Menyaksikan KARMA Nyata Donald Trump

Oleh: Toto Izul Fatah*

Saya tidak sedang menjadi juri untuk mempublish siapa pemenang perang antara Amerika Serikat dan Israel versus Iran. Karena peperangan, minimal sampai minggu pertama April 2026  — masih terus berlangsung. Meskipun, dari satu sisi, AS sebagai pembuat onar pertama, belakangan mulai memberi sinyal melunak. Sementara, disisi yang lain, Iran sebagai korban ambisi Donald Trump yang diserang pertama justru makin bersemangat menyerang.

Terlepas, siapa pemenangnya per hari ini yang pasti, perang keroyokan AS dan Israel ini  cukup membuka kedok yang menampar muka Donald Trump sebagai pemimpin dari negara yang katanya adi kuasa  — dan tidak mudah bagi Trump untuk menyembunyikan kegagalannya melawan Iran. Semua warga dunia menyaksikan jika Trump sulit menyembunyikan kekecewaannya. Apalagi, saat Trump harus menghadapi jutaan warganya yang mendemo dirinya.

Amerika dibawah kepemimpinan Trump memang harus membayar mahal perang melawan Iran ini. Terutama, karena belanja militer yang membengkak, defisit yang makin berat, harga energi yang memukul konsumen, ancaman resesi, kerugian peralatan tempur, dan tagihan jangka panjang yang belum seluruhnya terlihat hari ini. Semua itu pasti punya potensi besar yang berefek pada tibanya ajal politik Trump. Salah satunya sangat mungkin untuk dimakzulkan.

Memang, ada saat ketika salah satu bangsa begitu lama merasa dirinya terlalu besar untuk disentuh hukum besi Sejarah  — terlalu perkasa untuk dikalahkan. Terlalu kaya untuk dipermalukan — terlalu bersenjata untuk dipatahkan — dan  Amerika Serikat sudah terlalu lama hidup dalam kesadaran semu semacam itu. Mulai dari merasa dirinya hakim dunia, polisi dunia, sekaligus algojo dunia.

Di bawah Donald Trump, kesadaran semu itu bukan berkurang, melainkan tampil lebih telanjang, lebih kasar, dan lebih pongah. Trump bukan sekadar simbol politik Amerika — dia adalah wajah paling vulgar dari kesombongan imperium yang rakus, impulsif, gemar mengancam, dan nyaris tanpa empati terhadap harga manusia di luar kalkulasi kepentingan nasional Amerika.

Dalam eskalasi perang melawan Iran, Trump kembali mempertontonkan watak lama Washington, yaitu mengobarkan api dari jauh, lalu mengira kobaran itu hanya akan membakar lawannya. Padahal sejarah berulang kali mengajarkan, api perang tidak pernah tunduk sepenuhnya kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang merasa paling kuat.

Situasi mutakhir justru menunjukkan bahwa perang ini tidak bergerak sesuai fantasi kemenangan kilat Trump. Reuters dan AP melaporkan bahwa konflik AS-Iran telah memasuki minggu keenam, dua pesawat AS dilaporkan jatuh atau ditembak, satu awak masih hilang, dan tekanan terhadap Washington makin besar, baik secara militer maupun politik.

Reuters juga melaporkan bahwa mayoritas warga Amerika memandang perang ini dengan suram, dan dua pertiga responden dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos menginginkan penarikan cepat pasukan AS dari konflik tersebut. Dalam kontek inilah, kata KARMA buat AS dan Donald Trump sangat relevan. Bukan dalam arti mistik murahan, melainkan sebagai hukum moral-politik, siapa yang terlalu lama memelihara kesombongan, pada akhirnya akan dipermalukan oleh kesombongannya sendiri.

Siapa yang terlalu lama menjadikan perang sebagai industri, pada akhirnya akan dipukul oleh biaya perang itu sendiri — dan siapa yang terlalu lama menumpuk kekuasaan di atas penderitaan bangsa lain, lambat laun akan menyaksikan wibawanya bocor dari dalam.

Amerika sudah terlalu sering bermain sebagai sponsor kekacauan — dari Timur Tengah hingga berbagai belahan dunia lain, jejak intervensinya hampir selalu datang dengan bahasa mulia, yaitu demokrasi, stabilitas, perdamaian dan keamanan — tetapi, semua itu berujung  pada puing, pengungsian, trauma, dan ketergantungan.

Di bawah Trump, hipokrisi itu bahkan tidak lagi berselimut halus. Ancaman terhadap Iran disampaikan terang-terangan, termasuk ancaman menyerang infrastruktur sipil seperti jembatan dan pembangkit listrik, sesuatu yang oleh para ahli hukum dipersoalkan sebagai potensi pelanggaran serius hukum perang. Yang lebih ironis, justru dari perang ini dunia melihat sisi rapuh Amerika yang selama ini ditutupi oleh mitologi keperkasaan. Selat Hormuz tetap menjadi titik tekan Iran terhadap ekonomi global, dan Reuters melaporkan bahwa intelijen AS menilai Iran kecil kemungkinan akan segera melonggarkan cekikannya atas jalur vital itu.

Sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia melewati selat tersebut, sehingga perang ini bukan hanya soal rudal dan bom, melainkan juga soal betapa rentannya jantung ekonomi global ketika kesombongan geopolitik bertabrakan dengan realitas lapangan. Trump mungkin masih bisa berpidato keras. Dia mungkin masih bisa menggertak bahwa Amerika sanggup “menghajar sangat keras”, membuka Hormuz, atau mengakhiri perang dalam hitungan minggu — tetapi justru di situlah paradoksnya. Makin keras seorang penguasa mengumbar ancaman, makin terlihat bahwa dia sedang menutupi kenyataan, bahwa kemenangan tidak semudah slogan.

Contohnya, seperti dilaporkan Reuters, Trump pernah mengatakan, perang bisa diakhiri dalam dua sampai tiga pekan, namun hingga kini justru muncul tanda-tanda perang makin mahal, makin rumit, dan makin tidak populer di dalam negeri AS sendiri. Bila hari-hari ini Amerika mulai tersandung dalam perang yang dibangunnya sendiri, publik dunia tidak perlu terlalu sibuk berpura-pura terkejut. Ini bukan kecelakaan sejarah. Ini tagihan Sejarah — terlalu lama Washington merasa bahwa darah bangsa lain adalah ongkos yang sah untuk mempertahankan hegemoninya. Terlalu lama elite-elite Amerika memelihara ilusi bahwa teknologi militer bisa menggantikan kebijaksanaan moral. Terlalu lama mereka mengira superioritas senjata otomatis berarti superioritas peradaban. Padahal faktanya  tidak.

Bagi banyak bangsa yang selama ini hidup dalam bayang-bayang arogansi Amerika, apa yang menimpa Trump hari ini memang terasa seperti karma nyata. Bukan karena perang patut dirayakan sebagai penderitaan manusia, melainkan karena keretakan dalam tubuh kesombongan imperium adalah kabar penting bagi tata dunia yang lebih adil — karena itu, yang patut “dirayakan” bukan ledakan, kematian, atau nestapa sipil — yang layak disambut adalah mulai rontoknya mitos bahwa Amerika selalu benar, selalu menang, dan selalu berhak menentukan nasib bangsa lain sesuka hati.

Trump tampaknya ingin tampil sebagai jagoan dunia, tetapi justru berisiko dikenang sebagai presiden yang mempercepat ausnya pamor Amerika. Ketika perang membesar, biaya pertahanan melonjak, harga energi terguncang, legitimasi moral merosot, dan opini publik domestik memburuk, maka yang sedang terkikis bukan hanya posisi tawar Trump, tetapi juga aura adidaya Amerika itu sendiri.

Apakah ini awal kehancuran Amerika sebagai negara adidaya?  Bisa jadi iya, jika merujuk pada sejumlah indikator hari ini. Meskipun, mungkin, belum dalam arti runtuh seketika. Imperium besar jarang roboh dalam satu malam — biasanya lapuk pelan-pelan. Dari arogansi menuju overreach, dari overreach menuju kelelahan, dari kelelahan menuju delegitimasi, dan dari delegitimasi menuju kemunduran. Inilah pelajaran penting, khususnya buat Donald Trump, bahwa sejarah punya hukum besinya sendiri  — dan salah satu hukum besi ini sedang dalam proses menimpa Trump. Pelan tetapi pasti, diia sedang menuju jalan sunyi kehancuran melalui karma yang diterimanya.

Wajar jika mayoritas warga dunia merayakan karma ini, agar kasus Trump  menjadi cermin. Termasuk, cermin untuk menoleh ke belakang, bahwa jejak panjang kekaisaran yang besar-besar dan tangguh-tangguh itu, perlahan tapi pasti masuk ke lorong senjakala.  Salah satu contoh paling relevan adalah Romawi. Dan Amerika hari ini, dalam banyak hal, seperti sedang berjalan di ujung jejak Romawi.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *