Lorong Barzah dan Malaikat Tanpa Wajah

Oleh: Helmi Hidayat, MSi*

Di pengujung tahun yang segera ditinggalkan, Rabu 31 Desember 2025, sebuah kabar mengejutkan tiba di grup Whatsapp. Seorang kawan yang tidak pernah kami jumpai selama 42 tahun sejak kami tamat Gontor  tahun 1983 meninggal dunia. Namanya Sumar Nurjaya bin Kasiman asal Pandeglang, Banten. Dia tewas ditabrak mobil yang dikemudikan anak di bawah umur.

Seorang kawan di grup lalu meletakkan nama Sumar di urutan ke-44. Itu artinya almarhum adalah orang ke-44 di antara kami satu periode yang telah pergi mendahului kami menuju alam Barzah.  Barzah adalah bahasa Arab, yang dalam bahasa Inggris disebut ‘’transition’’. Sesuai namanya, ia adalah stasiun transisi antara alam dunia tempat sekarang kita hidup saat ini dan alam akhirat, tempat semua umat manusia nanti dibangkitkan dari kubur.

Kawan-kawan di grup berbeda pandangan tentang kematian. Sebagian besar menyebutnya berita duka. Buktinya Rasulullah SAW menangis terisak-isak saat Ibrahim, anak beliau dari Maria al-Qibtiyyah, meninggal dunia. Sebagian kecil melihat kematian sebagai kabar menggembirakan. Ketika seorang anak manusia wafat, menurut pendapat ini, sesungguhnya dia tengah bahagia lantaran segera berjumpa dengan Tuhannya. Jika kematian adalah kebahagiaan, mengapa mereka yang masih hidup harus bersedih hati dan menganggap kematian sebagai kabar duka?

Membaca 44 nama kawan-kawanku yang telah pergi selamanya, diam-diam, aku cemburu. Kapan giliranku pulang? Lama sekali aku penasaran tentang alam barzah. Lama sekali aku ingin tahu bagaimana rupa Malaikat. Lama aku ingin tahu bagaimana tabir surga atau tabir Neraka disibak di alam transisi untuk mereka yang sudah tiba di sana. Semua yang sering aku baca dan bayangkan itu hanya bisa kulihat jika aku mati.

Membaca satu demi satu 44 nama kawanku yang telah tiada tiba-tiba aku merasa pergi meninggalkan dunia ini. Dalam hening kulihat badanku terbujur kaku di tempat tidur. Tubuhku tidak bisa lagi digerakkan, sementara istri, anak-anak serta keluarga besarku menangis di sisi tubuhku yang dingin. Ruh yang semula ada dalam tubuhku, yang menjadi syarat utama badanku bisa bergerak, telah dicabut dari tubuhku.

Al-Quran menjelaskan, ruh adalah bagian dari Diri Allah (QS 15: 29; 38: 72) dan karena itu pasti kembali pada Allah. Ruh tidak dihisab, tidak akan masuk Neraka, sebab dia bagian dari Diri Allah. Tidak mungkin Allah menyiksa Diri-Nya sendiri.

Kalau begitu siapakah yang akan dihisab nanti kemudian entah masuk neraka atau surga? Jiwa, ya jiwalah yang bakal dihisab, lalu jiwa itu entah masuk Neraka atau Surga tergantung hisab. Tubuh kasar tempat jiwa itu bersemayam akan hancur ditelan Bumi, sedangkan ruh yang dititipkan padanya sudah kembali pada Allah.

Dalam bahasa Arab, jiwa disebut al-nafs. Makanya jika seseorang mati selalu dibacakan kepadanya: “Wahai jiwa yang tenang kembalilah pada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.” (QS 89: 27-28). Tidak pernah dikatakan kepada orang yang baru wafat: “Wahai ruh yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu …”

Kini jiwaku menyaksikan pelan-pelan tubuhku dimandikan, lalu dikafani, lalu dishalatkan, lalu digotong, untuk kemudian dikubur pelan-pelan. Kudengar mereka berdoa terakhir untukku di sisi kuburanku sebelum akhirnya meninggalkanku sendirian.

Dua Malaikat berjubah panjang dan berpenutup kepala datang menghampiriku. Keduanya mirip manusia tetapi wajah mereka rata — tidak ada alis, tidak ada mata, tidak ada hidung, tidak ada mulut. Mereka memberi isyarat agar aku ikut tanpa berkata apa-apa.

Sampai di sebuah tempat yang terang, kulihat rumah kaca raksasa penuh taman indah luar biasa. Di sana kulihat ayahku, ibuku, saudara-saudara dan sejumlah temanku yang telah wafat melambaikan tangan dari balik kaca sambil tersenyum ke arahku. Aku ingin berlari memeluk mereka, tetapi kedua Malaikat tadi menahanku.

Rupanya aku diajak ke arah ruang lain, juga sebuah rumah kaca raksasa, tetapi dengan suasana lebih redup, magis, nyaris tidak ada cahaya. Kulihat wajah-wajah penghuninya bermuram durja, sedih, menyesal, sebagian memukul-mukul wajah mereka sendiri sambil meminta agar dikembalikan ke dunia. Aku gemetar digiring ke rumah kaca itu lalu tanpa sadar berucap lirih: ‘’Astaghfirullah …’’

Mendengar istighfar dari mulutku, giliran kedua Malaikat itu tertegun. Kudengar salah satu berkata: ‘’Mestinya di sini tidak ada lagi anak manusia bisa beristighfar. Mengapa dia bisa beristighfar? Anak manusia ini pasti sedang tersesat.’’

Kedua Malaikat itu lalu menarikku bersamaan. Salah satu malaikat berkata tegas: ‘’Kamu salah jalan. Seharusnya kamu belum sampai di sini. Tetapi ruangan ini menandakan dosa-dosamu masih banyak. Cepat kembali ke ruang dan waktu. Itu lorong yang masih harus kamu lalui. Di sana Allah masih menggemari zikir dan rintihan taubatmu.’’  

Dalam sekejap aku terjerambab kembali ke dalam ruang dan waktu di Lorong 2026, meninggalkan pengembaraan spiritual yang kumulai dari Lorong 2025 dan tadi begitu mengasyikkan. Aku tertegun dan tiba-tiba rindu sekali dengan lorong kematian itu.

**) Sebagian tulisan ini terinspirasi kisah nyata tentang seorang preman di Jakarta Selatan yang mengalami mati suri selama sembilan jam; usai dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan siap digotong ke kubur, tiba-tiba dia bangun dengan tubuh diselimuti kain kafan dan wajah penuh kapas kematian.

*Dosen FDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengamat Keagamaan, dan Filsuf

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *