Pijarberita.com, Jakarta- Salah satu kekayaan seni budaya Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu Tarian Caci – ditampilkan pada Silaturahmi dan Presentasi Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis lalu. Penampilan tarian Caci itu dipimpin langsung Bupati Manggarai, Heribertus Geradus Laju Nabit.
Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, mengatakan, pers memiliki peran strategis tidak hanya dalam mengawal isu politik dan ekonomi, tetapi juga dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan nasional.
“Pembangunan kebudayaan harus dimulai dari daerah atau dalam bahasa Sosiologi, dari daerah peri-peri. Karena itu, silaturahmi dan presentasi ini penting, sebab proposal tertulis saja tidak cukup. Kemajuan budaya daerah akan sangat menentukan arah kebudayaan nasional,” katanya.
Dikatakan, silaturahmi dan presentasi ini menjadi tahapan penting menjelang penyerahan Trofi Abyakta pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan digelar di Banten, pada 9 Februari 2026.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, melalui sambutan yang dibacakan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Atal S. Depari, mengatakan, Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI bukan sekadar kegiatan seremoni
“Anugerah ini merupakan pengakuan moral dan historis atas peran kebudayaan sebagai jiwa bangsa. Ini juga bentuk apresiasi kepada para insan budaya dan para pemimpin daerah yang konsisten menjaga identitas Indonesia di tengah arus perubahan zaman,” kata Atal.
Menurutnya, kekuatan utama Indonesia justru terletak pada kekayaan budaya yang dimiliki dan telah diakui dunia, termasuk oleh UNESCO. “Dengan ribuan bahasa dan ragam tradisi, pembangunan yang berlandaskan kebudayaan adalah sebuah keharusan. Tanpa kebudayaan, pembangunan akan kehilangan arah, makna, dan identitas,” tambahnya.
Dalam pandangan tersebut, pers dinilai memiliki peran penting sebagai penjaga ingatan kolektif bangsa, ruang dialog kebudayaan, serta penghubung antara tradisi dan modernitas. Pers yang sehat adalah pers yang memberi ruang bagi kebudayaan untuk tumbuh, dikenal, dan dihargai publik.
Wakil Ketua Dewan Pers, Totok Suryanto, menilai wartawan memiliki kedekatan yang kuat dengan kebudayaan melalui tugas pencatatan sejarah, tradisi, dan dinamika sosial masyarakat. “Wartawan mencatat sejarah dan budaya. Dari catatan itulah nilai-nilai budaya dapat terus hidup. Ke depan, para pemimpin daerah diharapkan mampu mencatatkan dirinya sebagai pelindung dan penyelamat budaya yang kini mulai tergerus,” katanya.
Totok menambahkan, keberhasilan seorang wali kota, bupati, atau gubernur tidak hanya diukur dari capaian pembangunan fisik, tetapi juga dari komitmennya dalam melindungi dan melestarikan kebudayaan daerah. “Jika suatu daerah didominasi budaya asing, mulai dari makanan hingga pola interaksi sosial, maka budaya lokal bisa hilang dan hanya tersisa kenangan. Di sinilah pers harus hadir sebagai penjaga, pejuang, sekaligus tonggak kebudayaan bangsa,” ungkap Totok Suryanto, mantan jurnalis Liputan 6 SCTV Jakarta. (juf)
Editor: Jufri Alkatiri
