Tionghoa di Indonesia, Apa Salahnya?

Oleh Renville Almatsier*

Bagaimana rasanya kalau Anda yang lahir di bumi Indonesia —  keluarga kakek sampai nenek pun sehari-hari berbahasa Indonesia atau bahasa daerah, tetapi status Anda masih tetap saja dipermasalahkan ? Ini kejadian di tanah air kita. Ada tiga kawan. Si Polan, kulitnya coklat gelap. Lahir di Takengon, ibu-bapaknya Aceh asli. Kakek leluhurnya entah dari mana, Polan mengaku orang Indonesia tulen. Fine..Si Bejo lahir di Kebumen dari bapak dan ibu serta kakek asal Jawa. Sekarang tinggal di Bintaro, dia dikenal sebagai warga Indonesia. No problem. Saya sendiri, meski lahir di desa kecil di Sumatera, ibu-bapak dari daerah  berbeda, sangat pede — saya bangsa Indonesia asli. Padahal saya tidak tidak tahu asal-usul dua generasi kakek moyang saya terdahulu. Mungkin mereka datang dari Hadramaut, atau Mongolia, atau bisa juga dari Cordoba. Buat apa saya pikirin? Toh tidak ada yang bisa menggugat, saya orang Indonesia pribumi asli.

Ada teman lain  — yang ketiga, Eeng, lahir di Bandung. Ayah, ibu dan kakek neneknya juga asal Jawa Barat bahkan logat bahasanya sehari-hati medok Sunda banget tetapi kulitnya kuning pucat karena konon leluhurnya berasal dari China Tiongkok. Sudah sejelas itu latar belakangnya, tetapi sampai kini Eeng masih saja dipersulit dalam banyak hal. Berurusan dengan Pemerintah, selalu membuatnya was-was. Dia sering diperlakukan sebagai warga kelas dua. Kemana-mana harus bawa SBKRI (surat bukti kewarganegaraan RI)  — tanpa surat itu tidak mungkin dia jadi sarjana dari perguruan tinggi negeri seperti sekarang ini.

Begitulah gambaran  yang menggelitik pikiran saya ketika hadir dalam peluncuran buku dan diskusi bertajuk sama, “Politik Tionghoa Peranakan di Jawa”.  Diselenggarakan oleh KOMPAS Institute, minggu lalu, selain penulisnya Prof Leo Suryadinata, hadir pula dua pakar panelis. Dari buku-buku sejarah  kita tahu bahwa keturunan Cina sudah berada di negeri ini sejak ratusan tahun yang lalu — kebanyakan menetap di pantai utara Jawa — yang datang biasanya laki-laki dan kemudian kawin dengan wanita setempat. Keturunan mereka membentuk masyarakat yang mantap yaitu masyarakat Tionghoa peranakan sebelum perang. Masyarakat ini kemudian menyendiri — karena perkawinan campuran  dengan wanita pribumi, terbentuklah orang Tionghoa peranakan  di antara mereka sendiri.

Menjelang akhir Abad XIX — hanya sejumlah kecil Tionghoa yang menjadi petani  — mereka kebanyakan terdiri dari pedagang dan karyawan suku Hokkien.  Pada awal Abad XX berlangsung pergolakan politik di Negara China, ketika itulah berdatangan orang Tionghoa yang kemudian disebut “totok” yang artinya berdarah murni asing. Orang Tionghoa peranakan menyebut mereka  singkeh. Menurut Prof Suryadinata  — para pendatang baru ini terdiri dari berbagai golongan yang masih berbicara bahasa China dan berkumpul sesuai bahasa masing-masing. Ikatan mereka dengan Negara China masih dekat.

Kalau orang Tionghoa peranakan umumnya berorientasi ke Hindia Belanda/Indonesia  — mereka mempersatukan diri dan cenderung menyamakan diri dengan daerah dari suku Indonesia tempat kelahiran  dan tinggal mereka. Tidak dengan Provinsi di China. Dalam contoh di atas, itulah kawan saya Si Eeng.

Kemudian datang masa pergerakan kemerdekaan — ternyata warga keturunan ini juga banyak berpartisipasi dalam perjuangan, termasuk menjadi anggota Volksraad. Bung Karno  dalam pidatonya di tahun 1963, mengatakan peranakan adalah  salah satu kaki daripada satu tubuh,  tubuh bangsa Indonesia. Jelas Soekarno menganggap peranakan Tionghoa merupakan salah satu suku Indonesia.(hal. 205). 

Pada masa Orde Baru  — tiga pilar kebudayaan Tionghoa yaitu organisasi, pers, dan sekolah Tionghoa, dilarang. Sesudah Orde Baru ada puluhan partai baru, dua di antaranya berdasarkan etnis Tionghoa. Sejak itu — kita melihat berkurangnya kegiatan warga keturunan ini  — ttidak saja di bidang politik. Saya yang masuk generasi baby boomers dan gandrung olahraga pernah punya idola seperti “si Macan Bola” Liong Houw, Kiat Sek, dan Sian Liong dalam sepak bola. Tan Joe Hok di bulutangkis. Ada Tonny Na yang judoka serta banyak lagi di cabang-cabang lain  — sekarang saya merasa kehilangan.

Mengikuti diskusi dalam  acara KOMPAS  itu, saya mau tidak mau terlibat jauh memikirkan mengapa saudara-saudara kita keturunan Tionghoa ini masih tersisih atau disisihkan dalam kehidupan sehari-hari. Tokoh-tokoh keturunan yang lantang dan independen yang saya kenal, yaa cuma Yap Thiam Hien,  Soe Hok Gie, dan abangnya Arief Budiman. Kini mungkin ada Ahok — bagaimana mereka yang lain ?

Kini kondisi sudah banyak berubah meskipun sikap kita, pada umumnya belum  — sampai sekarang saudara-saudara kita warga keturunan ini selalu was-was jadi pecundang setiap kali terjadi demo atau kerusuhan. Kebanyakan teman-teman generasi saya, demi masa depan, menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri.  Boro-boro berbahasa daerah orang tuanya — apalagi menjiwai perjuangan kebangsaan Indonesia — mereka kini berfikiran global  — dan makin jauh dari tanah air Indonesia.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, kemana orang-orang Tionghoa bisa mengaku dan memilih tanah airnya? Coba tempatkan posisi mereka pada diri Anda. Bukan salah Bunda mengandung, siapa yang bisa memilih mau lahir dimana? Mereka lahir di Indonesia.

*Jurnalis Senior dan Pegiat Pekerja Sosial

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *