Renungan Dino Jemuwah: Dzikir Menyebut Nama-Nya

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

I. Dzikir Menyebut Nama-Nya

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya (QS. Al-Baqarah ayat 31). Pandangan Qur’an tentang Nama, Suara, dan Arsitektur Pemikiran, yang pada era digital sekarang baru mulai dapat dipahami: Di berbagai budaya dan peradaban, pemberian nama tidak pernah merupakan tindakan acak.

Dalam banyak tradisi kuno terutama dalam sistem Semit, Yunani, dan India, awal tindakan memberi nama bayi yang baru lahir diperlakukan sebagai inisiasi yang diperhitungkan, bukan sekadar label. Suara, fonem, atau suku kata yang dipilih diyakini selaras dengan kondisi kelahiran yang berlaku: waktu, lingkungan, siklus planet, dan konfigurasi energi yang dirasakan dari individu tersebut; Ini bukan tentang memprediksi takdir; Bukan pula tentang takhayul; Ini tentang koherensi.

II. Gema Suara Dzikir sebagai Interaksi, bukan Simbol

Pemikiran moderen memperlakukan nama sebagai simbol pengidentifikasi  arbitrer (mana suka) yang melekat pada individu. Tetapi tradisi (sunnah) ibadah memperlakukan suara dzikir dengan sangat berbeda. Suara Dzikir dipahami sebagai: getaran, ritme, pola, dan interaksi.

Nama bukanlah “apa yang Anda dipanggil,” tetapi apa yang berulang kali berinteraksi dengan Anda (di-dzikir-kan). Setiap kali sebuah nama diucapkan: memicu pola fonetik, menginduksi aktivitas saraf, memulai respons emosional dan kognitif, serta memperkuat ritme internal tertentu. Seiring waktu, pengulangan asma dan kata dalam dzikir membentuk jalur pikiran, kecenderungan emosional, dan bahkan persepsi diri. Ini bukan metafisika; Ini adalah psikologi yang dapat diamati.

Psikologi moderen secara tidak sengaja mengkonfirmasi; bahwa saat ini, psikologi mengakui bahwa: kata-kata memengaruhi kognisi, bunyi yang berulang menciptakan keakraban dan bias, fonetik memengaruhi respons emosional, label mengubah citra diri dan perilaku. Studi juga menunjukkan bahwa: nama memengaruhi kepercayaan diri, perlakuan sosial bervariasi berdasarkan persepsi nama, dialog internal dibentuk oleh struktur linguistik. Secara sederhana: pola suara mempersiapkan pikiran. Dalam tradisi dzikir telah menyadari bahwa gelombang suara dzkir  membentuk jiwa dan pikiran positif jauh sebelum pencitraan saraf ada.

III. Mengapa Fonem Berbasis Garis Edar Planet?

Ketika tradisi dzikir mengaitkan fonem awal (ketika lahir) dengan konstelasi atau siklus edar bulan, tujuannya bukanlah takdir atau kendali. Itu adalah keselarasan. Idenya adalah: bayi baru lahir memasuki ritme lingkungan tertentu, sistem saraf mereka sangat plastis, paparan berulang terhadap suara tertentu dapat membantu menstabilkan koherensi internal daripada menciptakan resistensi. Nama-nama tersebut dimaksudkan untuk mengalir bersama sistem, bukan melawannya. Bahkan hingga saat ini, kita melihat: nama-nama tertentu terasa “mudah” diucapkan, yang lain menciptakan gesekan, beberapa membangkitkan ketenangan, yang lain ketegangan.nIni bukan suatu kebetulan.

IV. Nama sebagai Penginisia Pikiran

Sebuah wacana penting yang sering terlewatkan: Nama biasanya merupakan bunyi pertama yang menginisiasi pemikiran tentang diri sendiri. Mendengar nama sendiri: mengganggu alur mental yang sedang berlangsung, mengarahkan kembali perhatian, mengaktifkan pemrosesan terkait identitas. Jika bunyi tersebut mengandung kekerasan, konflik, atau ketidaksesuaian, dia menciptakan resistensi mikro. Jika mengandung koherensi, dia mendukung stabilitas. Ini berlaku tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk cara kita memberi nama: tempat, ide, teknologi, bahkan konsep ilmiah. Nama tidak hanya menggambarkan realitas, tetapi juga membentuk cara realitas didekati.

V. Mengapa Pengetahuan Fonem Memudar

Seiring evolusi bahasa, sistem menjadi lebih sederhana. Skrip menggantikan pemahaman berbasis bunyi. Ritual menjadi dogma. Makna digantikan oleh pengulangan. Akhirnya, penamaan menjadi dekorasi budaya daripada desain fungsional. Namun prinsip dasarnya tidak pernah hilang. Kita masih hidup berdasarkan prinsip itu secara tidak sadar.

VI. Perspektif yang lebih Luas

Jika kesadaran itu sendiri bersifat universal, dan jika interaksi mendahului representasi, maka suara adalah salah satu jembatan paling mendasar antara bentuk dan kesadaran. Nama bukanlah takdir, Nama adalah masukan resonansi, Nama tidak mengendalikan kehidupan, Nama memengaruhi aliran. Dan mungkin pemahaman kuno bukanlah tentang mengetahui segalanya, tetapi tentang campur tangan sesedikit mungkin terhadap apa yang sudah ada. Terkadang, kebijaksanaan bukanlah tentang menambahkan makna, tetapi tentang memilih suara yang tidak mendistorsinya.

Melalui analogi yang jelas, perspektif eksperimental, dan reinterpretasi moderen, Kisah Suara Dzikir menawarkan jembatan antara intuisi spiritual dan penyelidikan ilmiah mengundang para pembaca untuk menemukan kembali realitas bukan sebagai konstruksi statis, tetapi sebagai terjemahan resonansi yang berkelanjutan.

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *