Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*
Komunitas akademik Betawi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan entitas unik yang berada di persimpangan antara tradisi budaya lokal, keilmuan Islam, dan akademisi moderen. Pemikiran kritis ini akan menganalisis potensi dan kekuatan akademik-intelektual dosen Betawi di UIN Jakarta serta merumuskan strategi penggalangannya melalui pendekatan multidisipliner.
Dosen Betawi memiliki modal budaya, keagamaan, dan akademik yang khas namun belum optimal tergali. Hasilnya menunjukkan adanya disonansi antara kekayaan kultural yang dimiliki dengan sistem akademik yang cenderung homogen. Tulisan ini merekomendasikan Model Integrasi Tiga Porosyang menghubungkan keilmuan Islam, akademik moderen, dan kearifan Betawi, serta menawarkan kerangka kebijakan untuk penguatan peran dosen Betawi — sebagai intelektual organik yang menjembatani dunia akademik dengan realitas sosio-kultural masyarakat
Konteks dan Signifikansi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai institusi Pendidikan Tinggi Islam terkemuka di ibu kota Indonesia memiliki tanggung jawab ganda: mengembangkan keilmuan Islam yang relevan dengan konteks kekinian sekaligus merespons dinamika sosio-kultural masyarakat Jakarta yang multi-etnis. Dalam konstelasi akademiknya, terdapat kelompok dosen yang berasal dari etnis Betawi—komunitas asli Jakarta yang mengalami transformasi signifikan seiring modernisasi kota metropolitan. Kelompok ini menghadapi tantangan unik: di satu sisi sebagai intelektual Muslim dalam lembaga pendidikan tinggi bergengsi — di sisi lain sebagai penjaga identitas budaya lokal yang semakin tergusur.
Data menunjukkan bahwa dari jumlah 1.250 dosen UIN Jakarta — sekitar 4,8 perssen atau 60 orang merupakan etnis Betawi asli dengan pemahaman budaya dan bahasa yang mendalam. Meskipun secara kuantitas minoritas, posisi strategis mereka sebagai “penghubung kultural” antara institusi akademik dengan akar budaya lokal memiliki potensi besar yang belum optimal tergali. Problem mendasar yang diidentifikasi adalah kesenjangan epistemologis antara tradisi akademik moderen yang cenderung universal-abstrak dengan kekayaan pengetahuan lokal yang bersifat partikular-kontekstual.
Tulisan ini bertujuan untuk: (1) memetakan potensi dan kekuatan akademik-intelektual dosen Betawi UIN Jakarta, (2) menganalisis tantangan struktural-kultural dalam pengembangan potensi tersebut, (3) merumuskan model strategis penggalangan potensi yang integratif dan berkelanjutan. Kerangka Teoretis: Modalitas Akademik dalam Perspektif Kritis — Modal Budaya dan Kapital Akademik (Bourdieu). Konsep modal budaya Bourdieu menjelaskan bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan disposisi budaya dapat dikonversi menjadi kapital sosial dan simbolik dalam arena akademik. Dosen Betawi memiliki modal budaya lokal yang khas namun sering tidak terakui dalam ekosistem akademik yang didominasi standar universal.
Intelektual Organik (Gramsci) — Dosen Betawi berpotensi menjadi intelektual organik yang menghubungkan institusi akademik dengan realitas komunitas lokal, berperan dalam produksi pengetahuan yang relevan dengan konteks spesifik. Dekolonisasi Pengetahuan (Mignolo) — Perspektif dekolonial menekankan pentingnya mengangkat epistemologi lokal yang selama ini termarginalkan dalam arus utama pengetahuan akademik. Pendidikan Multikultural (Banks) — Model pendidikan multikultural Banks menawarkan kerangka untuk mengintegrasikan perspektif budaya lokal dalam kurikulum, pedagogi, dan penelitian.
Potensi dan Kekuatan Akademik- Intelektual: Tiga Modal Utama:Modal Budaya Lokal (Local Cultural Capital). a. Kearifan Lokal dan Keilmuan Islam — sistem nilai silaturahmi dan kekerabatan yang relevan dengan konsep ukhuwah Islamiyah, Tradisi ngaji pasaran dan pengajian keliling sebagai model pembelajaran komunitas. Filsafat hidup — Biar lambat asal selamat, jangan cepat-cepat ujungnya sesat yang sejalan dengan prinsip kehati-hatian ilmiah. Gotong royong akademik sebagai basis kolaborasi penelitian. b. Bahasa dan Ekspresi Kultural — kompetensi bilingual (Bahasa Indonesia akademik dan Bahasa Betawi sehari-hari) sebagai modal pedagogis. Idiom, peribahasa, dan metafora Betawi sebagai alat penjelasan konsep kompleks. Tradisi lisan (pantun, lenong, topeng Betawi) sebagai metode pengajaran alternatif. Modal Keagamaan (Religious Capital) — a. Islam Betawi: Sintesis Kreatif, Model Islam yang toleran, akomodatif, dan berdialog dengan budaya lokal, Tradisi keilmuan pesantren Betawi (seperti Pesantren As-Salafiyah, Tebet), Pendekatan fiqh yang kontekstual dengan realitas perkotaan Jakarta.
Jaringan Keulamaan
Koneksi dengan tradisi keulamaan Betawi seperti para Ulama dan Habaib Betawi. Integrasi tarekat dengan keilmuan formal, model dakwah kultural yang efektif di masyarakat urban. Modal Akademik Institusional — a. Posisi strategis di UIN Jakarta – Akses terhadap sumber daya akademik nasional dan internasional, jaringan dengan akademisi Muslim global, dan fasilitas penelitian yang memadai. b. Keahlian disipliner yang terdiversifikasi. Tersebar di berbagai fakultas: Syariah, Dakwah, Tarbiyah, Ushuluddin, Adab, Psikologi, Sains, Fisip,Kesmas. Kombinasi keilmuan Islam klasik dan ilmu sosial-humaniora moderen. c. Pengalaman Hidup Liminal — Pengalaman hidup di antara dunia tradisional dan moderen, kemampuan navigasi antara budaya lokal dan global, perspektif unik sebagai insider-outsider.
Tantangan dan Kendala
Analisis Multi-Level:Level Individual — beban ganda sebagai akademisi dan kulturalis, tekanan publikasi yang mengabaikan kajian lokal, keterbatasan waktu untuk pengembangan kapasitas kultural. Level Institusional — kurikulum yang terstandardisasi secara nasional, sistem reward yang belum mengakui karya berbasis lokalitas, infrastruktur penelitian yang kurang mendukung studi lokal.
Level Sosio-Kultural: Marginalisasi budaya Betawi di Jakarta yang semakin kosmopolitan, Stigma terhadap bahasa dan budaya Betawi sebagai kurang akademis, generasi muda Betawi yang semakin terputus dari akar budaya. Strategi Penggalangan Potensi: Model Integratif Tiga Poros, Poros Pertama: Institusionalisasi dan Kebijakan. a. Membentuk Asosiasi Dosen Betawi UIN Jakarta: Forum resmi untuk pengembangan kapasitas dan advokasi, program mentoring bagi dosen muda Betawi, database keahlian dan penelitian. b. Mengembangkan Kurikulum Responsif Budaya: Mata kuliah wajib “Budaya Betawi dan Islam” untuk semua fakultas, sertifikasi kompetensi budaya untuk dosen, dan Program studi Magister Islam dan Budaya Urban. c. Kebijakan Afirmatif Akademik — kuota penelitian tentang budaya Betawi, alokasi dana khusus untuk kajian lokal, dan rekognisi publikasi berbasis lokalitas.
Poros Kedua: Produksi dan Diseminasi Pengetahuan: a. Agenda Penelitian Strategis — Epistemologi Islam Betawi: Filsafat pengetahuan khas Betawi, Fiqh Urban: Hukum Islam dalam konteks perkotaan Jakarta, Dakwah Digital Berbasis Budaya: Strategi komunikasi Islam Kontemporer. b. Skema Publikasi Inovatif — Jurnal khusus Betawi Islamic Studies Journal, buku ajar berbahasa Betawi untuk pendidikan dasar, konten digital (podcast dan video) tentang Islam Betawi. c. Metodologi Penelitian Partisipatoris: Penelitian bersama dengan komunitas Betawi, Pendekatan community-based research. Model co-creation of knowledge.
Poros Ketiga: Jaringan dan Kolaborasi — a. Jejaring lokal, kemitraan dengan Lembaga Kebudayaan Betawi, kolaborasi dengan pesantren-pesantren Betawi, dan sinergi dengan sekolah dan madrasah di Jakarta. b. Jejaring nasional dan internasional: Kerja sama dengan perguruan tinggi lain yang memiliki fokus kajian lokal, Jejaring dengan akademisi diaspora Betawi, dan konferensi internasional tentang Islam dan budaya urban.
Studi Kasus: Inisiatif yang telah berjalan:1 Pusat Studi Betawi UIN Jakarta– didirikan 2018, telah menghasilkan: 7 penelitian tentang Islam dan budaya Betawi, Terjemahan al-Qur’an Bahasa Betawi (2022-2026), Modul pembelajaran bahasa Betawi untuk mahasiswa, dan kolaborasi dengan komunitas Betawi di Marunda dan Condet. 2. Mata Kuliah Pilihan “Budaya Betawi dan Islam –Diaplikasikan di Fakultas Adab sejak 2020, mengintegrasikan studi teks dengan observasi lapangan, – melibatkan praktisi budaya sebagai pengajar tamu.
Program Pengabdian Masyarakat — Pendampingan madrasah diniyah di komunitas Betawi, dokumentasi kearifan lokal dalam format digital, pelatihan guru dengan pendekatan kultural. Indikator Keberhasilan dan Monitoring: Indikator Output (Jangka Pendek: 1-2 tahun), terbentuknya asosiasi dosen Betawi, minimal 15 penelitian tentang Islam Betawi, mata kuliah baru yang terintegrasi budaya lokal. Indikator Outcome (Jangka Menengah: 3-5 tahun) — peningkatan jumlah publikasi dosen Betawi 75 persen, pengakuan nasional sebagai pusat studi Islam perkotaan, adopsi model pembelajaran berbasis budaya oleh fakultas lain. Indikator Impact (Jangka Panjang: 5-10 tahun). Lahirnya teori/pemikiran Islam Indonesia dari perspektif Betawi, Penguatan identitas budaya dalam pendidikan tinggi Islam, kontribusi pada kebijakan pembangunan Jakarta yang inklusif.
Rekomendasi Kebijakan: untuk Pimpinan UIN Jakarta — menyusun roadmap pengembangan studi lokal 2025-2035, mengalokasikan dana khusus untuk penelitian budaya Betawi, menetapkan kebijakan rekognisi karya berbasis lokalitas. Untuk Dosen Betawi: Membangun kesadaran kolektif sebagai intelektual organik, mengembangkan research yang unik, aktif dalam asosiasi ilmiah nasional-internasional, Untuk Pemerintah dan Stakeholder: Dukungan pendanaan dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, kemitraan dalam pelestarian budaya, dan kebijakan yang mendukung pendidikan multikultural.
Menuju Integrasi Transformasional
Dosen Betawi UIN Jakarta — bukan sekadar minoritas etnis dalam institusi akademik, melainkan agen pengetahuan hibrida yang menghubungkan tradisi dan modernitas, lokal dan global, agama dan budaya. Potensi mereka yang belum tergali secara optimal merupakan sumber daya strategis untuk mengembangkan model pendidikan tinggi Islam yang autentik, kontekstual, dan transformatif.
Penggalangan potensi ini memerlukan pergeseran paradigma dari pendekatan inklusif simbolik menuju transformasi struktural—bukan sekadar mengakomodasi perbedaan, tetapi menjadikan kekhasan lokal sebagai sumber epistemologi baru. Seperti filosofi Betawi, “ada gula ada semut” dengan menciptakan ekosistem yang mendukung, potensi yang ada akan berkembang secara organik.
Masa depan pendidikan tinggi Islam di Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuannya merespons kekhasan lokal tanpa kehilangan universalitas keislaman. Dosen Betawi UIN Jakarta, dengan posisi uniknya, dapat menjadi pionir dalam merumuskan sintesis kreatif antara keilmuan Islam, akademik moderen, dan kearifan lokal—sebuah kontribusi berharga tidak hanya untuk Jakarta, tetapi untuk pengembangan peradaban Islam yang kontekstual dan berkelanjutan.
*Profesor Sejarah dan Peradaban. Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
