Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
II. Struktur Dimensi Ruang dan Waktu dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
Ruang adalah alam tempat kita berada, sedangkan waktu adalah besaran yang berbeda dan terpisah dari ruang, dan berdiri sendiri. Isra’ dan Mi’raj, perjalanan malam yang ajaib dari Nabi Muhammad SAW, dapat dipahami dari perspektif ilmiah dalam hal dimensi ruang dan waktu. Isra’ merujuk pada perjalanan fisik dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, menunjukkan keterlibatan dimensi spasial. Mi’raj, kenaikan ke langit, terjadi pada malam hari, menyoroti dimensi temporal. Isra’ dan Mi’raj dapat dilihat sebagai perjalanan transenden yang melintasi dimensi ruang dan waktu, menandakan hubungan spiritual yang mendalam antara Nabi dan alam ilahi.
Langit pertama adalah ruang tiga dimensi yang memiliki lebar dan ketebalan dan dihuni oleh manusia. Segala sesuatu seperti Bumi, planet, tata surya, matahari, bintang, galaksi, dan semua bentuk rotasi yang kita amati berada di langit pertama atau langit dunia. Langit kedua adalah ruang empat dimensi yang dihuni oleh Jin dan makhluk empat dimensi lainnya. Langit ketiga adalah ruang lima dimensi yang dihuni oleh roh orang-orang yang telah meninggal. Langit keempat dan langit ketujuh memiliki karakteristik yang sama, terdiri dari langit sebelumnya dan seterusnya, hingga langit ketujuh, yang memiliki sembilan dimensi ruang.
Nabi melakukan perjalanan ke langit ketujuh, yang memiliki sembilan dimensi ruang. Ruang dengan dimensi yang lebih tinggi mengandung dimensi di bawahnya, seperti halnya volume tiga dimensi mengandung area dua dimensi. Area dua dimensi terdiri dari garis, dan garis terdiri dari titik-titik. Perjalanan malam Isra‘ dan Mi’raj membawa Nabi Muhammad SAW ke dimensi langit tertinggi, di mana beliau menyaksikan kerumitan berbagai peradaban.
Dalam keadaan yang tinggi ini, beliau dianugerahi penglihatan mendalam yang melampaui batasan ruang dan waktu. Kemampuannya untuk memahami masa lalu dan masa depan adalah hasil dari perjalanannya melampaui batas waktu.
Ketika Nabi Muhammad SAW naik ke langit ketujuh, beliau melampaui dimensi langit yang lebih rendah dan memasuki alam yang meliputi sembilan dimensi. Pengalaman luar biasa ini memungkinkan beliau memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang tidak tertandingi tentang alam semesta dan cara kerjanya.
Dari sudut pandang ini, beliau dapat melihat keterkaitan semua hal dan memahami rancangan agung penciptaan. Perjalanan Isra’ dan Mi’raj menganugerahi Nabi Muhammad SAW kemampuan untuk membaca masa lalu dan masa depan saat beliau melampaui batas waktu linear. Beliau menjadi saluran kebijaksanaan ilahi, menerima wahyu dan bimbingan yang akan membentuk jalannya sejarah manusia.
III. Interpretasi Al-Razi dalam Tafsir Mafatih al-Ghayb
Al-Razi, seorang ulama Islam terkemuka, memberikan kontribusi signifikan terhadap interpretasi Isra’ dan Mi’raj dengan menggunakan pendekatan fisika dan kosmologi untuk menjelaskan aspek logis dari perjalanan lintas dimensi alam. Dia mendalami pemahaman ilmiah tentang alam semesta dan prinsip-prinsipnya untuk menjelaskan kemungkinan terjadinya peristiwa mu’jizat tersebut.
Al-Razi berpendapat bahwa perjalanan Isra’ dan Mi’raj dapat dipahami melalui konsep dimensi yang lebih tinggi dan pembengkokan ruang-waktu. Dia mengusulkan bahwa Nabi Muhammad SAW melampaui batasan dunia tiga dimensi dan melintasi dimensi yang lebih tinggi, di mana hukum fisika sebagaimana yang kita pahami mungkin tidak berlaku.
Dijelaskan dari teori kosmologi, Al-Razi berspekulasi bahwa Perjalanan Nabi Muhammad SAW melibatkan melintasi lubang cacing atau menggunakan bentuk energi canggih untuk melakukan perjalanan melintasi jarak kosmik yang sangat luas. Beliau berpendapat bahwa alam surgawi yang dikunjungi selama Isra’ dan Mi’raj bukanlah lokasi fisik dalam pengertian konvensional, melainkan dimensi metafisik yang ada di luar persepsi kita.
Dalam penjelasan al-Razi tentang perbedaan pendapat mengenai sifat perjalanan Nabi Muhammad SAW, beliau menggunakan pendekatan fisika untuk memberikan pemahaman logis tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Beliau berpendapat bahwa pergerakan Bumi dari awal hingga akhir malam mencakup kira-kira setengah lingkaran, berdasarkan perhitungan geometris. Rasio antara satu diameter (garis melintang lingkaran) dan lingkaran itu sendiri adalah 1/3 dibandingkan dengan 1/7. Oleh karena itu, rasio antara jari-jari (setengah diameter) dan setengah lingkaran juga 1/3 dibandingkan dengan 1/7.
Mengenai jarak yang ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW selama perjalanannya dari Mekah ke Arasy di atas Bumi, al-Razi berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW hanya menempuh setengah diameter (satu jari-jari). Jika setengah lingkaran dapat ditempuh dalam waktu tertentu (pada malam hari), maka lebih masuk akal untuk menempuh setengah diameter (satu jari-jari) dalam jangka waktu yang sama.
Al-Razi juga mengusulkan bahwa tubuh fisik Nabi Muhammad SAW dapat mengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj dengan kecepatan tinggi. Dia merujuk pada teori geometri yang menyatakan bahwa keliling matahari setara dengan 160 kali ukuran Bumi. Dengan mengamati pergerakan matahari terbit dan terbenam yang cepat, al-Razi berpendapat bahwa gerakan cepat yang mencapai batasnya, seperti yang disebutkan dalam peristiwa tersebut, memang masuk akal.
Dengan menggabungkan penalaran ilmiah, al-Razi bertujuan untuk menyatukan kehebatan Isra’ dan Mi’raj dengan rasionalitas ilmu alam. Dia menekankan bahwa meskipun peristiwa tersebut mungkin tampak luar biasa, hal itu tidak bertentangan dengan hukum alam semesta, melainkan beroperasi dalam kerangka kerja yang melampaui pemahaman kita saat ini. Interpretasi Al-Razi menyoroti kesesuaian antara iman dan akal, menunjukkan bahwa peristiwa spiritual dapat didekati dari perspektif ilmiah tanpa mengurangi signifikansinya. Hal ini menjadi bukti kekayaan ilmu keislaman, yang mendorong eksplorasi intelektual dan harmonisasi keyakinan agama dengan pengetahuan empiris. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta
Editor: Jufri Alkatiri
