Oleh: Kurniawan Zulkarnain*
Lebih dari satu bulan Indonesia berduka, tunjukkan empati pada saudara kita di Kawasan Sumatera. Tepatnya Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh diterjang banjir dan longsor. Pemicunya adalah hujan sangat ektrim dan diperparah oleh rusaknya ekosistem di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Bencana memporak-porandakan 52 Kabupaten 27 diantaranya terparah dan dinyatakan kawasan tanggap darurat yang perlu perhatian khusus.
BNPB per 31 Desember 2025 mencatat 1.141 meninggal,165 hilang. Infrastruktur yang terdampak: 147.236 rumah rusak,1.600 fasilitas umum, 219 fasilitas kesehatan,967 fasilitas pendidikan,434 rumah ibadah, 290 Gedung/kantor dan 145 jembatan rusak. Fasilitas yang rusak tersebut tersebar di 18 Kabupaten di Aceh,16 di Sumatera Barat, dan 18 Kabupaten di Sumatera Utara.
Berbeda dengan bencana Tsunami Aceh 2004 yang dinyatakan sebagai bencana nasional, tidak demikian halnya untuk bencana di Sumatera 2025. Dengan adanya jejaring informasi dalam hal ini medsos telah menimbulkan silang sengkarut dan salah faham antar- elemen bangsa. Tidak ditetapkannya sebagai bencana nasional telah menyebabkan sejumlah kekecewaan. Namun dibalik itu,bencana juga telah membangkitkan solidaritas kemanusiaan tanpa batas wilayah, kesukuan, dan Agama.
Bencana dan Kekacauan Neurotik
Bencana Sumatera bukan saja menelan korban jiwa dan hancurnya infra-struktur tetapi juga meninggalkan luka yang mendalam bagi korban yang selamat: hilangnya sanak keluarga yang dicintai, dan rumah tinggal. Sumber kehidupan dan perikehidupan juga hancur: sawah, ladang, warung/toko, dan ternak. Kehidupan seolah berhenti tanpa harapan — ,sebuah adegan tragedi kemanusiaan yang memilukan.
Dalam pengananan setiap bencana termasuk bencana Sumatera sering terjadi apa yang disebut dengan kekacauan neurotic yaitu kondisi dimana para korban bencana dan para relawan mempunyai respon emosional dan mental yang kacau: kecemasan yang berlebih,panik dan reaktif serta stres yang dipicu oleh penanganan yang lemah dan kurang kordinasi antar pelaku serta merebaknya berita hoax yang sering kurang empatik.
Kelompok rentan anak-anak, ibu hamil, penyandang kebutuhan khusus, dan lansia merupakan korban paling menderita dan mengalami gangguan stres pasca-bencana. Gangguan ini dapat membekas khususnya pada anak-anak. Sejumlah lembaga relawan seperti Muhammadiyah Disaster Manajemen Centre (MDMC) dalam menyelenggeraan Program Psiko Sosial di Desa Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan. Langkah ini merupakan langkah yang tepat dan patut dicontoh.
Dalam 72 jam pertama, sejumlah relawan bahu membahu dengan Basarnas,TNI/Polri melakukan penyelamatan. Selama 72 jam pertama merupakan masa kritis bagi korban masih hidup yang tertimbun kayu dan bangunan untuk dapat bertahan hidup dengan oksigen dan daya tahan yang dimilikinya. Diduga,karena sulitnya medan menuju daerah terdampak,menambah jumlah korban. Misi penyelamatan tanpa mengenal waktu telah terlaksana.
Kini, korban bencana tengah menunggu gerak cepat Pemerintah membangun hunian sementara (huntara) dan sarana pendukungnya.Sambil menunggu rehabilitasi fasilitas publik :kantor pemda,rumah sakit,jembatan dan sarana lainnya. Masalah pokok lainnya adalah pemulihan ekonomi masyarakat agar peri-kehidupan tidak berhenti. Pemulihan awal ekonomi melalui rantai pasok merupakan isu yang mendesak.
Gerakan spontan seluruh elemen bangsa menunjukkan adanya kekuatan bawah sadar yang menggerakan yaitu solidaritas mencintai kehidupan. Sebuah etika yang merujuk pada prinsip-prinsip moral yang menekankan martabat,hak asasi dan penghormatan terhadap kehidupan. Etika ini mengendap dalam berbagai tradisi termasuk agama dan filsafat. Perilaku etik yang mendorong harmoni dan mencintai antar-sesama manusia. Wallahu ‘Alam Bi Sowab.
*Konsultan Pemberdayaan Masyarakat
Editor: Jufri Alkatiri
