Selamat Jalan Ketua, Selamat Jalan Sahabat

Oleh: Helfizon Assyafei*

“Masjid yang dia ketuanya itu tidak dapat menampung ramainya jamaah hingga dibentang tikar dihalaman masjid dan sholat asar bak sholat hari raya ramainya jelang sholat jenazah beliau…” Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Betapa fananya kita manusia ini. Berita wafatnya Sekjen PWI Pusat H Zulmansyah Sekedang memenuhi WAG saya sejak malam — karena tidur lebih cepat dari biasanya saya baru tahu kabar itu pagi harinya. Saya tertegun menatap layar hape dengan rasa bercampur aduk. Benarkah berita ini?

Kami para wartawan, kolega, dan kenalan beliau memadati tempat kediamannya di Jl Purwodadi Pekanbaru sejak pagi. Jenazahnya masih di RS Jakarta bersiap diterbangkan ke Pekanbaru. Ada rasa tidak percaya ketika sosok yang rendah hati itu telah pergi.  Dia  pergi ketika semua orang tidak ada yang menyangka sedikitpun.  Beliau sehat-sehat saja juga saat ‘kepergian itu. Bahkan dia sedang berkegiatan menghadiri acara deklarasi wartawan senior  di Jakarta Jumlat lalu.

“Saya bersamanya sejak jam 14.00 Wib diacara itu. Ngobrol seperti biasa. Sampai acara selesai sorenya saya dan dia turun bersama dari lantai dua tempat acara. Saya terus ke Bogor dan beliau kembali ke penginapannya di Jakarta. Alangkah kagetnya saya dapat berita malamnya beliau sudah di rumah sakit,” ujar Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir saat melepas jenazah Sekjen sekaligus sahabatnya itu dirumah duka, Sabtu.

“Dia adalah kader terbaik PWI dan juga orang yang sangat baik,” kenangnya. Sangat baik itu artinya bukan sekedar baik tetapi baiknya diatas rata-rata. Itu bukan sanjungan kosong. Sebab mungkin belum berapa lama Ketum PWI Pusat itu bersama beliau sudah merasakan kebaikannya. Tanyalah kami wartawan lapangan sejak awal bersamanya. Sudah merasakan kata ‘sangat baik’ itu.

Ketika tahun 2001 saya bergabung dengan Riau Pos, beliau adalah Asisten Kordinator Liputan (ASKorlip) kami. Saya merasakan dia tipe pemimpin yang mendidik, peduli, menginspirasi, suka menolong, suka berbagi pada yang kurang mampu. “Rezeki itu ibaratnya saluran air  Boy,” katanya suatu ketika. “Kalau ngga dialirkan (dibagikan) pada yang memerlukan maka saluran itu akan tersumbat dan airnya menjadi busuk,” ujarnya.

Itu bukan cuma slogan — dia melakukannya. Selain membantu anak yatim dan orang miskin dia juga rajin menyumbang di bulan Suci Ramadhan. Misalnya menyumbangkan satu ton kurma dibagi untuk masjid-masjid di Pekanbaru. Saya ikut mendistribusikan bantuan itu ke masjid lingkungan saya. Dia ingin semua orang dapat kurma di bulan suci Ramadan itu.

Ketika dia jadi pimpinan pemasaran di Riau Pos dia pernah memberangkat anak-anak loper dan pengasong koran jalanan di simpang lampu merah — berjalan-jalan ke luar negeri (Malaysia dan Singapura). Sebagai bonus dari perusahaan yang untung ketika itu. Sebuah wisata yang tidak pernah terbayangkan oleh kalangan ekonomi bawah yang berjuang hidup sehari-hari dijalanan dengan menjual koran.  Darinya saya belajar jadi pemimpin itu mesti berdada lapang. Dikritik, dihujat, dicaci-maki di WAG misalnya tidak pernah dibalasnya sekalipun. “Orang boleh suka dan tidak suka pada kita Boy. Biarkan yang suka memuji dan yang tidak suka mencaci. Sah-sah saja,” ujarnya. Dia tidak saja santun tetapi juga cerdas dan solutif menghadapi problem organisasi.

Satu lagi indikator ‘sangat baik’ — itu saya lihat adalah ketika pelayat yang datang dan ikut menyolatkannya. Masjid yang dia ketuanya itu — tidak dapat menampung ramainya jamaah hingga dibentang tikar di halaman masjid dan sholat Ashar bak — sholat hari raya–  ramainya jelang sholat jenazah beliau.

Ada banyak kenangan baik bersama beliau. Begitu jenazahnya dibawa ambulan menuju ke pemakaman langit gelap — lalu air hujan tumpah ke bumi — seperti  tangisan yang mewakili hati-hati yang merasa kehilangan. Selamat jalan ketua, selamat jalan sahabat.

*Jurnalis dan Berkarya di Pekan Baru, Riau

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *