Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*
Bagi masyarakat Betawi, Idul Adha memiliki sebutan tersendiri —Lebaran Haji. Istilah ini muncul karena perayaan Idul Adha bertepatan dengan puncak ibadah haji di Tanah Suci, saat jutaan jemaah melakukan wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijah. Bagi warga Betawi, momentum ini terasa sacral– bukan hanya karena ibadah kurban, melainkan karena nilai-nilai keislaman telah menyatu begitu erat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Namun, perayaan Lebaran Haji di Betawi memiliki kekhasan yang membedakannya dari daerah lain. Bukan sekadar menyembelih hewan dan membagikan daging, masyarakat Betawi menghidupkan tradisi ini dengan puasa sunnah, hidangan khas yang sarat makna, hingga ritual kumpul keluarga yang disebut ngariung. Sayangnya, di balik gemerlap tradisi ini, tersimpan pula ironi modernitas yang tidak bisa diabaikan.
Persiapan Spiritual: Puasa Tarwiyah dan Arafah
Sebelum hari raya tiba– masyarakat Betawi terlebih dahulu menjalankan puasa sunnah. Dua puasa yang utama adalah Tarwiyah (8 Dzulhijah) dan Arafah (9 Dzulhijah). Puasa Arafah memiliki keutamaan besar—disebutkan dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Bagi masyarakat Betawi– puasa ini bukan sekadar ibadah individual– menjadi bagian dari persiapan spiritual untuk menyambut hari raya. Bahkan, dalam keyakinan lokal, menyantap ketupat setelah berbuka atau setelah Shalat Id memiliki makna simbolis sebagai penutup ibadah dan awal dari kemenangan hari raya. Inilah yang membedakan “Lebaran Haji” Betawi dengan perayaan Idul Adha pada umumnya.
Ibadah Kurban: Antara Kebo Raksasa dan Sapi Limosin
SetelahSshalat Id– tradisi yang paling dinanti adalah penyembelihan hewan kurban. Di masa lalu, kebanggaan tertinggi bagi keluarga Betawi adalah berkurban dengan kerbau (kebo). Zaman dulu, kurban Kebo adalah prestise tertinggi—simbol kejayaan dan kemakmuran. Seekor Kerbau bisa membuat sekampung kenyang selama seminggu. “Dulu, tanda kemakmuran seorang Abang Betawi di Hari Raya Idul Adha itu sederhana: baunya. Bukan bau parfum Arab yang menyengat, melainkan bau keringat bercampur aroma khas kerbau (kebo) raksasa yang diikat di pohon kecapi samping rumah.” Begitu kuatnya tradisi ini, hingga tanah lapang bergoyang setiap kali rombongan kebo kurban digiring melewati gang-gang kampung.
Kini, pemandangan itu berubah. Sapi Limosin dan Kambing etawa lebih mendominasi. Fenomena “Haji Gusuran” (istilah untuk orang Betawi yang menjual tanah demi biaya naik haji) pada 1960-1970-an telah menggerus kepemilikan lahan dan ternak besar di kalangan warga asli Jakarta. Akibatnya, banyak keluarga Betawi keturunan yang kini harus mengantre kupon daging di masjid, bukan lagi menjadi tuan rumah yang membagikannya.
Kuliner Khas Lebaran Haji Betawi: Lebih dari Sekadar Makanan
Tidak lengkap rasanya membahas Lebaran Haji di Betawi tanpa menyentuh tradisi kulinernya. Dalam buku Betawi Tempo Doeloe karya Abdul Chaer, disebutkan bahwa pada hari raya, masyarakat Betawi memiliki kebiasaan memasak hidangan spesial. Menu utamanya meliputi: Ketupat — wajib ada. Teksturnya yang lembut menjadi alternatif pengganti nasi dan dinilai paling cocok disantap bersama opor atau semur. Ketupat juga punya makna filosofis: melambangkan rasa syukur dan pengikat silaturahmi.
Semur daging — jika hewan kurban adalah kerbau, masyarakat Betawi lebih suka mengolahnya menjadi semur atau sop. Berbeda dengan daging sapi, daging kerbau dianggap lebih cocok untuk diolah dengan bumbu semur yang kaya rempah. Sambal godog / Sayur godok –sayur bersantan dengan labu siam, kacang panjang, dan bumbu rempah khas Betawi. Sayur ini menjadi pendamping ketupat yang paling ikonik. Soto tangkar— menu yang lahir dari “keterpaksaan” kreatif. Dalam bahasa Betawi, “tangkar” berarti tulang iga. Konon, pada masa penjajahan Belanda, masyarakat pribumi hanya mampu membeli bagian tulang yang berdaging sedikit, lalu menyulapnya menjadi sajian lezat dengan kuah santan dan rempah.
Proses memasak bersama juga menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi. Masyarakat Betawi menyebutnya ngariung berkumpul bersama keluarga besar untuk menyantap hidangan yang telah dimasak, terutama sate yang dibakar di atas arang. Nuansa kebersamaan ini mencerminkan solidaritas yang erat, meskipun tidak serumiah Lebaran Idul Fitri di mana semua keluarga pulang kampung.
Lebaran di Betawi
Masyarakat Betawi memaknai kata Lebaran bukan sekadar sebagai hari raya, melainkan berasal dari kata lebar yang artinya luas Keluasan yang dimaksud di sini adalah keluasan hati. Setelah menunaikan puasa (baik di Ramadan maupun di bulan Dzulhijah), hati diharapkan menjadi lebih lapang, lebih mudah memaafkan, dan lebih ikhlas dalam berbagi.
Dalam konteks Lebaran Haji, nilai ini diwujudkan dengan berbagi daging kurban kepada tetangga, saudara, dan yang membutuhkan. Berbeda dengan Lebaran Idul Fitri yang identik dengan tradisi hantaran (memberikan hadiah makanan kepada yang dituakan), pada Lebaran Haji kegiatan lebih terfokus pada kebersamaan keluarga inti dan berbagi rezeki kurban. Namun, di balik tradisi yang kaya ini, terdapat kegelisahan sosial yang tak bisa dipungkiri. Tulisan Ady Cahyadi di Kompasiana (2026) dengan gamblang melukiskan ironi yang dialami generasi Betawi sekarang:
Mari kita tengok nasib Bang Udin—dia memproklamirkan diri sebagai Betawi Keturunan Kedelapan– namun sayang, seluruh harta benda, tanah berhektar-hektar, Empang Lele, hingga pohon-pohon Durian pusaka rupanya sudah habis terjual di era Keturunan Ketujuh… Zaman sekarang, Bang Udin sibuk megang ujung kertas tipis berwarna merah muda, sambil pasang kuda-kuda di depan pagar masjid, ikutan ngumpulin dan ngantre kupon jatah daging kurban.
Gambaran ini menyentil realitas pahit: masyarakat Betawi yang dulu menjadi tuan rumah kurban– kini bergeser menjadi pemburu kupon daging. Fenomena “Haji Gusuran” yang marak pada 1960-1970-an—di mana warga menjual tanah untuk biaya naik haji—telah berbuah panjang. Kini, generasi keturunannya mewarisi gelar “Ahli Waris” tanpa meter persegi tanah pun yang tersisa. Inilah sisi lain dari tradisi Idul Adha di Betawi yang jarang diangkat: perayaan yang sarat makna, tetapi juga menjadi cermin perubahan struktur sosial dan ancaman tergerusnya identitas budaya di tengah gempuran modernisasi dan urbanisasi Jakarta.
Tradisi Idul Adha di Betawi adalah mozaik budaya yang memadukan dimensi spiritual, kuliner, dan sosial. Dari puasa Arafah, ketupat dan semur, hingga tradisi ngariung, semua mengandung nilai luhur: ketaatan, kesederhanaan, dan kebersamaan– namun, masyarakat Betawi juga dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menjaga substansi ibadah kurban—yaitu kepedulian sosial dan semangat berbagi—di tengah tekanan ekonomi dan modernisasi? Apakah tradisi ini akan terus bergeser menjadi sekadar nostalgia seremonial, atau bisa dihidupkan kembali dengan cara-cara baru yang adaptif?
Satu hal yang pasti: Lebaran Haji di Betawi bukan hanya tentang menyembelih hewan– adalah panggilan identitas. Sebagaimana falsafah orang Betawi, “Harta tidak dibawa mati kecuali amal dan kehidupan akhirat”, maka menjaga tradisi ini berarti menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur—bukan dengan mempertahankan simbol semata, melainkan dengan menghidupkan substansinya di tengah zaman.
*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
