Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
I. Sketsa Peristiwa Isra’ Mi’raj
Di tengah peradaban masa lampau dimana sciences dan teknologi canggih belum terpikirkan, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan yang dapat dikatakan mustahil. Jarak yang ditempuh Nabi Muhammad SAW sangat jauh (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian naik ke langit) sehingga tidak ada ahli yang mampu mengukurnya.
Para Ilmuwan hanya mampu memperkirakan batas terjauh dari batas material alam semesta. Asumsi Jarak terjauh semesta yang tercatat dalam catatan para ahli kosmologi adalah sekitar 13,7 miliar tahun cahaya; dan pada saat yang sama, perjalanan Isra’ Miraj memecahkan rekor jarak terjauh yang pernah ditempuh manusia diatas permukaan Bumi. Yang lebih menarik adalah bahwa dalam perjalanan ke Masjidil Aqsa dan ke langit, keduanya melintasi wilayah asing, menyaksikan beberapa peristiwa, dan bertemu dengan Nabi terdahulu.
Dan ketika Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabatnya dan menyampaikan peristiwa yang telah dialaminya, hanya Abu Bakar yang langsung membenarkannya, sehingga dia mendapat gelar Al-Siddiq (orang yang selalu membenarkan).
Sekarang kita manusia yang hidup pada zaman dunia tanpa batas, di mana rahasia Kosmos terus terungkap di hadapan kita. Dari Teori String, Mekanika Kuantum, Relativitas, dan Model Multiverse telah merevolusi pemahaman kita tentang penciptaan itu sendiri.
Tidak ada waktu yang lebih baik untuk menguraikan Perjalanan Malam dan Kenaikan Nabi Muhammad (saw) yang menakjubkan; Selain dengan menggunakan alat fisika Relativistik dan Kuantum, kita sekarang berada dalam posisi untuk memahami hakikat Mi’raj, hakikat Kosmos, dan hakikat Nabi Muhammad (saw).
Mi’raj Nabi Muhammad SAW secara harfiah merupakan *\peresmian era ilmiah baru dan dalam kata-kata Maulana Fazlur Rahman Ansari, “Nabi Muhammad SAW bukan hanya Nabi Terakhir bagi Umat Manusia tetapi juga Perintis Era Ilmiah”.
Allah SWT menganugerahkan peristiwa Isra’ Mi’raj kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan di latar-belakangi; oleh cobaan hidup yang berat yang menimpa perjalanan da’wah Nabi. Pertama, masa berkabung selama setahun (‘am Al-Huzni) karena wafatnya istri tercintanya, Khadijah, dan pamannya, Abu Talib penopang utama da’wah Nabi. Kedua, tekanan embargo yang semakin kuat dari kaum Quraisy dan perlakuan kejam dari masyarakat Quraisy terhadap Nabi Muhammad SAW.
Perjalanan Isra’ dan Mi’raj sendiri terjadi pada malam Senin tanggal 27 Rajab pada tahun kesepuluh kerasulan Nabi Muhammad SAW. Diawali dari peristiwa pembersihan hati oleh malaikat Jibril, yang menghilangkan segala kengerian, iri hati, dan sifat buruk, kemudian memenuhi hati Nabi Muhammad SAW dengan iman dan kebijaksanaan, lalu dibawalah kendaraan Buraq. Di mana ketika Buraq melangkah, langkahnya sejauh mata memandang. Kemudian, Nabi Muhammad SAW menunggangi Buraq dari Mekah ke Baitul Maqdis, Palestina.
Kemudian dilanjutkan dengan Mi’raj, dengan dihadirkannya sebuah alat seperti tangga, yang memiliki anak tangga untuk naik ke atas langit. Nabi Muhammad SAW kemudian menaiki tangga ke langit terdekat, lalu ke langit berikutnya hingga mencapai langit ke-tujuh.
Di setiap lapisan langit, Nabi Muhammad SAW disambut oleh penghuni langit yang bermukim pada lapisan langit tersebut. Nabi Muhammad SAW mengucapkan salam kepada para Nabi di setiap langit sesuai dengan posisi dan tingkat mereka. Dari langit pertama, malaikat Jibril membawa Nabi Muhammad SAW ke langit kedua. Malaikat Jibril meminta agar pintu kedua langit ke-dua dibuka, di mana Nabi Yahya dan Nabi Isa menyambutnya. Dari langit ke-dua, malaikat Jibril membawa Nabi Muhammad SAW ke langit ke-tiga. Di langit ke-tiga, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan *Nabi Yusuf; di langit ke-empat, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Idris. Di langit ke-lima,Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Harun, kemudian Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa, yang pernah diajak bicara langsung oleh Allah di langit ke-enam, dan beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim di langit ke-tujuh; Nabi Muhammad SAW melihat Baitul Ma’mur dan Nabi Ibrahim, pembangun Ka’bah di bumi, bersandar di Baitul Ma’mur.
Nabi Muhammad SAW juga di perlihatkan surga dan neraka serta kondisi keadaan penghuninya. Kemudian, Nabi Muhammad SAW tiba di suatu tempat di mana beliau dapat mendengar suara Kalam. Yaitu, Kalam, yang mencatat takdir segala sesuatu. Beliau juga melihat Sidratul Muntaha, yang diliputi oleh perintah (set algoritma) Allah SWT seperti kupu-kupu emas yang tak terhitung jumlahnya dan berbagai warna; malaikat yang tak terhitung jumlahnya juga melingkupinya. Di tempat itu, Nabi Muhammad SAW melihat penampakan dan bentuk asli malaikat Jibril, yang memiliki 600 sayap dan satu sayap yang dapat menutupi Ufuq (ujung barat dan timur Bumi).
Dari Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW kemudian menuju ke ‘Arasy untuk menghadap Allah SWT sendirian tanpa ditemani siapa pun untuk menerima perintah Allah. Sesampainya di ‘Arasy, Nabi Muhammad SAW bersujud untuk berdoa kepada Allah SWT. Dimana pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Allah adalah sesuatu yang tidak dapat disketsakan.
Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan umatnya untuk mendirikan shalat 50 kali dalam sehari, hingga Allah Ta’ala memberikan keringanan menjadi 5 kali shalat (5 shalat harian) sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Shalat memiliki manfaat yang sangat besar bagi keagungan dan kebesaran. Shalat wajib 5 kali ini adalah perintah langsung yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW, bahkan tanpa mmelalui malaikat Jibril.
Hal ini menekankan status khusus dan hubungan langsung antara Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT, dan penekanan pentingnya shalat wajib. Dengan mengikuti perintah ini, umat Islam menunjukkan ketundukan dan pengabdian mereka kepada Allah SWT, mengakui otoritas tertinggi-Nya. Tindakan sujud melambangkan kerendahan hati dan penyerahan diri, mengingatkan individu akan tujuan akhir mereka dan kebutuhan untuk memenuhi kewajiban agama.
Setelah menerima perintah dari Allah SWT, Nabi Muhammad SAW berkumpul dengan saudara-saudaranya dari kalangan Nabi terdahulu. Para Nabi, menyaksikan keagungan dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW tampak jelas di atas mereka; oleh karena itu, beliau diusulkan sebagai pemimpin (imam) shalat para Nabi (Malaikat Jibril yang menunjukkan hal ini kepada para Nabi lainnya).
Kemudian, Nabi Muhammad SAW shalat bersama para Nabi setelah waktu salat Subuh tiba. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW meninggalkan Baitul Maqdis, menaiki Buraq, dan kembali ke Mekah sebelum matahari terbit. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta
Editor: Jufri Alkatiri
