Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
Selayang Pandang Dasar Rujukan
Malam Qadar (malam ketetapan), salah satu Transformasi dalam ruang yang telah memikat umat manusia sejak zaman dahulu kala, sebagai subjek abadi penyelidikan filosofis, eksplorasi ilmiah, dan kontemplasi religius. Dalam tradisi Islam dan Sufi, misteri waktu dan ruang memiliki makna yang mendalam yang menegaskan kemahakuasaan dan transendensi Allah Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta Ilahi, yang mengatur alam semesta dan mengatur aliran waktu dan luasnya ruang.
Al-Qur’an, kitab suci Islam, penuh dengan ayat-ayat tentang kedaulatan ilahi atas waktu dan ruang yang mengajak umat beriman untuk merenungkan keagungan penciptaan dan sifat fana dari keberadaan duniawi. Tradisi Sufi melampaui penyelidikan intelektual, mengeksplorasi waktu/time dan ruang/space (T dan S) melalui pengalaman spiritual menuju persatuan dengan Yang Ilahi (Shamsuddin, 2020) menantang pemahaman konvensional dengan mengeksplorasi kejadian-kejadian ajaibnya bersumber dari ayat-ayat al-Qur’an.
Pendekatan yang lebih literal mengutip catatan sejarah dan bukti tekstual untuk mendukung terjadinya fenomena supranatural dalam tradisi Islam [bersumber dari para sufi; al-Ghazali, Abdul Qadir al-Jilani, ibnu Arabi dll). Fisikawan revolusioner mengajukan asumsi yang menantang seputar waktu dan ruang [Einstein, Hawking , Brian Greene), para pemikir berpengaruh mengeksplorasi paralel antara teori kuantum dan mistisisme (Sheldrake, 2012), karena para guru Sufi membentuk metafisika mistik, dan keadaan kesadaran yang berubah mengungkapkan pengalaman mistik di bawah pengalaman parapsikologis dan paparan transpersonal yang mengintegrasikan pengungkapan mistik.
Menurut Sufisme Islam, orang-orang shalih diberi kekuatan oleh Allah Yang Maha Kuasa sehingga mereka dapat memanipulasi Waktu dan Ruang sesuai keinginan mereka, karena individu-individu terhormat (salik) tidak terikat oleh batasan waktu.
Para mistikus (sufi) yang dihormati menjelaskan bahwa di seluruh kosmos, ada satu agen yang tidak sadar (unconsciousness) yang melaluinya setiap fluktuasi alam gaib dan nyata membedakan makna yang lain, terlepas dari fluktuasi ini yang terjadi di ujung yang berlawanan dari alam semesta. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa kontemplasi dan fokus mengungkap keterkaitan seluruh eksistensi, memfasilitasi kebangkitan spiritual dan melampaui batas T dan S, mirip dengan tindakan dalam keadaan mimpi.
Menurut studi kasus dalam meditasi atau ‘itikaf kesadaran manusia dapat melampaui keterbatasan fisik, mengakses tingkat kesadaran yang lebih tinggi untuk mengendalikan indra mereka sendiri dan orang lain, yang termanifestasi di berbagai tempat secara bersamaan. Sebuah “jiwa” dapat diartikan sebagai +VE (positif) sementara tubuh adalah -VE (negatif) dan kita dapat mengubah sebanyak mungkin hal positif dari hal negatif sesuai keinginan kita.
Dalam Hinduisme, konsep Lila atau permainan ilahi mengeksplorasi interaksi halus antara dewa, manusia, dan kekuatan kosmik untuk mengungkapkan sifat dinamis realitas. Demikian pula, dalam mistisisme Kristen, gagasan “kairos”, atau “waktu Ilahi”, menawarkan wawasan tentang kejadian ajaib yang melampaui batasan “temporal” biasa (Smith, 1969), “dimensi mistik” ruang dan persatuan ekstatis dengan Yang Ilahi yang menentang gagasan konvensional tentang bilokasi.
Tradisi Timur seperti Buddhisme dan Taoisme mengeksplorasi keajaiban T dan S melalui praktik spiritual, seperti yang tercermin dalam “Tao Te Ching” dan “Sutra Teratai” untuk melampaui konsep dualistik menuju pencarian realisasi spiritual universal.
Interpretasi Spasial (keruangan)
Tarikan gravitasi Bumi adalah alasan mengapa manusia bernapas; kehidupan yang ditopang oleh keinginan gravitasi, tanpanya, keberadaan manusia, hewan, benda mati, dan tumbuhan tidak akan mungkin terjadi kecuali beberapa entitas yang tidak terpengaruh oleh gravitasi Bumi. Sebagai analogi, delusi, pikiran, penyesalan, dan proses kognitif lainnya tidak terkait dengan tarikan gravitasi Bumi.
Misalnya, seseorang tertidur, namun tarikan gravitasi terus memengaruhinya; namun, pikirannya bebas dari pengaruh ini. Mereka bermimpi, membuat kesalahan, merenung, dan menempuh jarak yang sangat jauh dalam hitungan detik. Sensasi yang dialami selama keadaan ini, dan ingatan selanjutnya dalam memori, terjadi sama jelasnya seperti saat terjaga. Identitas manusia sebagian besar dikacaukan dengan sekadar proses biologis yang bernapas, yang pada dasarnya didefinisikan oleh kesadaran: pikiran, refleksi, dan perhatian.
Indra memang menentukan kehidupan manusia, dan hal ini penting baik di darat maupun di luar angkasa, sangat penting untuk menyadari bahwa manusia bebas dari gravitasi Bumi, jika mereka terikat oleh gravitasi Bumi, mereka tidak akan pernah mati dan tetap abadi. Di alam spiritual, ruang tidak terbatas pada kekosongan, meresap ke mana-mana, di dalam segala sesuatu dan tidak ada yang dapat eksis terpisah darinya.
Istaghna dan Taqwa
Prinsip untuk melampaui “Ruang”: Setiap entitas yang memiliki dimensi atau ciri dianggap sebagai ruang. Kita dapat memahaminya sebagai segala sesuatu selain hakikat Allah Yang Maha Kuasa adalah ruang karena segala sesuatu memiliki bentuk atau rupa, baik itu ilusi maupun pikiran. Hanya Allah yang tidak berdimensi.
Oleh karena itu, hanya ada satu cara untuk melampaui ruang, sebagaimana yang diarahkan oleh para wali yang saleh (semoga Allah meridai mereka), dan itu adalah dengan mencapai kemandirian (Istaghna) dengan tetap penuh kesadaran akan ketaatan dan kesiapan diri bertemu Tuhan (Taqwa). Selain kemandirian, tidak ada jalan lain yang dapat membawa kita keluar dari ruang.
Istaghna mengacu pada pencapaian keadaan kemandirian atau swasembada yang sempurna, khususnya dalam hal spiritual, yang melibatkan pembebasan diri dari ketergantungan pada harta benda dan keinginan duniawi, dan sebaliknya, hanya bergantung pada Allah untuk semua kebutuhan dan petunjuk. Istaghna dicapai melalui hubungan yang mendalam, kepercayaan yang teguh pada rezeki Allah, dan pelepasan dari keterikatan duniawi, sedangkan “Taqwa” dapat dipahami sebagai menolak setiap pikiran dan hanya memusatkan diri pada mengingat Allah, menjadikan pikiran dan perhatian seseorang berpusat pada Zat-Nya. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta
Editor: Jufri Alkatiri
