Utan Pitik dan Dapur Susu Cilandak Barat

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*

Dahulu, sebelum RS Fatmawati berdiri pada 1954, daerah yang sekarang dikenal sebagai tempat perawatan kesehatan untuk penyakit  TBC dan Ortopedi, — awalnya hanya diperuntukkan bagi pasien berpenyakit TBC dan Ortopedi — tetapi setelah diresmikan kembali pada 1967 oleh gubernur Ali Sadikin dan diganti namanya dari RS. Ibu Sukarno menjadi RS. Fatmawati, RS. tersebut tidak hanya melayani pasien penyakit TBC dan Ortopedi, tetapi sudah menerima pasien dari berbagai penyakit, mulai dari pasien berpenyakit ringan hingga pasien berpenyakit berat. Semuanya dirawat dalam satu atap pelayanan bernama RSU Fatmawati. RS tersebut cukup besar, bahkan sebelum masuk jaringan listrik dari PLN, sudah memiliki mesin diesel sendiri yang cukup besar dan bunyinya sampai ke Lebak Bulus 3. Terkadang, bunyi diesel juga menjadi penanda waktu, karena saat itu belum memiliki jam dinding atau weker.

Untuk memenuhi ketersediaan sarana dan fasilitas RS tersebut, Departemen Kesehatan membangun kawasan pemukiman di sekitar kawasan RS. Fatmawati. Saat itu, kawasan perumahan khusus untuk tenaga medis masih berupa hutan karet yang membentang mulai dari Pasar Minggu hingga Cilandak Barat. Di dalam kawasan hutan terdapat sebuah danau atau setu, namanya Setu Sepat, karena memang banyak ditemukan ikan jenis sepat, gabus, lele dan lain sebagainya. Ikan-ikan tersebut sekitar satu sampai enam bulan sekali, sering dituba, semacam diracun ringan oleh masyarakat sekitar untuk mengambil ikan-ikan tersebut.

Ternyata — bukan hanya masyarakat yang datang mencari ikan, juga banyak burung Blekok, Kuntul, atau Bangau Tong Tong putih yang kecil. Selain bangau, juga banyak bebek terbang berwarna putih dan lainnya berdatangan mencari makan ikan di sekitar wilayah Danau Sepat. Mereka mencari ikan yang bisa dimakan. Melihat banyak burung putih, apakah blekok, bebek,  atau burung belibis, orang Betawi sekitar menyebutnya Pitik atau Itik.

Menurut informasi dari tokoh masyarakat sekitar, sebut saja namanya H. Leman bahwa penyebutan burung yang datang mencari makan di Danau Sepat kebanyakan berwarna putih, seperti Blekok atau Bebek Putih. Menurut masyarakat yang tinggal di daerah tersebut, burung putih tersebut mereka sering menyebutnya dengan nama Pitik, berasal dari bahasa daerah Itik.  Sayangnya, akibat modernisasi dan pembangunan, Hutan Pitik dan Setu Sepat hanya tinggal nama, karena lokasinya sudah jadi perumahan Pertamina dan lapangan golf yang menjadi salah satu ikon Cilandak Barat.

Lapangan Golf dan Dapur Susu

Perluasan perumahan dinas RS. Fatmawati yang menjadi tempat tinggal para tenaga medis, berdampak pada hilangnya pemandangan menarik dari kedatangan burung atau bebek yang terjadi setiap pagi dan sore hari. Saat sebelumnya, hutan Pitik dan kedatangan para Pitik, menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat sekitarnya — tetapi, setelah jadi bangunan dan lapangan golf serta Mall — semua hanya tinggal kenangan semata. Sementara lapangan golf masih tersp eksis hingga kini bahkan sering digunakan sebagai lokasi perlombaan nasional dan internasional.

Masyarakat asli yang dahulu tinggal di sekitar wilayah Setu Sepat, hanya bekerja sebagai pemungut bola golf, kedi, dan pembersih rumput golf. Akibat dari modernisasi wlayah itu — sedang perumahan Pertamina sampai saat ini masih menjadi tempat tinggal para pegawai dan pejabatPpertamina. Bahkan para pensiunan.

Di sebelah Hutan Pitik ada satu keluarga peternak sapi perah, yang memerah susu sapi untuk dijual ke pelanggan. Biasanya, sebelum dijual, susu sapi tersebut dimasak terlebih dahulu untuk bisa langsung diminum. Dapur yang sering digunakan memang berada di jalan Cilandak, berseberangan dengan jalan Lebak Bukus 3, kediaman saya — karena itu, masyarakat yang sering melewati jalan depan Dapur Susu, menyebutnya dengan Jalan Dapur  Susu. Jalan tersebut masih ada sekarang. Lokasinya bersebelahan dengan Mall sebelah kiri.

*Profesor Sejarah dan Peradaban. Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *