwa dunia ini boleh diatur oleh segelintir kekuatan, dan yang menolak harus dihancurkan. Inilah inti masalahnya: bukan Iran yang sedang diadili, tetapi kedaulatan itu sendiri.
Ketika Amerika Serikat dan Israel merasa berhak menentukan siapa yang boleh kuat dan siapa yang harus dilemahkan, maka yang sedang mereka injak bukan hanya satu negara, melainkan prinsip keadilan internasional itu sendiri. Disinilah kutukan moral itu layak disuarakan — bukan karena kebencian, tetapi karena ketidakadilan yang terlalu terang untuk disembunyikan. Sejarah penuh dengan kekuatan besar yang merasa dirinya tidak tersentuh. Mereka datang dengan armada, dengan teknologi, dengan keyakinan bahwa mereka adalah penentu takdir — namun satu per satu, mereka jatuh, bukan karena lawannya lebih kuat tetapi karena mereka melampaui batas yang tidak terlihat.
Batas itu adalah kesombongan
Apa yang terjadi hari ini mencerminkan penyakit lama dalam wajah baru, keinginan untuk menguasai, mendikte, dan menundukkan, tanpa merasa perlu mempertanggung jawabkan secara moral. Dan ketika kekuatan mulai kehilangan moralitasnya, maka sesungguhnya dia sedang menggali lubang kubur untuk dirinya sendiri. Iran bisa ditekan, infrastrukturnya bisa diserang, ekonominya bisa diguncang tetapi satu hal yang tidak bisa dihancurkan oleh Amerika Serikat dan Israel adalah: kesadaran bahwa tidak semua bangsa mau hidup dalam bayang-bayang kekuasaan mereka — yang lebih dalam lagi, keyakinan bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi dari seluruh kalkulasi militer dan strategi intelijen.
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang menang secara militer tetapi sampai kapan kesombongan itu dibiarkan tanpa batas? Karena setiap tindakan yang melampaui keadilan, pada akhirnya akan berhadapan dengan konsekuensinya sendiri. Bukan karena dunia selalu adil tetapi karena tidak ada kekuatan yang benar-benar kebal dari hukum sejarah. Maka jika hari ini Amerika Serikat dan Israel berdiri dengan seluruh kekuatan militernya, merasa mampu menekan dan menentukan arah dunia, ingatlah — kekuatan terbesar dalam sejarah bukanlah mereka yang paling dominan tetapi mereka yang mampu bertahan ketika dominasi itu runtuh, dan di situlah letak ironi terbesar.
Ketika manusia merasa dirinya paling kuat, di saat itulah dia paling dekat dengan batas kelemahannya sendiri. Maka, jika kalian merasa mampu, lawanlah Allah SWT — bukan untuk membuktikan bahwa kalian kuat, tetapi untuk melihat, bahwa ada batas yang tidak akan pernah bisa kalian lewati. Sering dilupakan oleh para perancang strategi global komplotan anti Tauhid adalah satu hal mendasar bahwa Islam tidak hidup dalam negara, Islam hidup dalam kesadaran dan kesadaran itu — tidak bisa dibom, tidak bisa diembargo,dan tidak bisa disabotase.
Ketika tekanan datang, mungkin yang hancur adalah infrastruktur — mungkin yang runtuh adalah ekonomi tetapi dalam banyak kasus, justru dari tekanan itulah lahir ketahanan baru ketahanan spiritual, ideologis, dan bahkan politik. Mengutuk serangan terhadap Iran bukan berarti membenarkan seluruh kebijakannya tetapi ada prinsip yang lebih tinggi dari sekadar kepentingan negara — tidak ada satu pun kekuatan yang berhak menjadi hakim tunggal atas dunia ini.
Ketika satu negara atau aliansi negara merasa memiliki legitimasi untuk menyerang, melemahkan, dan mengisolasi negara lain tanpa batas moral yang jelas — maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya stabilitas Kawasan tetapi masa depan keadilan global itu sendiri, dan di titik inilah, menemukan pesan yang maknanya: Jika ada yang merasa mampu menghapus Islam, melemahkan umatnya, atau menundukkan keyakinannya dengan kekuatan dunia — maka sesungguhnya yang sedang diuji bukanlah Islam, melainkan kesombongan mereka sendiri — karena pada akhirnya, sejarah tidak pernah berpihak pada yang paling kuat. Sejarah selalu berpihak pada yang mampu bertahan dalam kebenaran.
*Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, dan Executive Director Hiawatha Institute
Editor: Jufri Alkatiri
