Mengenal  Dimas Senopati

Oleh: Renville Almatsier*

Hari Minggu, kami hadir dalam pesta ulang tahun seorang teman. Biasa, rekan ini memang selalu mengundang para sobat-sobat dekatnya. Kami umumnya besar di Jakarta, jadilah pesta itu semacam reuni meriah lintas sekolah dan wilayah. Kami adalah generasi babyboomers — sama-sama rambut sudah memutih, selera musik more or less, cocok semua..Beatles ! Karenanya band-band Bharata, Abadi Soesman dkk, G-Pluck atau Silver Fox  sudah jadi langganan kami di berbagai acara.

Begitulah pagi menjelang siang itu, Silver Fox pimpinan rekan Onan tampil  di atas panggung. Serentak saja hadirin yang duduk melingkar di teras terbuka, hanyut ‘bak mabok dibuatnya. Dibuka dengan I Feel Fine, lagu-lagu mengalir susul menyusul. Mulai dari Misery,  Hey Jude, I Should Have Known Better dan tentu saja I Saw Her Standing There sudah menggoyang kami. Selain anggota band, silih berganti rekan di antara tamu menyumbangkan suaranya. Maklum saja, siapa sih yang nggak suka bitel-bitelan?

Ketika tiba waktunya break, Silver Fox  pun berehat.  Di depan corong tampil Alia, putri sang sahibul bait yang dari generasi millennial. ”Om-om dan Tante-tante mohon maaf, acara kita akan diisi oleh penyanyi kondang Dimas Senopati..” , katanya mengumumkan. Wow, para hadirin yang muda-muda bersorak, layaknya menyambut super star.

Buat saya nama itu doesn’t ring my bell. Siapa itu? Seorang teman berbisik, ”Ini penyanyi yang sedang top sekarang…”, katanya menjelaskan. Konon penyanyi ini disukai sampai ke mancanegara…. Hah? Gue nggak percaya. “Coba lu nonton youtube”, kata teman itu lagi. Dimas ini dikenal melalui youtube sebagai penyanyi slow rock membawakan lagu-lagu yang sudah populer, istilahnya kini “lagu cover”, milik Scorpion, Bon Jovi, Eagle dan lain-lain.  Konon lagi, banyak orang di negeri seberang itu nggak percaya pemuda ini asal Indonesia. Walhasil gue manggut-manggut saja, makin penasaran.  Konon lagi…banyak yang memprediksi ia akan menjadi idola baru di blantika musik kita. Mari kita lihat.

Begitulah muncul seorang pemuda ramping berjaket dengan kerah-bulu yang ditegakkan. Mengenakan topi fedora, membuat wajahnya  tersembunyi seperti orang kedinginan. Berjalan tenang, ia rupanya diikuti oleh rombongan pemain band sendiri. Langsung para penggemar ikut maju. Eh, ternyata banyak juga di antara para oma yang hadir, ikut ngefan pada pemuda berwajah imut ini.

Begitu dia buka suara, tak disangka, itu penggemar mulai dari  yang muda hingga para oma tadi, ikut bernyanyi, bergoyang…Bukan main. Suasana jadi makin meriah, semarak….Ternyata memang suaranya dengan pronounciation yang apik, mengagumkan.  Inilah yang konon membuat bule-bule di luar negeri jadi terkesima dan gemes tak percaya.

Entah berapa puluh lagu dibawakannya siang itu antara lain Rainbows, The Temple of the King, Still Loving You…rupanya sudah banyak yang kenal, kecuali saya. Ketika ia menyanyikan I Don’t Wanna Talk About dari Rod Stewart, kemudian setelah lagu-lagu Hotel California …lalu What’s Up, barulah saya mengakui kehebatan lengkingan suaranya. “What’s going on…what’s going on, ”Teriaknya diikuti oleh kita-kita penonton.

Sempat pula ia membuka jaket dan menyopot topinya. Ketika ia turun dari stage  para pengagumnya langsung mengerubungi, minta berfoto.  Ramailah mereka saling bergantian berfoto-ria bersama sang bintang. “Suaranya bagus, wajahnya cakep, gayanya nggak lebay”, komentar istri saya yang rupanya sudah lama mengidolakan Dimas tanpa setahu saya.

Siang itu saya belajar sedikit, memahami selera baru, selera kaum muda. Supaya tidak ketinggalan zaman, memang kita tidak boleh terpaku pada masa lalu saja. Oke, oke..Tapi ketika Silver Fox manggung lagi, saya pun tak tahan untuk tidak ikut berteriak. “Come on, come on…Twist and Shout” Apa boleh, buat inilah lagu-lagu era saya yang tetap punya kenangan buat saya…

*Pengamat Sosial dan Mantan Jurnalis Majalah Berita Tempo

  Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *