Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*
Setiap 01 Muharam, Indonesia tidak pernah sunyi– tetapi sunyinya beda-beda. Di Betawi ada bubur Asyura. Di Aceh ada Kenduri Apam. Di Bengkulu ada prosesi Tabot. Di Madura ada sedekah laut. Di pesantren Jawa ada puasa Tasu’a-Asyura. Satu Kalender– seribu cara merayakan. Itulah Tradisi Muharam Muslim Indonesia. 1448 H mengajak kita membaca– kenapa keberagaman ini justru kekuatan, bukan perpecahan?
Muharam itu bulan haram– artinya bulan suci tetapi umat Islam Indonesia tidak berhenti di suci. Kita isi dengan memori. Memori Karbala di Tabot Bengkulu. Memori Nabi Musa selamat dari Firaun di puasa Asyura. Memori hijrah Nabi ke Madinah di Tabligh Akbar 01 Muharam. Para Antropolog menyesebut memori kolektif– cara salah satu bangsa mengingat sejarah agar tidak lupa jati diri.
Kontekstualisasi 1448 H, bangsa yang lupa sejarah sama dengan bangsa yang mudah dipecah. Lihat media sosial, sedikit-sedikit saling mengkafirkan karena beda tradisi. Padahal nenek moyang kita beda tradisi tetapi satu tujuan, mendekat ke Allah– karenanya Islam menolak “seragam tetapi kosong”. Islam menerima “ragam tetapi satu ruh”. Ruhnya: hijrah dari kebodohan ke ilmu, dari individual ke kolektif, dari konflik ke damai.
Bubur, Tabot, Kenduri: Dakwah Kultural yang Membumi
Walisongo sukses Islamkan Nusantara — bukan pakai Pedang tetapi pakai Gamelan, Wayang, dan selametan. Muharam pun sama. Betawi pakai bubur Asyura untuk ajarkan berbagi. Anak yatim dapat porsi lebih, pelajaran keadilan. Aceh pakai Apam untuk ajarkan gotong royong. Tabot Bengkulu pakai arak-arakan untuk ajarkan cinta Ahlul Bait. Ini dakwah kultural– masuk lewat rasa, bukan lewat vonis. Orang awam tidak butuh debat usul fikih dulu—mereka butuh merasakan Islam itu indah, Islam itu peduli.
Kontekstualisasi 1448 H: Dakwah hari ini sering “keras di Medsos, sepi di gang”. Komentar pedas jago. Turun ke warga bingung. Tradisi Muharam mengingatkan: dakwah efektif itu yang “kenyang perut dulu, baru kenyang ilmu”. Bagi bubur dulu, baru ngaji. Usap kepala yatim dulu, baru ceramah. Itu Sunnah Nabi– beliau kasih Kurma ke anak sebelum ajarkan Tauhid.
Setiap tradisi punya dua risiko: 1. Mati karena dianggap bid’ah, 2. Rusak karena penuh takhayul. Muharam rawan dua-duanya. Ada yang bilang “bubur Asyura bid’ah, buang”. Ada juga yang bilang “bubur 7 warna biar dagangan laris”. Dua-duanya melenceng. Kaidah Islam berkemajuan: al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah. Jaga tradisi baik, ambil cara baru yang lebih maslahat. Artinya: 1. Jaga ruhnya: berbagi, empati, kenang hijrah. Ini qadim shalih — harus dijaga. 2. Perbarui caranya– data yatim pakai aplikasi. Donasi pakai QRIS transparan. Ceramah Asyura streaming biar anak muda nonton. Ini jadid ashlah— harus diambil.
Tabot tidak harus berhenti tetapi narasi Tabot bisa diupgrade– dari sekadar arak-arakan, ke festival literasi Karbala, pelajaran melawan zalim. Bubur Asyura tidak harus dihapus–tetapi resepnya bisa diperkaya gizi untuk lawan stunting.
Tahun 1448 H– Satu Indonesia Satu Hijrah. Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah, dari kota tunggal ke kota majemuk. Di Madinah ada Muslim, Yahudi, Nasrani, dan Musyrik. Nabi bikin Piagam Madinah: semua warga negara, semua punya hak– semua tanggung jawab jaga kota. Itu cermin Indonesia hari ini. Kita beda suku, beda tradisi Muharam, tetapi satu tanah air– Satu Indonesia.
Jadi refleksi 1448 H– jangan tanya tradisimu bid’ah atau tidak– tanya tradisimu bikin umat makin peduli yatim atau tidak? Bikin kampung makin rukun atau tidak? Bikin anak muda makin cinta Islam atau tidak?” Kalau jawabannya iya– maka bubur Suro, Tabot, Apam, Tahlilan Asyura – semua itu ibadah– karena Islam datang bukan untuk memotong budaya, tetapi menyucikan budaya. Selamat 01 Muharam 1448 H. Semoga bubur kita makin banyak– hati kita makin lapang, dan Indonesia makin damai. Wallahu a’lam bishshawab.
*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
