Hidup Bersama Hoaks, Buzzer,  dan AI

Oleh: Renville Almatsier*

Hidup di era kemajuan teknologi ini memang repot. Sebagai makhluk yang mau terus eksis di “dunia baru” ini, kita tidak boleh gatek. Agar tidak  ketinggalan, kita harus mampu ikut berjalan, kalau perlu berlari serentak dengan kemajuan itu sendiri. Di antaranya dengan tetap rajin berkomunikasi dan memantau media. Baik media arus utama mapun media sosial.

Beberapa kali saya terkecoh oleh media sosial yang tiba-tiba di layar telepon genggam menampilkan berbagai tokoh mulai dari mantan menteri, motivator beken,   ustad kondang, atlet top sampai  dokter cantik. Saya tertarik mendengar penjelasan dan nasihat mereka, dalam kesempatan berbeda, tentang suatu penyakit atau kiat menghindarinya.  Ada yang membahas penyakit diabetes, jantung, prostat, lemah syahwat dan lain-lain. Tetapi, alih-alih tampil dengan uraian ilmiah, setelah ditunggu lama pembicaraan belum juga masuk pada inti masalah, masih berputar-putar dalam kata pengantar.

Diselingi tayangan video memperagakan berbagai aksi do & dont, termasuk yang  vulgar bahkan porno, baru saya sadar — mereka cuma menjual obat. Saya jadi tidak yakin apakah para tokoh itu tampil menjadi  bintang  iklan atas kemauan sendiri?   Ataukah ada permainan teknologi digital di baliknya ?

Era digital memang era baru yang mengubah semua yang lama dan sudah ketinggalan zaman. Di era ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita mencerna, kehadiran media sosial memang sangat membantu komunikasi. Tetapi membuat ruang publik menjadi semakin keruh. Dalam liputan dunia politik, setiap hari kita disuguhi konten yang  saling bertabrakan : berita, opini, potongan video, sampai narasi klaim-klaim dukungan pada pejabat yang sudah lengser maupun sudah goyang yang disebarkan secara masif.

Masalahnya bukan hanya banyaknya hoaks tetapi juga kemunculan buzzer atau pendengung yang makin merajalela bekerja sebagai mesin opini penggiring persepsi. Mereka memproduksi narasi seragam, memperkuat emosi publik, dan menenggelamkan suara yang berbeda. Munculnya buzzer yang provokatif, memutar-balikkan fakta, dan memecah belah akhirnya menciptakan kondisi publik yang manipulatif. Isu-isu yang sebetulnya tidak ada atau palsu bisa menjadi perhatian yang menggerakkan emosi dan mengalihkan kita dari masalah sebenarnya. Dalam atmosfer seperti ini masyarakat dibuat bingung: informasi mana yang sungguh bersumber dari fakta, dan mana yang dibentuk demi kepentingan tertentu ?

Apalagi kini ditambah dengan bantuan teknologi photoshop dan AI (Akal Imitasi), kita bisa makin terkecoh. Ada pejabat atau tokoh yang “dipinjam” wajahnya untuk menyampaikan pesan yang menipu. Bahkan dalam tayangan berita bencana alam, kita tak tahu lagi mana banjir dan tanah longsor yang baru terjadi, mana yang dikutip dari berita dan foto-foto lama. Dalam berita dunia kita tertipu melihat Donald Trump dan Kim Yong Un —  sama-sama menggulung celana memikul karung beras untuk korban banjir. Semalam, ketika menunggu setengah jam lagi saat kick-off sepakbola Indonesia vs Filipina, saya terkejut melihat di tayangan siniar, Indonesia sudah unggul dua gol. Untuk semua pemalsuan informasi itu, tak pernah ada penjelasan, ralat atau sanksi.

Pusaran disinformasi yang dipicu oleh AI menunjukkan bagaimana realitas publik tidak lagi dibentuk oleh fakta tetapi oleh ilusi yang terorganisasi. Akibatnya rasa percaya terhadap media – yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran – perlahan mulai pudar. Di “jaman normal” yang hampir berlalu ini, dunia jurnalistik dibimbing oleh aturan dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Sebelum dirilis atau layak-siar, sebuah berita harus melalui proses verifikasi, cek, dan ricek. Media tidak bisa seenaknya memuat berita bohong. Ada yang bertanggungjawab. Tetapi kini, dengan kebebasan semua orang bisa merilis berita, siapa yang harus mengawasi dan menjaga kredibilitas redaksi?

Bilakah kita bisa berharap, pihak berwenang – Komdigi, Dewan Pers, atau lembaga apapun,  membenahi kebisingan digital ini? Apakah praktik dan profesi buzzer itu sudah legal? Itulah kerepotan hidup di “zaman kemajuan” ini. Bayangkan bila generasi muda kita terlanjur menyerap data-data bohong yang memutar-balikkan  fakta sejarah masa lalu bangsa ini ?

*Pengamat Sosial dan Mantan Jurnalis Majalah Berita Tempo

  Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *