Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
VI. Dialektika Sciences; Isra’ Mi’raj Akan Terus Terjadi
Kita hidup di zaman yang istimewa, di mana rahasia Kosmos terus terungkap di hadapan kita. Teori String, Mekanika Kuantum, Relativitas, dan model Multiverse telah merevolusi pemahaman kita tentang penciptaan itu sendiri. Tidak ada waktu yang lebih baik untuk menguraikan Perjalanan Malam dan Kenaikan Nabi Muhammad SAW yang menakjubkan kecuali dengan menggunakan alat fisika Relativistik dan Kuantum.
Kita sekarang berada dalam posisi untuk memahami hakikat Mi’raj, hakikat Kosmos, dan hakikat Nabi Muhammad (saw) itu sendiri. Hal ini tidak mungkin dilakukan sebelumnya ketika fisika dan kosmologi masih dalam tahap awal. Para pendahulu kita harus puas dengan deskripsi simbolis tentang Mi’raj. Sebaliknya, kita berada di ambang revolusi baru dalam Sains ketika apa yang dianggap sebagai ranah teologi dan spiritualitas kini telah memasuki diskusi ilmiah.
Mi’raj Nabi Muhammad SAW secara harfiah merupakan peresmian era ilmiah baru dan dalam kata-kata Maulana Fazlur Rahman Ansari, “Nabi Muhammad SAW bukan hanya Nabi Terakhir bagi Umat Manusia tetapi juga Perintis Era Ilmiah”. Dan peristiwa Isra’ Mi’raj adalah representasi terbaik dari hal itu.
Nabi Muhammad SAW mengunjungi Yerusalem sebagaimana adanya di Alam Semesta Paralel menggunakan Energi Planck sebesar 1-2 Miliar Joule dari Buraq (Energi Petir). Beliau (Nabi SAW) dihadapkan pada berbagai pilihan selama perjalanannya, dan pilihan-pilihan beliau menentukan jalannya Sejarah. Dengan demikian, menunjukkan bahwa kosmos pada tingkat fundamentalnya bukanlah deterministik (blok materi padat yang independen dari kesadaran manusia) tetapi bersifat probabilistik.
Kombinasi terbaik antara pengetahuan Tuhan sebelumnya dan kehendak bebas manusia. Dengan demikian, Mi’raj menyelesaikan perdebatan ribuan tahun tentang bagaimana mendamaikan pengetahuan Tuhan sebelumnya dengan kehendak bebas kita. Misteri Fisika Kuantum Keadaan superposisi adalah keadaan di mana partikel dapat berada di tempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Apa yang berlaku untuk partikel seharusnya juga berlaku untuk fenomena makroskopis seperti manusia.
Nabi Muhammad SAW bertemu Musa (AS) dalam keadaan superposisi, pertama di kuburnya dekat Gunung Sinai, kemudian di Yerusalem, dan terakhir di alam semesta paralel. Surah An-Najm (Surah Bintang) memuat seluruh narasi Mi’raj. Allah Yang Maha Tinggi bersumpah demi sebuah bintang yang runtuh/mati, yang dalam Astrofisika moderen adalah Lubang Hitam, yakni; wilayah dengan kepadatan tidak terbatas dan portal ke alam semesta paralel lainnya.
Di pusatnya terdapat Singularitas (alam tanpa dimensi/tanpa waktu) yang dalam bahasa Arab disebut la makan la aman, inilah posisi Qaaba Qaosayni aow [maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)]. Beliau melihat masa depan kosmos (Big Crunch) dan kemudian Pengulangan seluruh proses penciptaan, para Nabi yang beliau temui di alam semesta paralel semuanya mewakili berbagai tahapan era moderen.
Teori relativitas yang diperkenalkan oleh Albert Einstein menggambarkan hubungan erat antara ruang dan waktu dalam suatu kesatuan yang disebut ruang-waktu. Dalam konteks ini, perjalanan Nabi Muhammad pada malam Isra’ dan Mi’raj dapat dianalisis dengan cara yang menarik, di mana konsep ruang dan waktu tidak lagi dipandang sebagai dua entitas terpisah tetapi sebagai satu kesatuan yang saling berinteraksi.
Penjelasan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana peristiwa luar biasa ini dapat terjadi dalam kerangka pemahaman ilmiah. Ketika kita berbicara tentang kemampuan untuk berada di tempat mana pun dalam ruang-waktu, kita mulai memahami bahwa perjalanan yang dialami Nabi Muhammad mungkin bukan sekadar pergerakan fisik dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi juga melibatkan dimensi eksistensi yang lebih dalam. Dari perspektif ini, perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian naik ke langit dapat dilihat sebagai perjalanan yang melampaui batas-batas ruang dan waktu yang biasa.
Teori relativitas menunjukkan bahwa ketika seseorang melakukan perjalanan dengan kecepatan mendekati atau bahkan melebihi kecepatan cahaya, seseorang dapat mengalami distorsi waktu. Jika seseorang melakukan perjalanan dengan kecepatan melebihi atau sama dengan kecepatan cahaya, maka secara teoritis, dia akan memasuki dimensi ruang-waktu yang lainnya.
Sederhananya, waktu dapat melambat atau bahkan berhenti bagi mereka yang melakukan perjalanan dengan kecepatan tersebut. Dalam konteks Isra’ dan Mi’raj, kita dapat membayangkan bagaimana Nabi Muhammad, dengan izin Allah, mampu melakukan perjalanan super luminal, yang memungkinkannya untuk melewati berbagai dimensi ruang dan waktu.
Hal ini juga menjelaskan bagaimana beliau mampu melihat ilusi atau gambar yang berkaitan dengan masa lalu dan sangat mungkin juga masa depan. Pengalaman Nabi Muhammad selama perjalanan ini tidak hanya bersifat fisik tetapi juga spiritual dan intelektual. Beliau tidak hanya melihat berbagai fenomena tetapi juga mampu berdiskusi dan berinteraksi dengan Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun beliau berada di luar batasan waktu dan ruang seperti yang kita pahami, kesadarannya tetap utuh.
Dalam hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad tidak hanya mengalami perjalanan secara fisik tetapi juga dengan kesadaran penuh, yang memungkinkan beliau untuk mengingat dan menceritakan kembali pengalaman tersebut kepada umatnya. Hubungan antara dunia manusia dan dunia Malaikat dalam pengalaman Isra’ dan Mi’raj menggambarkan relativitas waktu yang berbeda.
Di dunia manusia, waktu berjalan dengan cara tertentu, tetapi di dimensi Malaikat, waktu dapat berfungsi dengan cara yang sama sekali berbeda. Dengan demikian, pengalaman Nabi dapat dipahami dalam kerangka waktu yang lebih fleksibel, di mana hukum fisika biasa tidak mengikat perjalanan dan penglihatannya tentang berbagai fenomena.
Pendekatan Al-Razi terhadap komentar Mafatih al-Ghayb menambahkan dimensi baru pada pemahaman ini. Al-Razi menggunakan fisika dan kosmologi untuk menjelaskan aspek logis dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj. Dengan mengusulkan bahwa Nabi Muhammad melampaui batasan dunia tiga dimensi dan memasuki dimensi yang lebih tinggi, Al-Razi menunjukkan bagaimana hukum fisika, sebagaimana kita pahami, mungkin tidak berlaku pada tingkat itu.
Dia menghubungkan perjalanan Nabi dengan konsep lubang cacing dan energi canggih, yang memungkinkan perjalanan melintasi jarak kosmik yang sangat luas. Al-Razi juga menawarkan pemahaman geometris tentang perjalanan Nabi, di mana dia menggunakan perhitungan untuk menunjukkan bahwa perjalanan dari Mekah ke Arsy tidak hanya mungkin tetapi juga logis berdasarkan pergerakan Bumi dan waktu malam.
Dengan menjelaskan bahwa Nabi Muhammad dapat mengalami Isra’ dan Mi’raj dengan kecepatan yang sangat tinggi, Al-Razi menekankan bahwa peristiwa luar biasa ini tidak bertentangan dengan hukum alam tetapi beroperasi dalam kerangka kerja yang melampaui pemahaman kita saat ini. Lebih lanjut, gagasan ruang-waktu yang terlipat memberikan wawasan tambahan tentang bagaimana kita dapat memahami perjalanan spiritual dan pengalaman transendental. Ketika kita membayangkan bahwa ruang dan waktu dapat dilipat, kita mulai melihat kemungkinan bahwa perjalanan spiritual dapat membawa kita ke dimensi lain yang melampaui pemahaman kita tentang realitas.
Hal ini sejalan dengan pandangan Nasr bahwa untuk memahami pengalaman eksistensial, kita perlu mengintegrasikan pemahaman ilmiah dengan perspektif spiritual. Nasr menyarankan bahwa spiritualitas, yang berakar pada tradisi dan ajaran Metafisika, dapat memberikan kerangka kerja yang lebih luas yang mengakui keberadaan realitas yang lebih tinggi di luar alam fisik. Dia menawarkan wawasan tentang hakikat jiwa, tujuan hidup, dan keterkaitan semua hal. Dengan mengintegrasikan perspektif spiritual dan metafisik ke dalam penyelidikan ilmiah, Nasr percaya bahwa pemahaman yang lebih holistik dan bermakna tentang alam semesta dapat muncul.
Spiritualitas metafisik dapat memainkan peran penting sebagai penghubung antara sains moderen dan kepercayaan metafisik. Spiritualitas bertindak sebagai jembatan, memungkinkan individu untuk menavigasi antara temuan empiris sains dan kebenaran mendalam yang diungkapkan melalui kepercayaan metafisik.
Hal ini mendorong dialog antara keduanya tentang alam semesta, menumbuhkan apresiasi yang lebih dalam terhadap misteri eksistensi dan mempromosikan integrasi harmonis antara pengetahuan ilmiah dan kebijaksanaan spiritual.
Perjalanan Isra’ dan Mi’raj bukan hanya peristiwa fisik yang terjadi dalam satu malam, tetapi merupakan manifestasi dari interaksi kompleks antara ruang, waktu, dan kesadaran. Pemahaman ini tidak hanya memperkaya pengalaman spiritual kita tetapi juga membuka ruang untuk dialog antara iman dan sains, memungkinkan kita untuk menggali lebih dalam makna dari peristiwa luar biasa ini. Dengan demikian, kita diingatkan akan kekuatan Tuhan di luar batas apa yang dapat kita pahami sambil mendorong kita untuk terus mencari pemahaman yang lebih dalam tentang eksistensi dan realitas.
VII. Kesimpulan
Berdasarkan Al-Qur’an, Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang benar-benar nyata dan factual, namun, peristiwa ini tidak dapat dijelaskan secara empiris karena bersifat supranatural. Sains moderen berfokus pada pemahaman alam semesta melalui pengamatan dan eksperimen. Namun, sains moderen juga memiliki keterbatasan. Sains moderen tidak dapat menjelaskan hal-hal transenden, seperti keberadaan Tuhan, makna kehidupan, atau tujuan alam semesta.
Pada dasarnya, setiap teori ini saling terkait, tetapi tidak ada yang mengklaim teori mana yang paling benar karena para ahli menggunakan setiap teori ini untuk membantu memberikan pemahaman rasional tentang peristiwa tersebut.
Isra’ Mi’raj lebih menekankan pada penalaran iman. Hasil penelitian ilmiah merupakan jembatan menuju penalaran rasional manusia yang terbatas. Jika penelitian ilmiah biasanya perlu diuji berulang kali, Isra’ Mi’raj hanya terjadi sekali dalam sejarah. Ini dianggap sebagai mukjizat dari Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dari apa yang tampak mustahil menjadi mungkin karena kekuasaan Allah yang tak terbatas.
Isra’ Mi’raj tidak dapat dipahami sebagai perjalanan di ruang dan waktu menggunakan pemahaman empat dimensi kita. Pasti ada dimensi lain di luar dimensi yang kita ketahui. Tujuan utama peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah untuk mengumpulkan tata cara shalat fardhu lima waktu setiap hari. Namun, ada beberapa tujuan lain, seperti agar Nabi Muhammad SAW dapat melihat beberapa tanda kebesaran Allah SWT di alam semesta seperti dalam ayat Al-Quran Linurayahu min Ayatina. (habis)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta
Editor: Jufri Alkatiri
