Oleh: Renville Almatsier*
Akhir tahun 1970-an, ketika masih muda, saya sering terbang di atas hutan tropis Provinsi Riau ketika Caltex membangun jaringan pipa lewat hutan dan membor sumur migas di kawasan Beruk-Zamrud. Untuk menjaga lingkungan, seringkali dilakukan pemboran miring (directional drilling) agar seminimal mungkin pohon terpaksa ditebang. Semua masih lebat bahkan kami sering berolahraga lari hash dan harrier keluar masuk hutan.
Menuju Sumut, dari sisi timur, kami masih melewati hutan-hutan gelap yang sepi mengerikan. Dari Sumbar ke utara, lewat sisi barat, mengikuti alur Bukit Barisan, hutan di kiri-kanan dalam gradasi warna menjadi pemandangan menakjubkan sepanjang perjalanan…. Menjelang Sibolga jalan mendaki meliuk-liuk..indah sekali.
Dua puluhan tahun, kemudian (90an), Pemerintah mulai tertarik pada sumber devisa lain..pulp atau bubur kertas serta minyak kelapa sawit. Ketika itu dari atas heli, yang tampak hutan sudah mulai gundul dan berganti kebun kelapa sawit, sejauh mata memandang…
Kini..duapuluh tahun kemudian lagi– kepala saya belum gundul, cuma berubah warna..Saya tak pernah lagi ke sana. Seperti apa wilayah itu sekarang? Tak terbayang, menurut berita, Sibolga yang indah bisa porak poranda terendam banjir. Kemana hutan-hutan itu?Entah mana yang lebih menguntungkan bagi pemerintah atau pengusaha atau bagi rakyat?
*Pengamat Sosial dan Mantan Jurnalis Majalah Berita Tempo
Editor: Jufri Alkatiri
