Oleh: Helmi Hidayat, MSi*
Sebuah tafsir bahwa Nabi Zakaria AS diam-diam sesungguhnya menginginkan Maryam melahirkan seorang putera dari benihnya muncul dalam diskusi tentang Al-Quran di Hotel Kristal, Jakarta Selatan, Minggu (22/2/26) sore. Narasumbernya adalah Dr. Hany Atchan, scholar Arab Libanon yang mengaku sudah 40 tahun mendalami Al-Quran, menekuni 28 buku babon tafsir, 12 terjemahan Al-Quran, dan lusinan buku tentang tafsir kontemporer Al-Quran.
Kedatangan Atchan ke Jakarta, termasuk fasilitas diskusi dan buka puasa bersama di hotel itu, ditanggung oleh seorang kapten kapal asal Singapura, Dr. Muhammad. Ia mengaku haus spiritualitas, ingin memahami Al-Quran sampai ke akar-akarnya, lalu memilih banyak perguruan tinggi Islam di Indonesia sebagai tempatnya berlabuh. Saya sendiri diundang ke forum diskusi yang membahagiakan itu oleh Prof. Andi M. Faisal Bakti, guru besar ilmu komunikasi di UIN Jakarta yang menaruh minat besar pada filsafat dan ilmu kalam.
Menurut Atchan, Al-Quran adalah buku suci ajaib yang ketika seseorang terpanggil untuk mendalaminya, ia akan terus masuk ke dalam ”divine sciences” yang seolah tanpa titik. Ia menyebut banyak contoh, misalnya surat Yusuf yang disebutnya lebih banyak berbicara tentang sosio-politik ketimbang kisah cinta Yusuf dan Zulaikha, atau kisah-kisah Adam di banyak surat yang penuh absurditas, juga kata ‘’ba’udhah’’ dalam QS al-Baqarah: 26 yang selama ini, kata dia, secara lucu diterjemahkan sebagai ‘’nyamuk’’. Terakhir tentang Nabi Zakaria yang, dalam tafsirnya, sebenarnya diam-diam ia menginginkan Maryam melahirkan seorang anak dari benihnya.
Tafsir Atchan tentang hubungan unik Zakaria-Maryam ini tentu saja baru buat saya, bahkan mencengangkan. To some extent tafsir ini bisa membangkitkan kontroversi bukan saja di tengah non-Muslim yang meyakini Maryam atau Maria adalah perawan suci, tapi juga di tengah mayoritas Muslim sendiri yang mayoritas percaya perempuan suci pilihan Allah itu tak pernah disentuh satu lelaki pun alias masih perawan kendati ia melahirkan Nabi Isa alias Yesus.
Atchan memulai tafsirnya dari QS Ali Imran ayat 35 – 43. Di ayat 38 surat itu, Nabi Zakaria diungkapkan berdoa agar ia diberi keturunan yang baik dari Allah dengan frasa min ladunka. Sebagai orang Arab yang tentu sangat paham bahasa Arab. Umumnya, kata dia, orang Arab cukup mengatakan min-ka untuk menyatakan ‘’dari Engkau’’. Karena itu, Atchan menilai penggunaan kata ‘’min ladunka’’ ini pastilah sebuah kesengajaan dari Allah, untuk menegaskan bahwa bersama pemberian keturunan itu terkandung pula harapan dianugerahkannya ‘divine sciences (ilmu ketuhanan) yang datang dari Tuhan, yang mengabadikan divine sciences serupa yang telah diturunkan secara berkesinambungan kepada Nuh, Ibrahim, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, dan Daud.
Soal ini Zakaria lama sekali galau. Jika ia sampai tak punya anak, berarti transfer divine sciences dari Allah lewat Jibril akan berhenti sampai dirinya saja. Dia pesimis perempuan yang hidup satu atap dengannya mampu menampung benih dahsyat darinya, yang jika lahir ke dunia, benih yang menjadi sosok manusia itu nantinya akan mampu menerima transfer divine sciences.
Pesimisme Zakaria itu, kata Atchan, bisa dilacak dari diksi imra’ati, bukan zaujati, yang dipakai oleh Zakaria saat mengadu pada Allah (QS Ali Imran: 40). Kata imra’atun dalam sosiologi bangsa Arab merepresentasikan subordinasi sosok perempuan di bawah ketiak lelaki. Itu artinya perempuan di sampingnya selama ini hanyalah perempuan biasa saja.
Status dan kualitas perempuan yang bakal melahirkan anaknya dalam pandangan Zakaria menjadi sangat signifikan. Dalam doanya yang diabadikan dalam QS Maryam ayat 5, Zakaria tidak meminta kepada Allah agar diberikan ‘’ibnan’’ (anak biologis), melainkan waliyyan (anak biologis sekaligus spiritual). Hanya waliyyan sajalah yang bisa berperan sebagai transponder pesan-pesan langit yang ditransfer oleh Jibril kepada seorang manusia.
Nah, siapakah perempuan ideal yang hidup di muka bumi di era Zakaria itu yang bisa memenuhi harapannya? Dia tak lain adalah Maryam! Indikator bahwa Maryam adalah perempuan ideal dalam imajinasi Zakaria bisa dilacak dalam Al Quran surat QS Ali Imran ayat 37. Ayat ini mengabadikan betapa Zakaria terkesima mendapati Maryam di mihrab memperoleh ‘’rizqun’’ dari sisi Allah. Selama ini, kata Atchan, hampir semua ahli tafsir dan penerjemah Al-Quran mengartikan ‘’rizqun’’ sebagai makanan siap santap. Kalau sekadar makanan, buat apa Jibril repot-repot mengantarkannya kepada Maryam saat dia lapar? Maryam adalah perempuan salehah, yang siap beribadah puasa sebanyak mungkin. Jadi mustahil dia kelaparan hingga membuat Jibril sampai membawakan makanan buat dia.
Kalau begitu, apa tafsir Atchan tentang kata rizqun? Kata dia, rizqun itu bukan sepiring gandum plus buah-buahan, melainkan divine sciences, persis seperti divine sciences yang juga diterima Nuh, Ibrahim dan seterusnya sampai Zakaria (makanya wajar jika ada yang berpendapat tidak semua nabi laki-laki sebab ada juga perempuan yang diberi anugerah kenabian, yaitu Maryam).
Maka, ketika Zakaria terus merintih pada Allah agar diturunkan kepadanya seorang ‘’waliyyan’’ (bukan ibnan) dan itu hanya mungkin dilakukan oleh Maryam, menurut Atchan, Allah pun menjawab doa-doanya. Tapi, sebagai manusia, wajar Zakaria penasaran, apa tanda-tanda bahwa Maryam bersedia? Dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 41, Allah menyatakan bahwa tanda-tandanya adalah Maryam akan berdiam diri, tak berkomunikasi dengan satu manusia pun, selama tiga hari. Atchan lalu mengutip hadis Nabi SAW yang menyatakan saat seorang perempuan dilamar, ‘’diamnya adalah persetujuannya.’’
Dengan tafsirnya ini Atchan tentu melawan arus besar. Jika selama ini hampir semua ahli tafsir menerjemahkan frasa selalu merujuk kepada Zakaria sebagai subjek kata kerja, artinya Zakaria tidak akan berkomunikasi kepada siapa pun selama tiga hari tiga malam, Atchan mengatakan subjek kata kerja justru merujuk kepada Maryam!
Kalau begitu, apakah Yahya adalah anak Zakaria dari rahim Maryam? Di forum diskusi itu Atchan belum sampai menegaskan status Yahya ini. Dia hanya menegaskan, Maryam bukanlah perawan. Ada dua alasan dia kemukakan. Pertama, tidak ada satu ayat pun dalam Al-Quran yang menegaskan keperawanan Maryam. Kedua, dalam perdebatan Nabi SAW dengan para pendeta Nashrani yang datang kepadanya di Madinah tahun sembilan hijriah, salah satu perdebatan yang mengemuka adalah soal status keperawanan Maryam ini.
Bagaimana kita menyikapi tafsir Dr. Hani Atchan ini? Santai, jangan emosional. Biasakan tafsir dilawan tafsir, argumentasi versus argumentasi, logika diperhadapkan logika. Kita akan merendahkan tingkat peradaban kita sendiri jika terbiasa melaporkan tafsir ke polisi. Yakinkah para pelapor yang pernah datang ke kantor polisi melaporkan tafsir orang lain yang dianggap bertolak belakang dengan tafsir mereka itu bahwa polisi adalah ahli tafsir al-Quran, ahli teologi, juga ahli ilmu kalam?
Benar, al-Quran adalah kitab suci, tapi ayat-ayat yang tertulis di dalamnya adalah teks-teks mati. Teks-teks itu akan hidup, berdialog dengan kita, jika kita sendirilah yang menghidupkan teks-teks itu dengan api ilmu yang banyak, mulai dari lmu asbabun nuzul, penguasaan bahasa Arab, sosiologi, antropologi, politik, sejarah, bahkan matematika.
Dr. Hani Atchan mengelola web bernama www.marvelousquran.org yang di dalamnya kerja-kerja ilmiahnya tentang tafsir al-Quran dia tumpahkan. Silakan berselancar di dalamnya sambil menikmati betapa ajaib buku suci bernama Al-Quran al-Karim.
*Dosen FDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengamat Keagamaan, dan Filosof
Editor: Jufri Alkatiri
