Jurnalis Manusia Versus AI (Akal Imitasi)

Oleh: Soleman Yusuf*

Dalam teori jurnalistik klasik, 5W + 1H dianggap sebagai fondasi utama penulisan berita. Pertanyaan tentang Who, What, When, Where, Why,dan How menjadi kerangka logis untuk menjawab kebutuhan publik atas informasi yang faktual, lengkap, dan berimbang. Namun, di era kecerdasan buatan, rumus itu tidak lagi menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin.

Kecerdasan buatan dapat memproses data lebih cepat, merangkai kalimat lebih rapi, bahkan meniru gaya penulisan manusia. Dalam hitungan detik, AI (Akal Imitasi) mampu menyusun berita yang memenuhi seluruh unsur 5W + 1H — namun di balik ketepatan itu, ada ruang kosong yang tidak bisa diisi algoritma: rasa atau Feel.

Feel dalam konteks jurnalistik bukan sekadar emosi, melainkan dimensi batin yang mencakup empati, intuisi, dan kepekaan moral. Dia adalah kemampuan manusia untuk menangkap makna yang tidak tertulis — jeda dalam suara nara sumber, keheningan setelah kehilangan, atau keberanian di tengah ketakutan. Hal-hal semacam itu tidak bisa dikuantifikasi oleh data, karena lahir dari pengalaman eksistensial manusia itu sendiri. Maka, ketika teknologi mengambil alih sisi teknis jurnalisme, peran jurnalis manusia justru bergerak ke wilayah yang lebih dalam: menafsirkan, memanusiakan, dan memberi makna.

Tugas jurnalis bukan lagi sekadar menjawab apa yang terjadi, melainkan membantu publik memahami apa arti dari yang terjadi. Di titik itulah, feel menjadi dimensi ke-7 setelah 5W + 1H , dimensi yang menegaskan bahwa jurnalisme bukan hanya pekerjaan berpikir, tetapi juga pekerjaan merasakan. AI mungkin menulis berita, tetapi hanya manusia yang bisa menulis kebenaran dengan nurani.

* Jurnalis Radio dan tinggal di Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *