Revolusi Besar dari Kota Qom Iran

Oleh: Asro Kamal Rokan*

Kota QOM berada antara Teheran dan Isafan, berjarak sekitar 150km di selatan Teheran, sekitar dua jam perjalanan naik taksi. Siang itu, langit Qom biru cerah dan udara dingin. Dari kejauhan,  terlihat kubah makam Fatimah al-Ma’sumah, saudara perempuan Imam kedelapan Syiah, Ali al-Rida. Tiba di sini, sejumlah remaja lalu lalang dan sebagian duduk di anak tangga. Kami naik ke pelataran setelah sedikit pemeriksaan tas di pos penjagaan.

Selain makam Fatimah al-Ma’sumah, ada beberapa bangunan, tempat wudhu dan toko-toko perlengkapan ibadah. Banyak orang berziarah dan mengaji. Ini adalah pusat pendidikan Syiah terbesar dunia, para santri berdatangan dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia.  Dari kompleks, yang mirip pesantren inilah bermula revolusi terbesar ketiga dalam sejarah dunia, setelah Revolusi Bolshevik di Rusia (1917) dan Revolusi Prancis (1789), yang mengubah sistem pemerintahan monarki absolut menjadi pemerintahan dari rakyat.

Revolusi Iran 1979 yang dipimpin Ayatullah Khomeini— ulama kharismatik yang saat itu berusia 77 tahun—mengakhiri  sistem pemerintahan kerajaan selama 2.500 tahun, sejak Kerajaan Persia. Revolusi ini melahirkan Republik Islam dan mengakhiri dominasi politik dan ekonomi Amerika Serikat di Iran, yang puluhan tahun mendukung Shah Iran Reza Pahlavi, rezim otoriter dan despotik. Dari sinilah, asal mula akar tunjang konflik Amerika Serikat dengan Iran hingga saat ini, sudah 47 tahun dan mungkin akar ini akan semakin menghunjam lebih dalam.

Revolusi Iran

Saya berkesempatan dua kali ke Teheran. Pertama saat Konferensi Kantor Berita Asia Pasifik (Organisation of Asia-Pacific News Agencies—OANA), November 2006. Kedua, saat kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu Presiden Ahmadinejad dan Pemimpin Tertinggi spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei di Istana Kepresidenan di Teheran, Iran, Selasa (11/2/2008). Pertemuan ini sepekan setelah Indonesia memilih tidak mendukung Resolusi 1803 Dewan Keamanan PBB yang menjatuhkan sanksi program nuklir Iran. Indonesia satu-satunya negara yang abstain, sedangkan14 anggota lainnya, termasuk Afrika Selatan, Libya, dan Vietnam, mendukung sanksi.

Setelah memastikan LKBN ANTARA sebagai Ketua OANA, saya bersama Sekretaris Lembaga LKBN ANTARA, Rajab Ritonga, mengunjungi Kota Qom, Menara Azadi, dan bekas Kedutaan Amerika Serikat di Teheran.  Tiga tempat tersebut merupakan simpul penting Revolusi Iran, yang sering saya baca dalam pemberitaan di koran-koran semasa remaja di Medan.

Kami berangkat dari Ferdowsi Grand Hotel di Kooshk Mesri Street, pusat kota Teheran,  menuju bekas Kedutaan AS di Distrik 6 Taleqani St. Kedutaan itu kini menjadi Museum US Den of Espionage, saksi sejarah Revolusi Iran. Pagar eks kedutaan dibiarkan penuh coretan dan mural, seperti ketika mahasiswa Iran menyandera 52 staf kedutaan AS selama 444 hari, sejak 4 November 1979. Terlama dalam sejarah.

Penyanderaan itu menuntut pemerintah AS, yang dipimpin Presiden Jimmy Carter saat itu, mengembalikan Shah Reza Pahlavi ke Iran. Setelah terguling, diktator Iran tersebut berada di AS dengan alasan berobat. Reza Pahlavi yang berkuasa selama 37 tahun, berpindah-pindah negara, di antaranya Maroko, Bahama, AS, dan terakhir mendapat suaka permanen di Mesir, hingga dia wafat pada 127 Juli 1980 di Kairo.

Kami hanya melintas eks Kedutaan AS. Perjalanan dilanjutkan menuju Menara Azadi, bagian dari sejarah Revolusi Iran. Menara berwarna kuning keemasan ini sangat terkenal. Halaman depan koran-koran Medan waktu itu, sering sekali memuat foto ratusan ribu demonstran di bawah manara ini saat penggulingan Reza Pahlavi.

Jarak Teheran ke alun-alun Menara Azadi sekitar tujuh kilometer dengan masa tempuh normal sekitar 15 menit. Namun kemacetan di kota ini menjadikan perjalanan lebih setengah jam. Dari kejauhan, terlihat sebagian puncak gunung Aiborz diselimuti salju. Indah di saat matahari segera turun. Kami meninggalkan Menara Azedi menuju Kota Qom, yang bejarak 150km, sekitar dua jam lagi perjalanan.

Kota ini tidak begitu besar, berpenduduk sekitar satu juta jiwa. Tanahnya kering karena berada di kawasan sahara tengah Iran. Tidak jauh dari kota ini ada danau garam, yang mempengaruhi tanah Qom. Menurut berbagai catatan, pada musim panas suhu udara dapat mencapai 40 derajat celsius. Sebaliknya musim dingin, suhu bisa anjlok di bawah nol, yang terkadang disertai hujan salju.

Qom adalah kota suci Syiah di Iran, pusat pendidikan dan gerakan awal Revolusi Iran. Dari sini lahir tokoh-tokoh utama Iran, di antaranya Pemimpin Revolusi Iran Ayatollah Imam Khomeini, Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Iran Hassan Rouhani, serta mantan Presiden Iran Mohammad Khatami dan Hashemi Rafsanjani.

Sebagai pengajar, Khomeini—yang dilahirkan pada 24 September 1902 di Khomeyn, sejak muda mendalami hukum syariah, ilmu fiqih, juga filsafat Yunani, etika, dan filsafat politik—mengajarkan kepada santri peran agama dalam isu-isu sosial politik, dan penentangannya terhadap sekulerisme.

Khomeini menyerukan perlawanan terhadap Sah Iran sejak 1962. Para ulama, yang dipimpin Khomeini memprotes revisi undang-undang pemilu, reformasi tanah, dan privatisasi perusahaan negara. Juga menggalang para ulama memboikot kebijakan Shah Iran dan menuduh Shah Iran menyebarkan korupsi moral, juga agen Amerika Serikat dan Israel.

Shah Iran marah. Ayatollah Khomeini ditangkap Juni 1963. Penangkapan ini memicu kemarahan ulama dan rakyat Iran. Demonstrasi besar-besaran terjadi di kota Qom, Tehran, Shiraz, Mashhad, dan Varamin. Demonstrasi pada 5-6 Juni tersebut berujung kerusuhan, yang diduga ditunggangi Savak, dinas intelijen Iran. Banyak korban tewas. Polisi menyebut 380 tewas, ratusan lainnya ditangkap. Namun ada yang menyebut lebih seribu orang tewas. Tragedi ini dikenal dengan sebutan 15 Khordad— berdasar kalender Iran.

Kerusuhan ini menyebabkan Khomeini diasingkan ke Turki, kemudian ke Irak. Di sini, Khomeini terus melancarkan gerakan perlawanan. Shah Iran terpojok dan meminta Irak mengusir Khomeini. Pada 1978, Khomeini pergi ke Paris, Prancis. Perlawanan terus berlanjut. Dari rumahnya yang kecil di Neauphle-Le-Chateau, luar kota Paris, Khomeni berkotbah dan mengobarkan revolusi penggulingan Shah Iran yang otoriter. Khotbah-khotbah itu direkam melalui kaset dan diselendupkan jamaahnya ke Iran. Saat itu belum ada internet.

Khotbah Khomeni dalam kaset itu diperbanyak dan didengar banyak orang di Iran. Gelombang gerakan rakyat dan mahasiswa semakin besar. Shah Iran melawan gerakan tersebut, dengan menculik pendukung Khomeini, termasuk mahasiswa dan cendekiawan.

Aksi ini memicu kemarahan rakyat. Kerusuhan pecah. Ribuan orang korban luka dan tewas. Di sisi lain, sebagian militer Iran yang semula memihak Shah Iran, berbalik mendukung Khomeni. Tahun 1979, sejarah besar terjadi di Iran. Shah Iran yang semakin tidak berdaya, dilarikan pasukan Amerika Serikat ke Aswan, Mesir, 16 Januari 1979. Kekuasaan Shah Iran selama 37 tahun pun berakhir.

Kepergian Shah Pahlevi itu membuka jalan kepulangan Khomeini.  Pada 1 Februari 1979, ulama kharismarik tersebut pulang disambut jutaan orang, yang berbaris di jalan-jalan Teheran untuk menyaksikan secara langsung kehadiran tokoh panutan mereka. Khomeini juga disambut tokoh-tokoh sekuler, yang bergabung dalam Revolusi Iran.

Melalui Referendum pada 24 Oktober 1979, Iran mengubah konstitusi dan sistem dari monarki sejak zaman Kerajaan Persia, menjadi Republik Islam dengan sistem teokrasi Velayat-e Faqih (pemerintahan ahli hukum Islam). Sistem ini menempatkan ulama pada struktur tertinggi. Konstitusi mulai berlaku secara resmi pada 3 Desember 1979. Ayatullah Ruhullah Khomeini diangkat sebagai Pemimpin Agung (Supreme Leader).

Sentimen Anti-AS

Rezim Reza Pahlavi dikenal dengan kekejamannya. Menindas, memenjarakan tokoh-tokoh oposisi. Alat-alat-alat keamanan digunakan untuk membungkam rakyat yang kritis. Korupsi dan pemborosan anggaran terjadi. Struktur kekuasaan sentralistik. Rezim ini didukung Amerika Serikat, antara lain karena kepentingan mengeruk minyak Iran.

Tidak hanya itu, tumbangnya rezim despotik dan korup tersebut, mempengaruhi gerakan dan pemikiran Islam di seluruh dunia, terutama di negara-negara Asia dan Afrika yang mayoritas berpenduduk umat Islam, yang tertindas. Buku-buku Ali Syari’ati, salah satu tokoh Revolusi Iran, menjadi bacaan penting para aktivis mahasiswa, termasuk di Indonesia. Buku-bukunya dicetak ulang, meski beberapa di antaranya dilarang.

Sosiolog terkemuka Iran itu sempat dipenjara rezim Shah Reza Pahlevi, kemudian dibebaskan atas desakan mahasiswa. Ali Syari’ati ditemukan tewas di Southampton, Inggris, 19 Juni 1977, diduga dibunuh agen rahasia Iran, Savak. Saat itu, usia Syari’ati 43 tahun.

Di sejumlah negara Asia-Afrika, sentimen anti-Amerika meluas. Pemerintah di negara-negara yang dipengaruhi Amerika, mengawasi gerakan-gerakan aktivis Islam di kampus-kampus secara ketat. Rezim-rezim pro-AS , termasuk Orde Baru, bahkan menyebutkan Iran mengekspor revolusi melalui aktivis Islam. Ormas-ormas berbasis Islam dianggap berbahaya bagi keutuhan Indonesia.

Negara-negara kawasan Timur Tengah, yang sebagian besar mempertahankan sistem monarki, sangat khawatir terhadap pengaruh Revolusi Iran. Amerika Serikat, yang dikenal memperjuangkan demokrasi, justru mendapat keuntungan dari kekhawatiran para raja-raja di negara-negara Arab tersebut. AS tampil sebagai pelindung. Negara-negara Arab membayar harga mahal hingga kini.

Amerika Serikat dan sekutunya, untuk kepentingan energi, terus berupaya memelihara konflik dengan Iran sebagai sumber api.  Blokade ekonomi dan sanki-saksinya, mencakup energi, perbankan, dan militer terhadap Iran sejak Revolusi Iran 1979 berlangsung terus-menerus hingga kini.  Aset Iran senilai sekitar Rp1.700 triliun telah pula dibekukan. Resolusi demi resolusi DK PBB, yang disponsori Amerika dan sekutunya, terus mendera Iran — namun ini tidak membuat Iran tunduk, apalagi patah. Seperti karpet produksi Iran, yang terkenal termahal di dunia, semakin terinjak justru semakin kuat.

Gagal mendikte Iran dengan blokade ekonomi, AS beralih menekan Iran melalui isu pengayaan nuklir, yang mereka sebut sebagai ancaman nyata. Namun IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional) yang memantau ketat program nuklir Iran hingga 2025, tidak menunjukkan Iran memiliki stok uranium yang diperkaya hingga 60 persen untuk untuk membuat beberapa bom nuklir. IAEA tidak memiliki bukti sistematis bahwa Iran aktif membangun senjata nuklir.

Perlakuan terhadap Iran ini berbeda dengan sejumlah negara yang nyata memiliki senjata nuklir, di antaranya Israel, India, Pakistan, bahkan Korea Utara. Ini dapat diduga, Amerika Serikat berupaya menguasai Iran yang kaya sumber energi— selain Iran  memiliki posisi stragis di kawasan Timur Tengah — yang kaya energi. Di sisi lain, Israel yang sangat di dukung AS, merasa nyaman dan lebih mudah meluaskan wilayah apabila Iran musnah.

Presiden AS Donald Trump salah prediksi ketika bersama Israel menyerang Iran sejak 28 Februari 2026. Blokade ekonomi dan berbagai tekanan, tidak menjadikan Iran takluk.

Bagi Iran— Negeri Para Mullah—perang tidak sekadar mempertahankan negara, tetapi menegakan kebenaran, menegakan haq, melawan bathil. Dalam posisi demikian, kematian dalam peperangan menjadi kabar gembira, disambut bahagia.  Wallahu a’lam bish-shawab.

*Jurnalis, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA (2005-2007), dan Presiden Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia-Indonesia (ISWAMI) Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Jurnalis, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA (2005-2007), dan Presiden Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia-Indonesia (ISWAMI) Indonesia hingga Saat ini (Foto:  Asro Kamal Rokan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *