Lain dengan di Belanda: Belajar dari Kecelakaan Sepeda

Oleh: Renville Almatsier*

Beberapa Minggu lalu terjadi kecelakaan yang mengenaskan di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta. Walau agak terlambat, sudah banyak analisa dan tanggapan tentang kejadian itu, saya mau sedikit urun rembug. Tidak jelas pasti apa yang sebenarnya terjadi. Korban kecelakaan itu adalah seorang pesepeda, kebetulan pejabat tinggi pemerintah. Menurut video yang beredar, korban menabrak sebuah bus yang sedang berhenti. Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian ini?

Berbagai analisa sepakat menyimpulkan bahwa hendaknya keselamatan pesepeda bisa lebih terjaga. Tentu saja kita setuju. but how? Mari kita kilas balik beberapa tahun ke belakang. Ketika itu masing-masing jalur dua arah, Thamrin-Kebayoran masih dipisahkan oleh jalur cepat untuk kendaraan roda empat dan  jalur lambat untuk sepeda motor serta kendaraan roda dua lainnya.

Kemudian muncul moda transportasi busway yang diadopsi dari Bogota. Disusul pembangunan moda MRT. Maka dibuat lajur khusus dengan pembatas, di sisi kanan jalan untuk bus-bus berukuran besar itu. Pengguna angkutan massal, bus, sangat diuntungkan oleh lajur tanpa hambatan itu.  Jalur cepat dan jalur lambat yang lama pun dilebur jadi satu. Khusus untuk pesepeda disediakan lajur di sisi kiri.  Namun penyatuan jalur cepat dan jalur lambat membuat kendaraan-kendaraan lain non-mobil,  sangat bebas bersigudu masuk ke jalur yang tadinya cuma dinikmati oleh kendaraan roda-empat.

Mungkin tadinya diharapkan sepeda motor akan mengambil lajur paling pinggir kiri itu berbagi dengan pesepeda — namun kenyataannya, namanya juga manusia selalu tertantang melanggar yang dilarang. Di jalur ini motor pun  bebas berseliweran sampai ke tengah jalan yang sudah padat oleh arus mobil.

Perkembangan selanjutnya, selain sudah ada Transjakarta di lajur khususnya, kini ada lagi bus listrik yang mendapat lajur paling kiri, berimpitan dengan lajur pesepeda tadi. Dalam jarak-jarak tertentu ada halte perhentian. Nah, inilah agaknya yang menjadi biang penyebab kecelakaan sepeda dua minggu lalu itu.

Jalan yang “sudah mengorbankan” satu lajur buat busway, kini harus berbagi lagi dengan bus-bus listrik yang ukurannya juga gede-gede. Bila bus-bus listrik warna oranye itu berhenti untuk menaik-turunkan penumpang, bus akan menyempitkan ruang bagi kendaraan lain bahkan menutup lajur khusus untuk pesepeda. Seringkali, jauh  dari belakang  sulit untuk pengendara mobil pribadi membedakan apakah bus di depan itu sedang berhenti atau bergerak.

Keberadaan dua macam bus itu tentu saja sangat membantu masyarakat. Kita tentu mendukung agar lebih banyak orang memanfaatkan transportasi umum. Lebih lagi kini tersedia alternatif tranportasi massal seperti Transjakarta, bus listrik, MRT, LRT dan Jaklingko agar orang meninggalkan kendaraan pribadi sehingga kemacetan dan polusi bisa berkurang.

Tetapi satu hal yang harus diakui bahwa jalur pesepeda yang disediakan khusus, kurang dimanfaatkan oleh pesepeda sehari-hari. Di sini berbeda dengan di Belanda yang berhawa tidak seterik Jakarta. Bahkan doeloe Perdana Menteri Mark Rutte pun mengayuh sepeda ke kantornya. Pejabat di sini lebih suka naik mobil ber-AC sambil membunyikn sirene. Yang banyak, pada hari-hari tertentu hanya pesepeda-rekreasi atau pesepeda-olahraga yang secara berombongan sering melaju dengan kecepatan tinggi.

Agar kecelakaan tidak terulang, beberapa hal bisa dilakukan. Mungkin terlalu mahal bila  jalur bus listrik disatukan kembali dalam jalur Transjakarta yang sudah tersedia. Tetapi itu akan melonggarkan arus kendaraan lain. Solusi paling praktis barangkali  di setiap halte bus-listrik, dibuat rambu dengan lampu peringatan khusus dan di setiap ekor bus dipasang lampu khusus pula  yang menunjukkan bahwa bus sedang berhenti atau berjalan.  Mudah-mudahan mendapat perhatian.

*Pengamat Sosial dan Mantan Jurnalis Majalah Berita Tempo

  Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *