Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
G. Perkembangan Teologi dan Filsafat Pasca-klasik: Kembali pada Kesederhanaan Ilahi
Era Paska-klasik — Pemikiran Islam menyaksikan pengaruh yang cukup besar dari filsafat Ibn Sīnā dan pemikiran mistik Ibn ʿArabī, baik di wilayah Ottoman, Persia, Asia Selatan, Asia Tenggara, atau Asia Timur. Banyak pemikir Muslim dalam tradisi Kalām dan Mistik mengadopsi argumen Ibn Sīnā tentang Tuhan sebagai Eksistensi Mutlak dalam Diri-Nya sendiri. Argumen ini menjadi sangat populer dan diajarkan di madrasah Muslim di seluruh wilayah Ottoman, Mughal, dan Safavid.
Selama dalam periode paska-klasik,Teologi Kalām dan Filsafat Ibn Sīnā menjadi begitu saling terkait sehingga Ibn Khaldūn (wafat 808/1406) berkomentar bahwa “masalah Teologi (Kalām) telah dirancukan dengan masalah filsafat (falsafa); Hal ini telah berkembang sedemikian jauh sehingga satu disiplin ilmu tidak lagi dapat dibedakan dari disiplin ilmu lainnya” (Ibn Khaldūn 2015: 522).
Salah satu contoh sintesis antara Kalām, falsafa, dan mistisisme Akbarī adalah bagaimana banyak pemikir Muslim pasca-klasik menyempurnakan pemahaman mereka tentang sifat-sifat Tuhan dan merangkul kesederhanaan ilahi. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Teologi klasik Asyʿarī, Maturīdī, dan Ḥanbalī berpendapat bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat entitatif (ṣifāt maʿnawīya), yang secara numerik berbeda dari Esensi (Zat) Tuhan dan berbeda satu sama lain. Mereka berpendapat bahwa sifat-sifat Tuhan tidak identik dengan Tuhan maupun terpisah dari-Nya.
Sementara di sisi lain, Mu’tazili, Syiah Dua Belas Imam, Syiah Ismaili, Syiah Zaidiyah, Ibadiyah, para Filsuf (Falasifa), Ishraqi, dan Sufi Akbari semuanya menjunjung tinggi kesederhanaan ilahi, yakni pandangan bahwa Tuhan melampaui sifat-sifat entitatif yang berbeda dari Zat-Nya. Pada era paska-klasik, beberapa Teolog Sunni terus menganut posisi sifat-sifat entitatif, dengan mencoba mendamaikan keyakinannya dengan ajaran Ibnu Sina bahwa Tuhan adalah Wujud Mutlak dalam Diri-Nya sendiri.
Al-Taftazānī (wafat 792/1390), misalnya, mengartikulasikan Teologi Asyʿarī tentang sifat-sifat ilahi dalam istilah Ibnu Sina: “Eksistensi Mutlak melalui Diri-Nya Sendiri (al-wājib al-wujūd li-dhātihi) adalah Tuhan Yang Maha Tinggi, dan sifat-sifat-Nya, artinya sifat-sifat ilahi itu mutlak karena Hakikat Yang Mutlak, Yang Maha Tinggi, tetapi sifat-sifat itu sendiri bersifat kontingen. Tidak ada kemustahilan dalam kekekalan makhluk-makhluk kontingen karena mereka ada dalam Hakikat Yang Kekal, menjadi mutlak melalui Dia” (al-Farhārī 2012: 268–269).
Dengan demikian, bagi al-Taftazānī, Hakikat Tuhan adalah Eksistensi Mutlak melalui Diri-Nya Sendiri, sedangkan sifat-sifat entitatif Tuhan yang tidak tercipta bersifat kontingen, bergantung secara kekal pada dan menjadi mutlak karena Hakikat Tuhan. Di sisi lain, sebagian besar teolog, filsuf, dan mistikus Muslim pasca-klasik di kalangan Sunni kemudian menolak atribut entitative untuk Tuhan dan menjunjung tinggi kesederhanaan ilahi. Pengikut Sunni Akbari dari Ibnu Arabi mempertahankan pandangan Apofatik tentang Esensi Tuhan yang identik dengan atribut-Nya.
Al-Qūnawi menyatakan bahwa Esensi Tuhan melampaui semua nama dan atribut dan bahwa atribut Tuhan harus dianggap identik dengan Esensi-Nya: “Di dalam Dia tidak ada banyak, komposisi [tarkīb], atribut, penggambaran [naʿt], nama, kesan, hubungan atau hukum – melainkan hanya Wujud semata”. Sebaliknya, nama-Nya identik dengan atribut-Nya, dan atribut-Nya identik dengan Esensi-Nya. Kesempurnaan-Nya sama dengan Wujud Esensial-Nya, yang ditetapkan untuk-Nya oleh Diri-Nya sendiri, bukan oleh orang lain. Kehidupan dan kekuasaan-Nya identik dengan pengetahuan-Nya’ (Chittick 2011: 122).
Abd al-Raḥmān Jāmī (wafat 897/1492) menarasikan bahwa “adapun kaum Sufi, mereka berpendapat bahwa sifat-sifat Tuhan identik dengan Zat-Nya dalam hal eksistensi (bi-ḥasab al-wujūd). tetapi berbeda darinya dalam hal penalaran (al-taʿaqqul)” (Jāmī 1979: 44).
Kaum Akbari berpendapat bahwa Tuhan, dalam Zat-Nya yang mutlak tanpa syarat, melampaui nama dan sifat. Ungkapan “Tuhan melampaui atribut-atribut entitatif” berarti sifat Tuhan begitu unik dan sederhana sehingga “atribut-atribut”-Nya (seperti pengetahuan, kekuasaan, kebaikan) bukanlah hal-hal atau bagian-bagian terpisah yang membentuk-Nya, tetapi identik dengan esensi-Nya sendiri, artinya Dia adalah Wujud itu sendiri, bukan hanya wujud dengan kualitas, sebuah konsep yang disebut Kesederhanaan Ilahi, yang menegaskan perbedaan radikal Tuhan dari ciptaan, di luar pemahaman atau komposisi manusia. Memahami Kesederhanaan Ilahi bahwa Tuhan tidak Terdiri dari Bagian-Bagian: Tidak seperti ciptaan, yang terdiri dari bagian-bagian (esensi + atribut), Tuhan benar-benar sederhana, tanpa kemultiplitas atau perbedaan internal.
Atribut (Esensi): Pengetahuan, kehidupan, kekuasaan Tuhan — bukanlah tambahan yang terpisah; itu adalah satu esensi Tuhan yang tidak terbagi. Tuhan tidak memiliki pengetahuan; Dia adalah pengetahuan itu sendiri
Transendensi: Doktrin ini menekankan transendensi absolut Tuhan, artinya Dia berada di luar kategorisasi sebagai suatu keberadaan (entitas) di antara makhluk lain, karena Dia tidak bergantung pada apa pun untuk keberadaan-Nya. Kontras dengan Teisme Kompleks; Pandangan ini (teisme klasik) kontras dengan teisme neo-klasik atau kompleks, yang berpendapat bahwa Tuhan memiliki atribut yang berbeda dan mutlak (seperti kekuatan, kasih) yang nyata tetapi tidak identik dengan esensi-Nya.
Implikasi Utama; Ketika kita berbicara tentang Tuhan yang “mengetahui” atau “berkuasa,” kita menggunakan bahasa manusia untuk menunjukkan realitas-Nya yang tidak terbatas dan tanpa syarat, mengakui bahwa istilah-istilah ini tidak cukup dan bahwa — Dia berada di luar jangkauan pemahaman manusia sepenuhnya, sebuah aspek inti dari transendensi ilahi. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta
Editor: Jufri Alkatiri
