Renungan Dino Jemuwah : Kosmologi Eling Lan Waspada (bag-4)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

Pengetahuan tentang Nama-Nama (Wa’alama Adama asma-a kullaha)

Teologi Islam umumnya menyebut makhluk sebagai perbuatan” (af`âl) Tuhan. Ibn Arabi menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan ini tidak lain adalah “jejak” (atsar)  dari nama-nama Tuhan,  Vestigial Dei — tetapi bagaimana dengan nama-nama Ilahi itu sendiri? Apa sebenarnya nama-nama itu? Ibn Arabi menulis bahwa ketika kita berbicara tentang nama nama (ism)– baik kita berbicara tentang Tuhan atau makhluk – kita berbicara tentang “sesuatu yang muncul dari jejak, atau sesuatu yang darinya jejak itu muncul” (al-Futuhat al Makkiyya). Jadi sekali lagi, sebuah nama, seperti kata-kata lain, adalah “potongan” atau “artikulasi” dalam jalinan dasar Keberadaan Universal/Semesta.

Sumber utama dari semua nama dan semua realitas tentu saja adalah Diri Tuhan itu sendiri, yang disebut Esensi  (dzât). Dalam Diri-Nya, Tuhan mengetahui segala sesuatu yang akan muncul di alam semesta untuk selama-lamanya, karena segala sesuatu hanyalah jejak dari pengetahuan-Nya tentang Esensi-Nya, yang merupakan Keberadaan yang Tak Terbatas dan Mutlak.

Jadi, Allah tidak hanya mengetahui nama-nama-Nya sendiri, tetapi juga nama-nama segala sesuatu. Jika Dia menyebut diri-Nya dengan banyak nama baik dalam Al-Quran maupun dalam kitab suci lainnya, itu karena jejak nama-nama tersebut sangat beragam.  Seperti yang dikatakan Ibnu Arabi, “Allah menjadikan nama-nama Ilahi banyak hanya karena keragaman jejak yang terwujud dalam makhluk ciptaan(al-Futuhat al Makkiyya). Maka, dari sudut pandang tertentu, nama-nama Ilahi adalah jejak dari semua sifat dan kualitas Ilahi yang terwujud dalam ciptaan.

Allah menyebut diri-Nya sendiri berdasarkan makhluk ciptaan, yang pada akhirnya hanyalah kata-kata yang Dia ucapkan.  Di dalam makhluk ciptaan, kualitas tertentu dapat dibedakan, dan ini hanya dapat berupa kualitas Pencipta mereka, Dia yang mengucapkan kata-kata tersebut. Kata-kata tersebut tidak mengungkapkan apa pun selain Sang Pembicara.

Sang Pembicara Ilahi mengungkapkan diri-Nya melalui ucapan-Nya sebagai Maha Pengasih, Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Berbicara, dan seterusnya dalam daftar yang disebut “sembilan puluh sembilan nama” Allah. Semua nama, baik nama Tuhan maupun nama ciptaan, pada akhirnya hanyalah jejak dari Hakikat Ilahi, yang merupakan Diri Sejati yang Mutlak dan Tidak Terbatas.

Dalam Diri-Nya Sendiri, Hakikat itu tanpa jejak dan tidak dapat diketahui oleh siapa pun kecuali Diri-Nya Sendiri — meskipun demikian, manusia telah diberi kemampuan untuk mengetahui semua nama – semua jejak yang ditunjukkan oleh Hakikat, jejak yang tidak lain adalah semua hal yang dapat ada.

Kemahatahuan potensial inilah yang membedakan manusia dari semua makhluk lain.Ketika Nabi mengulangi pernyataan Alkitab,  “Allah menciptakan Adam menurut gambar-Nya sendiri”,_ beliau tentu mengingat fakta bahwa Allah telah memberi Adam pengetahuan tentang segala sesuatu.  Al-Quran secara eksplisit menyatakan hal ini: “Dia mengajarkan Adam nama-nama itu, semuanya”(QS. al-Baqarah/2:31).

Ibn Arabi menunjukkan bahwa justru nama-nama itulah yang memungkinkan eling/dzikir. Ini berlaku tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk Tuhan.  Al-Quran sering kali menghubungkan dzikir kepada Tuhan, seperti dalam ayat, “Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu”(QS. al-Baqarah/2:152).  Tuhan, pada akhirnya, mengetahui segala sesuatu melalui “nama-nama” mereka, yang tidak lain adalah jejak-jejak mereka dalam kemahatahuan-Nya sendiri, jejak-jejak yang umumnya disebut “esensi” atau “entitas”.

Ibn Arabi menulis:

Adam lebih unggul daripada para Malaikat hanya karena dia mencakup pengetahuan tentang nama-nama. Sebab, jika bukan karena nama-nama, Tuhan tidak akan mengingat apa pun, dan tidak ada yang akan mengingat Tuhan.  Jadi, Tuhan hanya mengingat melalui nama-nama, dan Dia diingat dan dipuji hanya melalui nama-nama (al-Futuhat al Makkiyya). Sederhananya, ciri khas manusia adalah pengetahuan tentang semua nama, yang merupakan jejak-jejak sifat Ilahi, atau jejak-jejak Esensi Ilahi itu sendiri.

Dalam tindakan penciptaan saat yang kekal, Tuhan menyuarakan nama-nama, dan nama-nama ini muncul sebagai makhluk dalam Nafas Yang Maha Pengasih.  Deretan makhluk yang tak terbatas selain manusia adalah firman khusus Tuhan. Setiap makhluk memiliki “pemahaman” tertentu tentang Tuhan, tetapi hanya dalam hal nama atau nama-nama yang membedakannya dari semua hal lain yang bernama.    Hanya manusia yang diajari semua nama, sehingga ia setara dengan semua makhluk.

Di alam semesta secara keseluruhan, nama-nama tersebut sangat beragam, tetapi dalam citra Ilahi hadir pada diri manusia, nama-nama tersebut disatukan dalam sebuah ringkasan yang menyeluruh. Adam menerima pengetahuan menyeluruh tentang nama-nama ketika Tuhan mengajarkannya kepadanya, dan dia mampu mengetahui semua nama justru karena ia diciptakan menurut gambar Tuhan, yang mengetahui dan mengucapkan segala sesuatu.

Sejatinya, Adam mengetahui dan memahami nama-nama tersebut dengan mengenal dirinya sendiri, yang diciptakan menurut gambar Tuhan. Pengetahuan semacam ini tidak datang melalui perantara pemikiran diskursif, tetapi langsung dari hakikat segala sesuatu. Dengan demikian, dalam bagian berikut, Ibn Arabi menyebutnya dengan ungkapan Sufi untuk pengetahuan tanpa perantara, “mencicipi” (atau “kebijaksanaan” atau intuisi spiritual dalam arti etimologis:  dzawq_ atau cita rasa).

Dia menulis: Tuhan mengajarkan Adam semua nama dari hakikat Adam sendiri melalui pencicipan, karena Dia menampakkan Diri-Nya kepadanya secara keseluruhan.  Tidak ada nama yang tersisa di Hadirat Ilahi yang tidak terwujud bagi Adam dari dirinya sendiri. Dari hakikatnya sendiri ia mengenal semua nama Penciptanya (al-Futuhat al Makkiyya). (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *