Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
A. Manasik Haji: Simbol Perjalanan Eksistensial
Ibadah Haji bukan bukan sekedar ritual fisik semata, Esensi ritual haji adalah evolusi eksistensial manusia menuju Allah, merupakan ritual perjalanan batin yang dalam menuju Allah SWT. Di dalam setiap langkah tahapan haji memiliki makna esoteris dan simbolis yang mencerminkan perjalanan jiwa dari dunia lahiriah menuju hakikat ketuhanan.
Haji adalah dalah drama simbolik dari filsafat penciptaan anak-cucu Adam– dengan kata lain, memuat kandungan objektif dari setiap sesuatu yang relevan dengan filsafat itu: haji sama dengan penciptaan, sama dengan sejarah, dan sama dengan monoteisme. Dalam drama simbolik itu, Allah sebagai sutradara, tema yang diproyeksikan adalah aksi (movement) dengan karakter pelaku: Adam, Ibrahim, Hajar, dan Iblis.
Lokasi-lokasi pertunjukannyanya dilakukan di tempat suci: Mesjid Haram, Mas’a, Arafah, Masy’ar dan Mina; Simbol-simbolnya adalah Ka’bah, Shafa dan Marwa, siang dan malam, terbit dan tenggelamnya matahari, berhala-berhala dan pengorbanan; Pakaian dan ornamennya adalah Ihram, Halq dan Taqshir.
Haji sama seperti alam; gambaran Islam yang utuh-Islam bukanlah “kata-kata” tetapi dalam “aksi”– adalah “simbol.” Semakin jauh kamu menyelam ke dalam lautan ini, semakin jauh pula kamu dari dasarnya– tidak punya akhir! — bermakna sebanyak yang “kamu mengerti.” Orang yang mengklaim bahwa dia mengetahui segalanya adalah orang yang sesungguhnya tidak mengetahui apa-apa.
“Perasaan” dan “kesadaran” tentang kehadiran Tuhan inilah yang mengajarkan para penziarah (haji) tentang ilmu pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih dalam dari apa yang bisa dicapai baik dengan sains maupun teologi. Ini menumbuhkan “kesadaran yang dalam” pada diri seorang Muslim yang taat yang akan dibutuhkan jika seorang ingin benar-benar terbebas dari batasan- batasan yang membuat manusia menjadi budak.
Untuk mencapai kemuliaan, Kita harus terlibat secara genuine dalam problem yang dihadapi masyarakat. Dalam hal ini termasuk melaksanakan kebaikan, kesetiaan dan membatasi diri dari berbagai kesenangan hidup, menderita dalam penahanan dan pembuangan, bertahan dari aniaya dan menghadapi berbagai bahaya. Nabi Muhammad bersabda: “Setiap agama memiliki jalan kehidupan kebiaraan. Dalam Islam jalan hidup itu adalah jihad.”
Pelaku ritual haji berhasil ketika mereka kembali ke negeri dan desa mereka seperti “sungai yang mengalir mengairi bumi,”masing-masing membantu menumbuhkan beribu-ribu benih– tujuan yang dengannya dimana Tuhan memperbarui masyarakat lingkungan sosial. Inilah yang ditegaskan oleh Ali Syari’ati bahwa “eksistensi manusia tidak ada artinya kecuali jika tujuan hidupnya adalah untuk mendekati Roh Allah.
Secara Keseluruhan, ibadah haji adalah perjalan mengenali diri sejati, yang pada hakikatnya adalah mengenal Tuhan, karena alam semesta dan manusia adalah cermin penampakan-Nya. Haji ibadah perjalan batin (safar), berupa simulasi perjalanan ruhani meninggalkan atribut kemanusiaan untuk menuju Allah. Ini bentuk tajalli (kehadiran diri) Tuhan yang dicari melalui manasik haji yang dicontohkan Nabi.
B. Miqot dan Ihram Simbol Kesucian & Kesetaraan
Miqat kesadaran akan ruang dan waktu mengajarkan bahwa cinta dunia hanyalah ilusi– yang abadi adalah cinta kepada Allah, dengan mengenakan kain ihram melambangkan pelepasan atribut keduniawian dan status sosial. Ini merupakan isyarat untuk “mematikan diri” (menanggalkan ego) sebelum kematian fisik sesungguhnya.
Drama kolosal haji bermula di Miqat Makan, di tempat di mana ritual haji dimulai. Rukun haji pertama, yaitu ihram adalah fondasi pertama dalam pelaksanaan haji, Di Miqat ini, apa pun ras dan sukumu lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari baik sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan); tikus (yang melambangkan kelicikan); Anjing (yang melambangkan tipu daya); atau domba (yang melambangkan penghambaan) Tanggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya.
Di Miqat tidak ada lagi pakaian yang membuat manusia terpecah-belah. Pakaian yang melambangkan status, jabatan, preferensi, atau kelas. Tidak ada lagi pakaian yang menjadikan umat manusia membentuk “kami” atau “mereka”, “dia” atau “aku”. Jalan Allah adalah jalan ummat manusia, jalan itu tidak bisa ditempuh sendiri-sendiri.
Selama ini, di luar Ka’bah, umat manusia meliputi berbagai perbedaan yang memisahkan. Harta, jabatan, ras, keturunan, sampai pakaian, membuat manusia hidup dalam sekat-sekat yang dangkal. Manusia melakukan diskriminasi, merampas, merendahkan, dan membohongi satu sama lain.
Berihram membuat sadar bahwa sebenarnya apa yang ada pada diri kita ini tidaklah milik hakiki kita. Kita diajak untuk melepaskan semua atribut, semua kekuasaan, dan sebagainya. Tidak ubahnya nanti, saat kita meninggal dunia, semua akan lepas dan tanggal dari kita, tidak ada satupun yang kita bawa kecuali amal kita.
Berihram simbol dikuburkannya sifat individual dan yang akan membangkitkan sebuah ummah. Peringatan tegas, haji dimulai dengan menghimpun kesadaran individual menjadi kesadaran kelompok di Miqat. Di sini terlihat masyarakat politiesme diseru ke dalam sebuah masyarakat monoteisme atau ummat tauhid. Inilah ummah atau masyarakat yang berada di atas jalan yang benar. Inilah ummah yang sempurna, aktif, dan berada di bawah kepemimpinan panji Tauhid.
Menyatukan ummah adalah perjalanan yang bersama-sama ditempuh oleh sekelompok manusia—atau dalam definisinya, ummah adalah ungkapan pengertian tentang “kumpulan orang, di mana setiap individu sepakat dalam tujuan yang sama dan masing-masing saling membantu agar bergerak ke arah tujuan yang diharapkan, atas dasar kepemimpinan yang sama.” Dari sini dapat dipahami mengaitkan berihram di Miqat yang merupakan awal dari pelaksanaan haji dengan terbentuknya ummah, karena haji adalah bergerak dengan niat yang sama, dengan arah yang sama dan dengan tujuan yang sama, dan itulah pengertian hakiki kata ummah. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
