Panduan Tipis Menggedor Tirani

Oleh: Cak AT – Ahmadie Thaha*

Ada buku yang tebal seperti bantal hotel tetapi isinya cuma membuat pembaca menguap. Ada pula buku yang tipis seperti amplop undangan, tetapi membuat para penguasa mendadak susah tidur. Kitab karya Abdurrahman al-Kawakibi termasuk jenis yang kedua.

Kitab yang aslinya berjudul  Ṭabā’i‘ al-Istibdād wa Maṣāri‘ al-Ist‘ibād,  itu tidak terlalu tebal, tetapi cukup untuk membuat para tiran merinding seperti ayam kehujanan. Judulnya saja sudah bisa membuat kursi kekuasaan bergetar.

Mari saya terjemahkan judul itu ke dalam bahasa Indonesia, kira-kira begini: Watak-Watak Tirani dan Jalan Kehancuran Perbudakan. Penerbit Turos Pustaka meluncurkan buku ini dalam Bahasa Indonedia dengan judul provokatif: Panduan Melawan Tirani.

Acara peluncurannya yang dibarengi buka puasa bersama para pegiat buku kabarnya hangat dengan karpet indah dan diskusi serius. Saya hanya dapat siaran persnya, yang anehnya tidak menjelaskan satu hal paling penting: sebenarnya buku terjemahan ini berasal dari kitab apa?

Kitab tipis alias booklet ini ditulis oleh Abdurrahman al-Kawakibi (1855–1902), seorang pemikir reformis dari Aleppo, Suriah. Dia hidup pada masa Kekaisaran Ottoman sedang batuk-batuk tua akibat penyakit klasik politiknya: kekuasaan absolut yang terlalu lama.  Kawakibi melihat penyakit itu dengan mata dokter yang jujur. Dia tidak sekadar mengeluh, tetapi membedahnya seperti ahli patologi. Yang menarik, dia tidak menulis kitab ini dari menara gading universitas. Dia menulisnya seperti orang yang hidup di tengah badai politik.

Dia marasakan tirani itu seperti minum tonikum pahit – Dia  pernah dipenjara, dibungkam, dan akhirnya memilih hidup tegar dalam pengasingan di Mesir. Jadi ketika dia berbicara tentang tirani, itu bukan teori seminar. Itu pengalaman hidup. Dalam kitab itu Kawakibi menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sederhana tetapi sering dilupakan: tirani tidak pernah berdiri sendirian. Dia selalu ditemani dua sahabat setia yang mendukungnya dan mesti ada: ketakutan rakyat dan kebodohan yang dipelihara.

Dia menulis dengan nada yang hampir seperti satire. Katanya kira-kira begini: tiran itu takut pada tiga hal — ilmu, kesadaran rakyat, dan kebebasan berpikir.  Karena itu, seorang tiran selalu berusaha membuat rakyat sibuk dengan hal lain. Di antaranya, sibuk ritual tanpa makna, konflik kecil  furu’iyah_ yang tidak begitu penting, atau propaganda yang membuat orang lupa berpikir. Jika kalimat itu dibaca hari ini, rasanya seperti membaca berita pagi.

Kawakibi juga menjelaskan bahwa tirani tidak hanya hidup di istana. Tirani bisa bersembunyi di banyak tempat: dalam lembaga politik yang kehilangan fungsi, dalam ulama yang terlalu dekat dengan kekuasaan, bahkan dalam masyarakat yang dibuat nyaman dengan ketakutan. Dengan bahasa yang tenang tetapi tajam, Kawakibi menyebut bahwa tirani adalah penyakit yang merusak semua institusi: agama, ilmu pengetahuan, moral publik, bahkan ekonomi.

Dalam sistem kekuasaan tirani, kata Kawakibi, orang yang jujur sering dianggap berbahaya, sementara orang yang pandai memuji penguasa dianggap patriot. Sebuah definisi sederhana namun mencerahkan, yang berlaku hingga sekarang. Tidak heran, karena kesederhanaannya, kitab ini berkali-kali dilarang pada zamannya. Bagi penguasa otoriter, buku semacam ini lebih berbahaya daripada demonstrasi. Demonstrasi bisa dibubarkan. Buku bisa hidup ratusan tahun.

Karena itu menarik ketika hari ini kitab tersebut diterjemahkan kembali dan dibahas dalam diskusi publik. Feri Amsari melihatnya dari perspektif konstitusi modern, sementara mahasiswa seperti Tiyo Ardianto membacanya sebagai panggilan keberanian sipil.

Dua generasi yang berbeda, tetapi menemukan kegelisahan yang sama. Dalam diskusi itu, Feri Amsari mengingatkan bahwa melawan tirani tidak selalu dimulai dari jalanan atau ruang sidang pengadilan. Kadang ia justru dimulai dari sesuatu yang tampak lebih sunyi: literasi.  Yang dimaksud “literasi” tidak lagi kegiatan membaca, memahami, dan memperdebatkan gagasan. Menurutnya, tradisi berpikir kritis seperti inilah, yang dilindungi undang-undang, yang selama ini justru kurang tumbuh dalam budaya politik kita.

Feri juga menyinggung bahwa tirani sering tidak muncul sebagai sosok raksasa yang menakutkan. Dia justru hadir dalam bentuk yang lebih banal: institusi yang kehilangan fungsi pengawasan, elite yang saling melindungi. Tirani juga mudah tumbuh di tengah publik yang semakin jarang membaca gagasan serius, termasuk tentang kekuasaan dan negara. Dalam kondisi seperti itu, literasi bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan bentuk keberanian sipil. Karena itu tema “Melawan Tirani dengan Literasi” dalam acara buka puasa bersama insan perbukuan itu terasa menarik. Seolah mengingatkan bahwa tirani tidak hanya dilawan dengan demonstrasi, tetapi juga dengan buku.  Bahkan dalam banyak kasus sejarah, perubahan besar justru dimulai dari teks yang dibaca diam-diam oleh masyarakat yang mulai sadar.

Pandangan itu diamini oleh Tiyo Ardianto dari BEM UGM yang melihat buku karya al-Kawakibi ini sebagai semacam pemantik imajinasi politik generasi muda. Menurutnya, tirani bertahan bukan hanya karena kekuasaan yang kuat, tetapi juga karena masyarakat kehilangan keberanian berpikir kritis. Dalam bahasa yang lebih sederhana, tirani sering kali hidup subur ketika masyarakat berhenti membaca dan berhenti bertanya. Karena itu, literasi menjadi semacam vaksin intelektual. Ia tidak langsung menjatuhkan tiran, tetapi membuat masyarakat kebal terhadap propaganda, ketakutan, dan manipulasi kekuasaan. Dan mungkin di situlah kekuatan buku ini. Dia tidak memberi resep revolusi seperti buku manual memperbaiki motor. Dia hanya membuka mata pembaca: tirani selalu punya pola yang sama sepanjang sejarah.

Dari Aleppo abad ke-19 sampai negara modern abad ke-21, penyakitnya hampir identik. Yang berubah hanya kostum dan jargon. Kadang ia memakai seragam militer. Kadang dia memakai jas demokrasi. Maka ketika seseorang membaca kitab Kawakibi hari ini, sebenarnya ia sedang membaca cermin sejarah. Dan seperti semua cermin yang jujur, ia kadang membuat kita tidak terlalu nyaman melihat wajah sendiri. Tetapi justru di situlah pelajaran terpentingnya. Bahwa melawan tirani tidak selalu dimulai dengan revolusi besar.

Kadang dia dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana: membaca, berpikir, dan berani mengatakan bahwa kekuasaan tidak selalu benar. Buku mungkin hanya kumpulan huruf. Tetapi sejarah berkali-kali membuktikan: huruf yang jujur bisa lebih tajam daripada pedang.

*Jurnalis Senior dan Editor Sejumlah Buku Azyumardi Azra

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *