Arab Saudi: Diantara Ka’bah dan Hidup Mewah

Oleh: Toto Izul Fatah*

Saya tidak sedang iri dan dengki kepada Arab Saudi —jika pun ada bagian dari tulisan ini yang kritis dan mengusik, mohon dipahami lebih sebagai pengingat diri,  bahwa di Saudi ada dua kota Suci, Mekah dan Madinah  — yang satu, Mekah, tempat lahir Nabi Muhammad SAW,  dan yang satu lagi, Madinah, tempat hijrah Nabi Muhammad SAW.

Lalu, apa hubungannya dengan Arab Saudi? Karena, dibawah Saudi lah kedua kota suci itu berada  — dan dalam pengawasan serta pengamanan Saudi lah kedua kota suci itu dijaga  — termasuk, menjaga kesucian tanah itu, yang bukan saja secara fisik tapi juga non fisik. Yakni, menjaga kedua kota itu dari aneka prilaku yang dapat mengotorinya.

Disinilah — ironi besar terjadi. Arab Saudi kini menjadi salah satu potret paradoks besar di dunia Islam. Di negeri tempat Ka’bah berada yang menjadi pusat Kiblat miliaran Muslim itu — justru menjadi kerajaan moderen yang agresif tampil dengan citra mewah dan gemerlap. Arab Saudi kini tampak  bersemangat membangun aneka proyek mewah bernilai fantastis, termasuk di dalamnya ada tempat hiburan dan pariwisata premium.

Reuters, misalnya, dalam laporannya menyebutkan — bahwa Arab Saudi di tengah citra religius yang terus dijual ke dunia Islam, tercatat membuka akses alkohol secara sangat terbatas bagi diplomat non-Muslim di Riyadh. Sementara program resmi Vision 2030 terus menempatkan pengalaman haji dan umrah dalam kerangka modernisasi, manajemen, dan target-target besar negara.  Dengan  citra seperti itulah, Arab Saudi kini seperti telah menjauhkan jarak yang lebar antara simbol kesucian dan watak kekuasaan. Di satu sisi, mereka memegang legitimasi sebagai penjaga dua kota suci, termasuk di dalamnya ada Ka’bah. Di sisi lain, mereka mengembangkan negara dalam logika pasar, reputasi global, hiburan, dan kenyamanan elite.  Ini bukan lagi sekadar kontradiksi. Ini adalah bentuk kemunafikan politik yang dipoles menjadi agenda modernisasi.

Maka pertanyaan pentingnya bukan pada adakah alkohol di Saudi, adakah pelacuran di balik hotel-hotel mewah, atau adakah elite yang hidup liar di belakang pagar istana. Pertanyaan yang jauh lebih besar adalah, apakah Saudi sedang berlindung di balik Ka’bah? Jawabannya, secara simbolik, iya. Sebab status sebagai penjaga Makkah dan Madinah memberi Saudi semacam mantel moral yang sangat tebal. Mantel itulah yang membuat banyak orang enggan mengkritik, sekalipun arah kekuasaannya makin menjauh dari semangat kezuhudan, keadilan, pengorbanan, dan keberpihakan kepada umat.

Ka’bah akhirnya bukan hanya rumah ibadah, tetapi juga modal legitimasi. Kesucian tidak lagi hadir sebagai tuntutan akhlak, melainkan sebagai tameng reputasi. Selama adzan masih berkumandang dari Masjidil Haram, selama jutaan orang masih datang berhaji dan berumrah, selama nama Makkah masih memancarkan getar spiritual yang dahsyat, maka kekuasaan Saudi seolah memperoleh bonus kepercayaan.

Mungkin, inilah yang bisa berbahaya, saat yang suci bisa diperalat untuk melindungi yang duniawi. Padahal, letak Ka’bah di Saudi tidak otomatis menyucikan politik istana Saudi. Kesucian geografis tidak identik dengan kesucian moral penguasa. Justru karena di sana berdiri Baitullah  — Saudi seharusnya menjadi teladan paling tinggi dalam hal amanah, kesederhanaan, keberanian moral, dan pembelaan terhadap martabat umat — tetapi yang tampak justru sebaliknya: negara yang sangat kaya, sangat bersenjata, sangat ambisius, tetapi terlalu sering tampak miskin keteladanan.

Mari kita lihat paradoksnya. Saudi adalah pembelanja militer terbesar di Timur Tengah pada 2024, sekitar US$80,3 miliar, dan tetap menjadi salah satu penerima utama ekspor senjata Amerika Serikat. Artinya, kerajaan ini tidak kekurangan uang untuk membeli perlindungan dan membangun daya gentar. Namun belanja militer yang besar itu tidak otomatis memancarkan keberanian moral atau kepemimpinan peradaban.

Di sinilah Arab Saudi telah kehilangan spirit “jihad’ nya dalam arti yang luas —  yaitu, jihad yang bukan dalam arti fisik saja, tetapi jihad dalam arti etos perjuangan melawan kerakusan, kemalasan moral, cinta dunia berlebihan, ketakutan kehilangan kenyamanan, dan keberpihakan pada kemewahan.

Dalam makna itulah,  Saudi tampak mengalami defisit serius — negeri yang terlalu lama hidup di atas limpahan minyak, istana, protokol, fasilitas, dan patronase global, pelan-pelan kehilangan etos pengorbanan. Ia bisa membeli senjata, tetapi belum tentu sanggup membeli keberanian. Ia bisa membangun menara, tetapi tidak otomatis bisa membangun jiwa.

Bahkan ketika rumor tentang “liberalisasi” sosial merebak, yakni soal prostitusi dan judi,  meski tidak dilegalkan, tapi ironi Saudi tidak hilang hanya karena dua hal itu yang belum dilegalkan itu. Sebab ironi utamanya bukan terletak pada pasal-pasal formal, melainkan pada arah kebudayaannya. Yakni, sebuah kerajaan yang ingin tetap dipuja sebagai pusat spiritual Islam, tetapi juga ingin sepenuhnya diterima sebagai showroom modernitas konsumtif.

Saudi tampak ingin memegang dua peran sekaligus, menjadi penjaga rumah suci, dan menjadi operator industri citra global. Menjadi simbol Islam, tetapi sekaligus menjual paket hiburan, prestige, dan kemewahan. Menjadi negeri dua tanah haram, tetapi dalam saat yang sama memoles monarki menjadi merek mewah abad ke-21. Kontradiksi ini mungkin bisa ditutupi dengan uang, media, dan diplomasi, tetapi tidak bisa selamanya disembunyikan dari nalar publik.

Saya tidak sedang mengeritik Kabah dan tanah suci. Itu dua fakta yang harus  diakui sebagai bagian yang wajib dijaga, dirawat  dan dipelihara kesucian dan kesakralannya. Karena disitu miliaran umat Islam berkiblat dan menunaikan rukun Islam ke-5. Tetapi, kita harus mampu membedakan antara kesucian Islam dan kepentingan rezim Saudi. Keduanya tidak selalu sama. Menghormati Ka’bah tidak berarti harus membebaskan istana Saudi dari kritik. Mencintai tanah suci tidak berarti merestui kemewahan politik yang bersembunyi di baliknya.  “Menjaga Tanah Suci YES, Menjual Kesucian NO”. “Menjaga Ka’bah YES, Memperalat Ka’bah NO”

*Toto Izul Fatah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *