Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
H. Kesimpulan: Kebenaran Tanpa Jelak atau Nama
Eksposisi teologis, mistik, dan praktis tentang Tauhid dalam kajian Ilmu Kalam menunjukkan pemahaman diskursif dari elit intelektual Muslim. Meskipun ekspresi diskursif Tauhid tentu berharga dan bermakna, mungkin lebih tepat untuk menyimpulkan pengetahuan Ilmu Kalam dengan sekilas ekspresi Tauhid yang populer, vernacular (asli tradisi islam), dan gnostik-devosional (olah spiritual).
Karena hakikat Tuhan dianggap tidak terpahami dan melampaui bahasa serta konsep manusia (transcendent). Tanzih (atau At-Tanzīh) adalah istilah teologi Islam yang berarti transendensi, yaitu keyakinan bahwa Allah (Tuhan) benar-benar murni, tidak terbatas, dan berbeda secara fundamental dari ciptaan-Nya, sehingga tidak dapat disamakan dengan apapun dalam makhluk-Nya, seperti firman-Nya, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya” (QS. Asy-Syura: 11).
Pendekatan Teologi apofatik (atau teologi negatif) adalah pendekatan Teologis yang memahami Tuhan dengan menjelaskan apa yang bukan Dia, karena hakikat Tuhan dianggap tidak terpahami dan melampaui bahasa serta konsep manusia (tanzih). Pendekatan ini menggunakan negasi (penyangkalan) untuk mendekati yang ilahi, berbeda dengan Teologi Katafatik (Positif) yang menggunakan afirmasi. Tujuannya adalah menyadari keterbatasan pemahaman manusia dan pengalaman Mistik tentang Tuhan, seringkali melalui keheningan dan penolakan deskripsi terbatas, seperti ungkapan “Tuhan itu tidak terbatas” berarti “Tuhan tidak terbatas”.
Ibnu ‘Arabi mengatakan Pengetahuan tertinggi adalah tidak tahu (The highest knowledge is not knowing). Esensi Tuhan (Dzāt) pada akhirnya tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh akal manusia. Usaha untuk mendefinisikan atau memahami sepenuhnya realitas ilahi akan selalu gagal. Mengakui ketidaktahuan kita di hadapan misteri eksistensi adalah bentuk pengetahuan yang paling mendalam dan bentuk kerendahan hati spiritual tertinggi. Lebih dalam Ibnu Arabi menjelaskan, Pengetahuan sejati bukanlah informasi yang dikumpulkan, tetapi pengalaman mistis atau pencerahan langsung (ma’rifat) yang melampaui kata-kata dan pemahaman konvensional.
Makalah ini akan ditutup dengan puisi popular dari Chishtī pīr Punjabi,_Khwāja Ghulām Farīd (wafat 1322/1904). Puisi-puisi Khwāja Ghulām masih populer dibacakan hingga saat ini di kalangan Muslim Asia Selatan dalam berbagai suasana ibadah dan, baru-baru ini, di saluran YouTube Coke Studio. Dalam puisi yang berjudul Ḥusn-i Ḥaqīqī_ (Kenyataan yang Agung), Khwāja berusaha menyapa Tuhan dengan cara yang paling sesuai dengan keagungan-Nya.
Dalam melakukannya, penyair mengulang seluruh kosakata Teologis dan mistik yang telah digunakan umat Muslim untuk menggambarkan tauhid selama Milenium terakhir. Pada akhirnya, setiap istilah teologis, doktrin mistik, dan julukan devosional yang diucapkan oleh Khwāja gagal menggambarkan Tuhan dan lenyap.
Umat Muslim telah berusaha untuk mengkonseptualisasikan Tuhan melalui berbagai artikulasi Tauhid, tetapi pada akhirnya, keesaan absolut Tuhan luput dari semua upaya konseptualisasi teologis. Oh! Keindahan Sejati (ḥusn-i ḥaqīqī), Cahaya Tanpa Awal (nūr-i azal)!
Apakah aku akan memanggilmu Yang Maha Mutlak, (Wajib) atau Yang Bersyarat-Mungkin’ (imkān)? Apakah aku akan memanggilmu ‘Pencipta’ (khāliq), ‘Esensi Diri Abadi’ (zāt-i qadīm)? Apakah aku akan memanggilmu ‘Peristiwa Baru’ (ḥādith)? Apakah aku akan memanggilmu ‘Ciptaan di Dunia Ini’ (khalq-i jahān)? Apakah aku akan memanggilmu ‘Eksistensi Murni Mutlak’ (muṭlaq mahḍ wujūd)?_
Apakah aku akan memanggilmu Dasrat, Bichhman,’ atau ‘Rām’ Apakah aku akan memanggilmu Sīntā, Kekasihku’? Apakah aku akan memanggilmu Mahā Dēwa? Haruskah aku memanggilmu Bhagwān?’ Bertobatlah sekarang, Farid, selamanya! Karena apa pun yang kukatakan masih kurang, Apakah aku memanggilmu yang suci (pāk alakh) dan manusiawi? Kebenaran (ḥaqq) tanpa jejak atau nama. (habis)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta
Editor: Jufri Alkatiri
