Oleh: Jalil Irfanartiko*
Hari Raya Idul Fitri di Indonesia tidak pernah lepas dari perayaan Gastronomi. Meja makan di ruang keluarga selalu dipenuhi oleh hidangan klasik yang menggugah selera: Opor Ayam, Rendang, Ketupat, Gulai, hingga Sambal Goreng Ati. Dominasi olahan daging berbasis santan ini — seolah telah menjadi syarat sah perayaan Lebaran — namun, di balik kelezatan yang tersaji, tersimpan jejak panjang akulturasi budaya dan dinamika kompromi lidah masyarakat Nusantara.
Asal Mula Menu “Wajib” Bersantan
Dari mana tradisi hidangan Lebaran ini bermula? Opor Ayam dan masakan bersantan lainnya sejatinya merupakan hasil perkawinan budaya yang brilian. Penggunaan rempah yang kuat dan bumbu berkuah mendapat pengaruh besar dari tradisi kuliner Arab dan India (seperti Kari dan Gulai) yang dibawa oleh para pedagang — namun, karena peradaban Nusantara masa lampau tidak memproduksi susu atau Yogurt secara masif layaknya di Timur Tengah dan Asia Selatan, nenek moyang kita menggantinya dengan santan kelapa—kearifan lokal yang melimpah di tanah air.
Tradisi ini mulai mengakar kuat sebagai menu “wajib” sejak era Kesultanan Islam di Jawa, seperti Kesultanan Demak dan Mataram (sekitar abad ke-15 hingga ke-17). Tradisi Slametan atau kenduri yang sebelumnya merupakan ritual masyarakat pra-Islam, diadaptasi menjadi perayaan syukur bernapaskan Islam. Daging Sapi dan Ayam — yang kala itu merupakan bahan pangan mewah, dimasak dengan santan tebal untuk menyajikan hidangan paling istimewa guna menyambut hari kemenangan.
Bakso: Pendobrak Hegemoni Opor dan Rendang
Di tengah kokohnya hegemoni hidangan bersantan yang kaya lemak, muncul sebuah fenomena menarik yang kini menjadi tradisi baru: Bakso. Pada hari kedua atau ketiga Lebaran, warung bakso dan gerobak keliling hampir dipastikan diserbu pembeli, sukses mendobrak dominasi Rendang dan Opor.
Mengapa Bakso bisa menjadi alternatif utama? Jawabannya terletak pada “kompromi lidah” dan kelelahan palet rasa (palate fatigue). Setelah berhari-hari lidah dan lambung dibombardir oleh hidangan bersantan yang berat, berlemak, dan memicu rasa eneg, tubuh secara alamiah menuntut penyegaran. Kuah Bakso yang bening, gurih kaldu yang ringan, dipadukan dengan sensasi pedas sambal serta asam segar dari jeruk nipis, memberikan efek cleansing (pembersihan) rasa yang sangat dibutuhkan oleh lidah.
Sejak Kapan Tren Ini Dimulai?
Bakso — merupakan produk akulturasi budaya; berasal dari tradisi Tionghoa (Bak-So berarti daging cincang) yang kemudian disesuaikan dengan syariat Islam Nusantara menggunakan daging sapi halal. Tren menjadikan bakso sebagai “pelarian” kuliner Lebaran diperkirakan mulai masif pada era 1980-an hingga 1990-an. Hal ini seiring dengan urbanisasi dan menjamurnya pedagang bakso keliling (terutama dari Wonogiri dan Malang) yang cerdik membaca peluang. Di saat pasar tradisional tutup dan asisten rumah tangga mudik, tukang bakso tetap berkeliling, menjadikannya opsi paling praktis dan menyegarkan bagi keluarga yang lelah memasak dan jenuh dengan menu santan.
Penanda Hari Kemenangan
Pada akhirnya, pergeseran selera ini bukanlah bentuk penolakan terhadap tradisi, melainkan evolusi yang memperkaya budaya kita — baik Opor Ayam yang kaya sejarah, Rendang yang padat filosofi, maupun semangkuk Bakso yang menyegarkan — semuanya telah melebur menjadi entitas yang tidak terpisahkan dari Idul Fitri.
Bagaimanapun juga, ragam olahan makanan tersebut hadir bukan sekadar untuk mengenyangkan perut — telah menjelma menjadi medium silaturahmi, penanda identitas budaya, serta pelengkap kebahagiaan di “Hari Kemenangan Islam”.
*Pengamat Masalah Sosial, Penikmat Kuliner Nusantara, dan Menetap di Surabaya
Editor: Dikara Meitri Pradipta Alkarisya
