Oleh: Soleman Yusuf*
Di dunia yang dipenuhi krisis iklim, utang negara, dan harga cabai yang tidak kunjung stabil, ternyata ancaman terbesar bukan asteroid. bukan juga kecerdasan buatan, tetapi kakek-kakek yang belum siap pensiun dari panggung sejarah. Coba lihat peta konflik global hari ini. Di satu sisi ada dinamika panas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Di sisi lain, perang panjang antara Rusia dan Ukraina yang belum juga menemukan titik jeda. Jika kita perhatikan dengan kacamata psikologi politik, banyak keputusan besar dunia lahir dari tangan para pemimpin yang usianya sudah melewati masa diskon tiket bioskop.
Secara ilmiah, usia lanjut bukan masalah. Banyak negarawan besar matang justru karena pengalaman tetapi masalah muncul ketika ego lebih panjang dari umur harapan hidup. Warisan sejarah terasa lebih penting daripada generasi masa depan. Legacy lebih dikejar daripada solusi.
Fenomena ini oleh sebagian ilmuwan disebut sebagai late-life power consolidation syndrome — kecenderungan mempertahankan pengaruh di usia senja demi memastikan nama tetap tercatat tebal dalam buku sejarah. Istilah ini memang tidak selalu resmi, tetapi polanya nyata.
Masalahnya, ketika kakek-kakek keras kepala berdebat di warung kopi, yang pecah cuma cangkir, tetapi ketika kakek kakek memimpin negara dan saling gengsi yang pecah bisa satu kawasan. Kenapa secara psikologis bisa lebih berbahaya? Risk Perception — Bias, orang di usia lanjut bisa memiliki persepsi risiko berbeda — merasa “tidak ada lagi yang perlu ditakuti”. Dalam politik, ini bisa berubah jadi keberanian ekstrem.
Legacy Anxiety
Keinginan meninggalkan jejak monumental seringkali membuat keputusan menjadi dramatis, bukan pragmatis. Lingkaran dalam yang Homogen. Pemimpin senior cenderung dikelilingi orang-orang lama yang jarang membantah. Akibatnya, kritik terdengar seperti pengkhianatan, tetapi tentu saja, tidak adil menyalahkan usia semata. Dunia juga dipenuhi pemimpin muda yang impulsif. Masalahnya bukan di uban, tetapi cara berpikir. Satire kakek-kakek gabut — sebenarnya sindiran untuk struktur kekuasaan global yang: minim regenerasi, sarat ego geopolitik, lebih cepat memobilisasi misil daripada memobilisasi dialog. .
Dunia tidak butuh pahlawan perang baru. Dunia butuh orang yang rela tidak terkenal demi perdamaian — karena kalau perang terus diproduksi oleh orang-orang yang masa depannya tinggal beberapa sentakan nafas, sementara yang mewarisi dampaknya adalah generasi yang baru belajar menabung… itu bukan geopolitik. Itu ironi.
*Jurnalis Senior dan saat ini berkerja di Radio Republik Indonesai (RRI) Bandung
Editor: Jufri Alkatiri
